UTAMA | PONTIANAK | KRIMINAL | DAERAH

UTAMA

Minggu, 07 Agustus 2022 11:28
Cerita Masyarakat yang Hidup Berdampingan dengan Sungai Kapuas
TEPIAN SUNGAI: Anak-anak tepian Sungai Kapuas sudah terbiasa bercengkrama langsung dengan air, sehingga harus memiliki kemampuan untuk berenang. HARYADI/PONTIANAKPOST

Pandai berenang dinilai banyak orang menjadi salah satu keharusan bagi warga yang tinggal di pinggiran sungai, termasuk Sungai Kapuas. Bahkan sejak dulu, ada semacam peraturan tak tertulis di kalangan masyarakat tepian sungai, untuk wajib mengajarkan anak-anak mereka berenang bahkan sejak usia balita.

Ashri Isnaini, Pontianak 

RINTIK hujan baru saja teduh, waktu menunjukkan sekitar pukul 15.30 WIB, Sabtu (23/7). Air Sungai Kapuas mulai pasang, beberapa anak laki-laki usia sekolah dasar mulai tampak berkumpul mendekati tepian sungai, untuk bermain dan berenang. Beberapa ibu rumah tangga juga tampak mencuci baju dan mandi, sembari sesekali memantau anak-anaknya bermain di Sungai.

Meski Sungai Kapuas mulai terkontaminasi dengan sampah rumah tangga, namun beberapa warga tepian sungai masih menggunakannya untuk beraktivitas. Seperti terlihat di tepian sungai di Gang Madrasah, Kelurahan Banjar Serasan, Kecamatan Pontianak Timur, setiap pagi dan sore. Banyak anak-anak di sekitar kawasan ini lebih suka mandi di tepian Sungai. Saat air pasang, mereka tampak berlomba-lomba melompat ke sungai dari gertak kayu yang dibangun di tepian Sungai Kapuas. Bahkan anak-anak tersebut tak segan untuk melepas sebagian pakaiannya, agar bisa benar-benar menikmati sejuknya air di sungai.

“Berenang di sungai ini, ‘mang ‘dah biase buat kamek same budak-budak sinik. Kalau pagi kan harus sekolah, jadi mandiknye ndak bise lamak-lamak. Jadi waktu sore harilah yang kamek gunekan untuk mandik sekaligus berenang dan main same kawan-kawan,” ucap Bagas (12) dengan logat Melayu usai berenang bersama teman-temannya.

Bagas sendiri mengaku sejak masih duduk di Taman Kanak-kanak sudah diajarkan orang tuanya berenang. Bahkan kerap kali meskipun belum terlalu pandai, dirinya berani bermain di sungai tanpa ditemani orang tuanya. “Ndak ade cara khusus untuk belajar berenang ni, pas emak sedang cuci baju di sungai, kamek ikot maen jak di tepi bawah gertak sungai tu, sambil nerpak satu tiang ke tiang lain di jalan gertak sungai. Lama kelamaan bisa dengan sendirinya,” ujarnya.

Meski tidak menguasai teknik berenang yang baik, namun bagi Bagas bisa berenang dengan  mengapung saja sudah cukup. Lantaran bisa membuatnya lebih leluasa untuk bermain di sungai bersama teman-temannya.

Hal senada juga diutarakan Bashir (13). Dia mengaku sejak kelas satu sekolah dasar (SD), secara tak langsung sudah diajak orang tuanya belajar berenang. “Pertama-tama belajar renangnya diawasi dulu sama orang tua dan sepupu, setelah bisa sedikit-sedikit lalu belajar sendiri lah, dan akhirnya bisa,” ujarnya.

Melihat ada bakat renang yang dimilikinya, membuat Bashir sejak kelas II SD mulai dilirik beberapa pelatih renang Kota Pontianak dan diajak untuk gabung ke klub renang. Dengan kegigihannya berlatih membuat sulung dari tiga bersaudara ini pun sempat meraih sejumlah medali dibeberapa event cabang olahraga renang, baik di tingkat Kota Pontianak dan Kalbar sejak 2019 lalu. “Bersyukurlah dari hobi akhirnya bisa jadi prestasi, tapi memang harus belajar lebih giat lagi kalau memang mau jadi atlet renang yang lebih baik,” ujarnya.

Sembari mencuci baju, Nuraini (58) mengaku sebagian besar masyarakat di sekitar Sungai Kapuas memang bisa berenang, lantaran sejak kecil sudah diajarkan orang tuanya. “Kalau anak sudah tau berenang, orang tua tidak bimbang lagi jika sewaktu-waktu anak-anak ini main ke sungai,” ujarnya.

Kata Nuraini, banyak cara orang tua mengajarkan anak-anak mereka berenang. Ada yang dilempar begitu saja ke sungai, ada yang dibiarkan saja mandi dan belajar sendiri sembari bermain dengan teman-temannya. “Kalau saya waktu masih kecil dulu karena cengeng dan banyak takutnya, jadi mungkin bapak saya risau, sempat juga dilemparkan begitu saja ke sungai. Tapi dari kejadian itu membuat saya akhirnya berani, kemudian sering belajar sendiri menerpa tiang-tiang jalan gertak di dalam air tu akhirnya bisalah berenang,” ungkapnya.

Nuraini menceritakan sekitar tahun 1970-an Sungai Kapuas tidak terlalu luas karena belum terjadi abrasi. Kala itu, ketika transportasi di Sungai Kapuas seperti sampan masih terbatas, membuat banyak anak-anak di kampungnya yang bersekolah di seberang sungai seperti di SMP Islamiyah yang terletak di Jalan Imam Bonjol, Kelurahan Bansir Laut, Kecamatan Pontianak Tenggara, nekat berenang untuk kembali ke rumah. “Dulu tu waktu ibu masih kecil, kalau pas sampan lagi sepi, beberapa kawan di kampung ini nekat nyeberang sungai dengan berenang untuk pulang ke rumah. Biasanya anak laki-laki yang berani berenang nyeberangi sungai itu. Bersyukur, karena semuanya memang bisa berenang jadi tidak khawatirlah orang tuanya dan Alhamdulillah aman-aman saja mereka menyeberangi sungainya,” kenangnya.

 

Secara terpisah, warga Gang Nusa Karya Kelurahan Parit Mayor, Kecamatan Pontianak Timur, Sabli (56) melihat, lantaran berdomisili di tepian sungai membuat masyarakat setempat mengharuskan diri dan keluarga bisa berenang. “Setidaknya dengan bisa berenang, warga merasa lebih amanlah ketika sewaktu-waktu ada musibah jatuh di sungai atau sejenisnya, jadi mereka bisa menyelamatkan diri. Makanya sejak dulu hampir semua masyarakat tepian sungai ini bisa berenang. Di sisi lain, karena hari-hari tinggalnya di tepian sungai, secara alami mereka bisa beradaptasi  untuk bisa berenang, sehingga merasa lebih aman ketika harus hidup berdampingan dengan sungai,” ungkapnya.

Pria yang sejak tahun 1990-an sudah mejadi pelatih renang ini menilai secara umum masyarakat pinggiran sungai belajar berenang secara otodidak. Kalaupun ada anak yang ditemani atau diajari berenang oleh orang tuanya, kata dia, hanya sebatas seperti memantau dari kejauahan. “Orang tua saya saja dulu tidak terlalu peduli dan khawatir saat saya bermain di sungai, tapi karena ikut-ikutan teman jadi saya belajar sendiri. Akhirnya saya bisa berenang juga dengan sendirinya,” ungkapnya.

Sabli menceritakan ketika masih remaja dirinya bersama teman sebayanya pernah menyeberangi Sungai Kapuas dengan jarak sekitar 500 meter. “Dulu saya nilai sungainya tidak seluas (selebar, Red) seperti sekarang, jadi masih amanlah. Ketika air pasang, saya bersama beberapa teman memberanikan diri berenang di Sungai Kapuas ini bolak-balik, seru rasanya dan ada kepuasan ketika bisa menyeberangi sungai kala itu,” ungkapnya.

Terlepas dari kenangan masa lalunya ketika belajar berenang, bagi Sabli, yang terpenting dari bisa berenang bagi masyarakat, khususnya yang tinggal di pinggiran sungai yakni untuk menjaga diri jika sewaktu-waktu terjadi musibah seperti air pasang dan sejenisnya. “Kita tidak tau kapan musibah akan terjadi, karenanya tidak salah, jika kita memiliki kemampuan berenang untuk berjaga-jaga dan semoga saja kita semua selalu dilindungi Allah Subhanahu wata’ala dalam setiap langkah,” pungkasnya. (*)

 

 

 

 

loading...

BACA JUGA

Senin, 31 Agustus 2015 00:39

Ini Penyebab Mantan Kadispenda Kalbar Tewas

<p>SAMBAS-RK. Kecelakaan maut di Jalan Raya Parit Baru, Desa Parit Baru, Kecamatan Salatiga, Sambas,…

Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers