UTAMA | PONTIANAK | KRIMINAL | DAERAH

UTAMA

Senin, 13 Juni 2022 10:57
Ada Indikasi Pekerja Anak di Perkebunan Sawit

Tapi KSBSI tak Yakin Mereka adalah Pekerja

International Labour Organization (ILO) atau Organisasi Perburuhan Internasional meluncurkan Hari Dunia Menentang Pekerja Anak (World Day Against Child Labour) 2002 lalu, yang diperingati setiap tanggal 12 Juni setiap tahunnya. Sementara sejumlah media menyoroti indikasi pekerja anak di industri perkebunan kelapa sawit. Bagaimana kondisi yang sebenarnya?

Catatan: RAMSES TOBING

 

 

MENANGGAPI ini, Koordinator Wilayah Konfederasi Serikat Buruh Seluruh Indonesia (KSBSI) Kalimantan Barat Suherman mengatakan belum ada laporan terkait pekerja di perkebunan sawit. Namun ia tak menampik adanya temuan anak-anak yang berada di perkebunan kelapa sawit, terutama di asrama karyawan. Dalam pengamatan dia, ada anak-anak yang berada di area pembibitan, kemudian dikategorikan pekerja anak.

“Padahal bukan. Mereka tinggal di lingkungan sawit,” kata Suherman. “Apalagi saat pandemi Covid kemarin, kegiatan belajar jarak jauh, sehingga kadang bermain di sekitar perkebunan sawit,” tambah Suherman.

Namun, lanjut Suherman, 2 tahun lalu pernah ditemukan pekerja anak, tetapi bukan di perkebunan kelapa sawit melainkan di sektor industri. Temuan ini terungkap saat pihaknya bersama pengawas ketenagakerjaan meninjau perusahaan.

“Ada dua orang dan sudah dikembalikan pihak perusahaan, sehingga tidak dipekerjakan kembali. Kalau di kebun sawit. Bukan pekerja. Tinggal di situ dan membantu orang tua sambil bermain-main,” ujar Suherman.

Suherman menjelaskan ada beberapa syarat yang mesti dipenuhi jika mempekerjakan anak, durasi waktu hanya 2 jam, jenis pekerjaan sudah diatur. Lalu, dia menambahkan, tidak boleh menimbulkan dampak fisik. Pekerjaan ringan, menurutnya diperkenankan, namun di bawah pengawasan orang tuanya. Kemudian, dia menambahkan, waktu bekerja tidak panjang, serta tidak meniadakan pendidikan.

“Kami memantau syarat yang dikeluarkan dari ILO. Jika ada kami ingatkan tidak boleh memperkerjakan seperti, termasuk untuk orang tua,” ujar Suherman. “Selama ini perkebunan juga dipantau dan pemantauan luar biasa. Dari serikat, NGO, media, bahkan dari perlindungan anak, sehingga sangat hati-hati. Mudah-mudahan tidak ada disini. Kami sampaikan lansung ke manajemen jika itu ada. Tim pengawas tenaga kerja juga mesti turun,” pungkasnya.

Sebagaimana dilansir di salah satu media terbitan nasional di mana Menteri Ketenagakerjaan (Menaker), Ida Fauziyah, mengatakan bahwa pihaknya terus berupaya agar tak ada lagi pekerja anak di industri perkebunan kelapa sawit. Namun, upaya pengawasan, diakui dia, terkendala jarak karena lokasi kebun sawit biasanya jauh dari pusat kota.

“Untuk mengatasi hal tersebut, diperlukan peran aktif dan kolaborasi dari pemerintah, lembaga, dunia usaha, dan serikat pekerja/serikat buruh serta seluruh komponen masyarakat untuk bersama-sama melakukan penghapusan pekerja anak,” kata Ida melalui siaran persnya, Maret lalu.

Sementara Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Kalimantan Barat Manto memastikan tujuh kabupaten di Kalimantan Barat tidak melibatkan dan memperkerjakan anak di sektor perkebunan sawit. Tujuh kabupaten yang dimaksud dia yakni Kabupaten Sekadau, Mempawah, Bengkayang, Sambas, Kapuas Hulu, Sanggau, dan Kubu Raya, sebagai persebaran perkebunan kelapa sawit di provinsi ini.

Baca Juga :  Tetap Menyusui Meski Positif Covid-19

Manto mengatakan sudah ada kerja sama dengan ILO, yang kemudian melakukan penelitian di beberapa perkebunan kelapa sawit dengan mempekerjakan anak-anak.

“Ketika mereka menemulan pekerja anak, kami langsung menegur perusahan hingga mereka tuntas dan bebas pekerja anak,” kata Manto saat dihubungi Pontianak Post. Penelitian yang mereka lakukan tersebut menemukan adanya pekerja anak daerah perkebunan. Namun, menurut dia, bukan pekerja perusahaan perkebunan. Tetapi kasusnya, dijelaskan dia, dalam hal ini adalah anak dari pekerja yang secara musiman saat libur sekolah bertepatan dengan panen kelapa sawit. Anak-anak tersebut, menurut dia, ikut ke kebun dan mengambil buah yang berserakan, lalu memasukkan karung, dan menjualnya.

Iya. Itu pun sudah kami larang,” kata Manto. Pihaknya sudah menegur perusahaan perkebunan dalam hal ini. Kemudian pihak perusahaan dipastikan dia juga sudah menegur karyawannya untuk melarang membawa anaknya ke area perkebunan kelapa sawit.

“Ketika ada temua ini kami langsung tegur perusahaan dan perusahaan larang karyawannya bawa anak,” ujar Manto. Sementara bagi perusahaan yang sudah bebas pekerja anak, pihaknya berkolaborasi dengan kebijakan Kemnaker. Kepala daerah yang daerahnya bebas dari pekerja anak di kebun sawit sudah diberikan penghargaan dan apresiasi oleh Kemenaker. (*)

 

 

loading...

BACA JUGA

Selasa, 16 Agustus 2022 11:33

Seleksi Pejabat Pemprov, Sekda Kalbar Bilang Jangan Coba-Coba Nyogok!

Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kalimantan Barat (Kalbar) telah memulai seleksi terbuka…

Rabu, 10 Agustus 2022 12:48

Jokowi Sedih Dengar Warga Berobat ke Luar Negeri

Rumah Sakit (RS) terbesar di Kalimantan Barat (Kalbar) RSUD Soedarso…

Minggu, 07 Agustus 2022 11:28

Cerita Masyarakat yang Hidup Berdampingan dengan Sungai Kapuas

Pandai berenang dinilai banyak orang menjadi salah satu keharusan bagi…

Minggu, 07 Agustus 2022 11:24

Nasib Masyarakat di Tengah Himpitan Status Kawasan Hutan

Sejatinya, hutan memberikan dampak positif bagi masyarakat yang ada di…

Sabtu, 30 Juli 2022 12:13

Malu Ditagih Hutang 200 Ribu, Pemuda 24 Tahun Gantung Diri

Peristiwa Gantung diri Seorang Pemuda di Monterado membuat geger. Kejadian…

Jumat, 29 Juli 2022 12:47

Warga Pilih Berobat ke Malaysia, Gubernur Soroti Kualitas Layanan Rumah Sakit di Kalbar

 Sejak pintu perbatasan Indonesia-Malaysia dibuka kembali 1 Mei lalu, ramai…

Selasa, 26 Juli 2022 10:10

Kalbar Masuk Kelas Tinggi Kerentanan Bencana Banjir

HARI ini, 25 Juli, setiap tahunnya diperingati sebagai Hari Pencegahan…

Senin, 25 Juli 2022 13:03

Desa Sungkung Tak Lagi Gelap Gulita, Warga Swadaya Bangun Pembangkit Listrik

Bertahun-tahun masyarakat Desa Sungkung hidup terisolasi, tetapi bukan berarti mereka…

Senin, 25 Juli 2022 13:01

Warga Sakit Harus Digotong, Sungkung Butuh Fasilitas Kesehatan

“Menderita kami, Pak. Sedih kami sebenarnya menjadi orang Sungkung,” ungkapan…

Senin, 25 Juli 2022 13:00

Desa Sungkung Kabupaten Bengkayang, Bertahan dalam Keterisoliran

Apa yang terlintas dalam benak Anda ketika mendengar kata Sungkung?…

Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers