UTAMA | PONTIANAK | KRIMINAL | DAERAH

UTAMA

Senin, 25 Juli 2022 13:00
Desa Sungkung Kabupaten Bengkayang, Bertahan dalam Keterisoliran
MEDAN BERAT: Warga sedang melintasi jalan yang menghubungkan antara kampung Pool, Senutul dan Desa Sungkung, Kecamatan Siding, Bengkayang, menggunakan sepeda motor. Kondisi jalan yang rusak dan beralur membuat warga kesulitan saat melintasinya. (ARIEF NUGROHO/PONTIANAK POST)

Apa yang terlintas dalam benak Anda ketika mendengar kata Sungkung? Sungkung adalah sebuah nama daerah terpencil di perbatasan Indonesia-Malaysia. Tepatnya di Kecamatan Siding, Bengkayang. Bertahun-tahun masyarakat di sana hidup dalam keterisoliran. Tidak ada jalan apalagi sinyal.

Arief Nugroho, Sungkung

Suara mesin motor yang saya kendarai meraung saat melewati tanjakan berlumpur  di Dusun Senutul, Desa Suruh Tembawang, Kecamatan Entikong, Kabupaten Sanggau, Kamis (23/6). 

Hari itu, saya dan seorang teman, Viktor Fidelis Sentosa akan mengujungi Desa Sungkung melalui jalur Entikong.

Sebenarnya, ada tiga rute atau akses jalan yang bisa dilalui untuk menuju desa itu, yakni melalui Kecamatan Jagoibabang di Kabupaten Bengkayang, Kabupaten Landak atau melalui desa Suruh Tembawang, Kecamatan Entikong di Kabupaten Sanggau.

Rute terakhir yang kemudian menjadi pilihan kami. Mengingat, warga Sungkung banyak menggunakan akses jalan itu, untuk menjual hasil bumi atau berbelanja memenuhi kebutuhan keseharian mereka.

Selain jalur darat, bisa juga menggunakan trasnportasi air, dengan menyusuri Sungai Sekayam. Tentunya harus menyewa perahu motor dengan biaya antara Rp3 juta hingga Rp3,5 juta sekali jalan.

Matahari berada tepat di atas kepala saat kami tiba di Desa Suruh Tembawang. Rencana awal saya memang akan mengendarai motor trail yang sebelumnya sudah saya persiapkan. Sedangkan Viktor, akan menyewa ojek, karena barang yang kami bawa cukup banyak dan berat. Terutama kamera dan perlengkapan lainnya.

Di Suruh Tembawang, kami bertemu dengan pak Gak, warga lokal yang kemudian bersedia mengantar kami dan meminjamkan satu unit motor lagi untuk mengangkut barang bawaan. Sehingga total ada tiga kendaraan.

Tidak mau berlama-lama, kami pun bergegas memindahkan barang ke motor tersebut. Sementara saya tetap pada pendirian, untuk mengendarai motor sendiri.

“Kita berangkat. Takutnya sore nanti hujan turun,” kata pak Gak mengajak kami bergegas.

Maklum, cuaca di Kalimantan Barat sering berubah-ubah.

Setelah berberes, kami pun berangkat. Beberapa menit meninggalkan  tempat itu, kami harus dihadapkan dengan jalan tanjakan yang cukup tinggi dengan kemiringan 50 drajat. Parahnya, jalan itu beralur menyerupai parit.

Kacau, jalan yang kami lalui di luar ekspektasi saya. Selama ini saya mengira, jika jalan menuju Sungkung memang rusak. Tapi nyatanya lebih dari yang saya bayangkan.

Dalam hati, saya begumam, “Ini sih tak layak disebut jalan”.

Untuk bisa melewati jalan itu, perlu skill atau keahlian berkendara dan tentunya juga dibarengi dengan nyali besar. Selain beralur, jalan itu juga banyak tanjakan dan turunan. Kita harus tepat memposisikan motor ke jalur itu. Jika tidak, fatal akibatnya.

Saya pun mulai berfikir. Jika saya bertahan dengan motor trail, maka akan memperburuk keadaan. Maklum, motor yang saya kendarai berkapasitas besar dan berat. Saya pun putuskan untuk menukar motor dengan Viktor. Dia menggunakan trail, dan saya menggunakan motor bebek milik Pak Gak, serta membawa barang bawaan. 

Setelah bersusah payah melewati jalan itu, kami pun tiba di Dusun Pool, Desa Suruh Tembawang. Di dusun itu kami menyempatkan singgah, sembari melepas lelah.

Beberapa menit kemudian, kami melanjutkan perjalanan menuju Dusun Senutul. Akses jalan antar kampung Pool dan Senutul sedikit lebih baik. Walaupun ada beberapa titik dalam kondisi rusak berlumpur, namun sebagian sudah dibangun rapat beton.

Meski demikian, kami tidak boleh lengah dan tetap berhati-hati. Karena jalan cukup licin. Apalagi ban motor kami dipenuhi lumpur.

Tiba di Dusun Senutul, kami putuskan melanjutkan perjalanan menuju Sungkung. Hari semakin gelap. Langit yang sebelumnya cerah berwana biru tampak diselimuti awan tebal menghitam.

Jalan Senutul menuju Desa Sungkung jauh lebih berat dibandingkan kondisi jalan sebelumnya. Alur jalan yang dalam dan bertebing membuat saya kesulitan melewatinya. Apalagi motor yang saya kendarai masih standar. Hanya ban saja yang sudah diganti menjadi ban cangkul atau ban trail.

Setiap kali melewati jalan itu, saya harus menaikan kaki. Menapaki dinding atau tebing jalan. Bisa dibayangkan, betapa repotnya.

Selain alur yang dalam, jalan itu terdapat tanjakan yang tinggi dan panjang. Orang-orang menyebutnya dengan tajakan Pluntan. Butuh bantuan orang lain untuk bisa melewati tanjakan itu.

Sementara motor trail yang dikendarai Viktor mengalami kendala. Mesin motor tiba-tiba mati dan tidak mau distarter kembali.

Saya teringat pesan salah satu rekan saya. “Kalau lewat tanjakan Pluntan, jangan gantung kopling. Nanti kampasnya terbakar,” katanya melalui pesan WhatsApp sebelum kami berangkat.

Saya pun mengiyakan pesan tersebut.

Hari semakin gelap. Kami harus berkejaran dengan waktu. Kami pun putuskan untuk meninggalkan motor itu di sana. Jujur, saya sudah putus asa. Ingin rasanya pulang dan tidak melanjutkan perjalanan ke Sungkung.

Namun, nasi sudah menjadi bubur. Perjalanan pulang, sama jauhnya. Akhirnya kami melanjutkan perjalanan dengan dua motor yang tersisa.

Setelah menempuh perjalanan kurang lebih lima jam, kami pun tiba di Dusun Batu Ampar, Desa Sungkung III. Hari sudah mapir gelap saat kami tiba di sana. Tak lama setelah itu hujan pun turun.

“Untung kita sudah sampai. Kalau tidak bisa kehujanan di jalan,” ujar pak Gak.

Kami pun putuskan untuk bermalam di dusun itu sebelum melanjutkan perjalanan ke desa lainnya.

Secara umum, Desa Sungkung tidak jauh berbeda dengan desa-desa di pedalaman Kalimantan Barat lainnya.

Namun yang membuat saya terkesan dan merasa desa ini istimewa karena penduduknya mampu bertahan mesti tidak memiliki akses jalan. Bertahun-tahun mereka hidup dalam keterisoliran.

Berdasarkan data kependudukan, Desa Sungkung III dihuni sekitar 263 kepala keluarga (KK), atau sekitar 1.100 jiwa. Mayoritas penduduknya bermatapencaharian sebagai petani atau ladang beripindah dan perkebunan.

Salah satu komoditas unggulan mereka adalah sahang atau lada.

Pagi itu, warga terlihat sibuk dengan aktivitasnya masing-masing. Ada yang nemebas rumput, menjemur pagi, ada pula yang menjemur lada. Seperti yang dilakukan Alis dan istrinya. 

Alis merupakan petani lada. Ia sendiri miliki sekitar 500 pohon lada yang ditanam di ladang miliknya.

Menurut Alis, selain lada, komoditas lain adalah karet. Hanya saja harga karet anjlok, sehingga warga memilih untuk menebang pohon karetnya dan digunakan untuk kayu bakar.

“Di sini karet harganya murah. Satu kilogram dihargai Rp5.000. Belum lagi ongkos ojek, Rp4.000 per kilonya,” kata Alis.

Sedangkan untuk harga lada putih, berada di kisaran Rp.60.000 hingga Rp.80.000.

Kendati demikian, warga Dusun Batu Ampar, Desa Sungkung III, masih kesulitan untuk menjual hasil buminya. Keterbatasan infastruktur jalan dan akses yamg memadahi menjadi salah satu faktornya.

“Kalau mau jual sahang ya harus menyewa ojek motor, atau membawa sendiri ke kota. Yang paling dekat ya Entikong atau ke Malaysia lewat jalan tikus,” kata dia.

Menurut Alis, itu pun tidak bisa membawa banyak barang. Rata-rata hanya mampu membawa 20-50 kg saja.

Sedangkan untuk menuju kota lain, seperti Jagoibabang, aksesnya masih cukup sulit dan jalannya rusak. Padahal, jika melewati jalur Jagoibabang, bisa mempersingkat waktu dan jarak  tempuh.

Selain tidak adanya akses jalan, Desa Sungkung III juga masih belum ada jaringan telekomunikasi. Akses mereka sangat terbatas.

Kepala Desa Sungkung III, Sujianto mengatakan, Desa Sungkung belum pernah merasakan pembangunan jalan. Mereka kerkungkung dalam situasi yang tidak menyenangkan.

Menurutnya, akses jalan menuju kota terdekat yakni Jagoibabang, Kabupaten Bengkayang. Hanya saja sejak dibuka pada tahun 2000an, jalan itu tidak pernah dilewati atau digunakan.

“Dulu pernah dibuka. Tahun 2000-an. Tapi setelah dibuka tidak pernah dilewati. Karena memang jalannya rusak,” kata dia.

“Dan baru dibuka kembali tahun 2019 dengan menggunakan bantuan dana desa,” sambungnya.

Meskipun demikian, warga Sungkung, khususnya Sungkung III lebih memilih menggunakan akses jalan menuju Entikong, Kabupaten Sanggau. Meski jika dihitung jarak tempuh lebih jauh.

“Selama ini kami masih lewat Entikong. Saya kalau ada urusan dinas, juga lewat sana. meskipun sedikit memutar dan jauh,” bebernya.

Sujianto mengatakan, keterisoliran Desa Sungkung disebabkan beberapa faktor. Salah satunya karena terbentur status kawasan. Desa Sungkung berada di dakam kawasan Hutan Lindung (HL), sehingga tidak tersentuh pembangunan.

“Jangankan jalan, kami yang berpuluh-puluh tahun tinggal di sini saja tidak memiliki sertifikat hak milik atas tanah pekarangan rumah kami. Padahal kami sudah mengurus Tora sejak tahun 2018. Tapi sampai sekarang belum keluar,” kesalnya.

“Jadi bagaimana kami bisa tersentuh pembangunan, kalau kami tidak dikeluarkan dari kawasan hutan lindung,” sambungnya.

Selaku kepala desa, Sujianto mengaku sudah bekerja keras untuk membangun desanya. Untuk itu ia meminta pihak pemerintah, baik pemerintah daerah maupun pusat untuk mengentaskan Sungkung dari keterisoliran. (bersambung)

 

 
 
 

 

 

loading...

BACA JUGA

Senin, 31 Agustus 2015 00:39

Ini Penyebab Mantan Kadispenda Kalbar Tewas

<p>SAMBAS-RK. Kecelakaan maut di Jalan Raya Parit Baru, Desa Parit Baru, Kecamatan Salatiga, Sambas,…

Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers