UTAMA | PONTIANAK | KRIMINAL | DAERAH

UTAMA

Kamis, 17 Juni 2021 22:50
Pelajar dan Orang Tua di Kalbar Rindu Belajar Tatap Muka

Para pelajar dan orang tua merindukan ajaran tahun baru 2021/2022 dilakukan tatap muka seperti sebelum Pandemi Covid-19 mendera. “Jujur, rindu belajar tatap muka dan bertemu dengan teman juga guru,” kata Annisa, pelajar SMP kelas 2 di Sungai Raya, Kabupaten Kubu Raya, Provinsi Kalimantan Barat belum lama ini.

Menurutnya pandemi Covid-19 sepertinya terus memperlihatkan perkembangan signifikan di setiap daerah. Buktinya di media-media sosial, pertambahan jumlah pasien terus terjadi peningkatan. “Bakalan lama jika harus benar-benar hilang total. Entah kapan, kami tidak tahu,” katanya.

Senada dengannya Yanti wali murid juga berharap ada kebijakan menyeluruh mengenai para pelajar yang sudah terlalu lama berkutat dengan dunia online. Mungkin sudah saatnya dipertimbangkan belajar secara offline yakni dengan cara tatap muka. “Mungkin usulannya bisa saja para pelajar diberikan vaksin dari pemerintah,” ucapnya seperti diberitakan pontianakpost.co.id.

Ketua Komisi V DPRD Provinsi Kalimantan Barat, Edy R.Yacoeb menyebutkan bahwa kegiatan sekolah tatap muka kabarnya memang akan digelar seiring Tahun Ajaran Baru 2021/2020 pada Juli mendatang. Hanya sifatnya terbatas, dimana kapasitas siswa per kelas maksimal dengan persentase. “Jadi tidak semuanya. Itu yang saya dengar dari pemerintah pusat,” ucapnya.

Sekolah tatap muka terbatas kabarnya juga tidak boleh lebih dari 2 hari dalam seminggu. Seluruh tenaga pengajar dan tenaga kependidikan juga sudah harus divaksin Covid-19 terlebih dahulu. “Resiko memang namun seandainya diberlakukan hendaknya sekolah tatap muka terbatas harus dilakukan dengan ekstra hati-hati. Satu kelas tidak boleh penuh. Hanya diisi dimana jam pembelajaran berlaku 2 jam dan 1 minggu,” tukas dia.

Sebelumnya Mendikbud Nadiem Makarim menyatakan, SKB 4 Menteri telah memutuskan bagi guru dan tenaga kependidikan di sekolah sudah melakukan vaksinasi, maka bisa membuka belajar tatap muka. Namun, apabila saat penerapan ada siswa atau siswi yang terpapar Covid-19, maka belajar tatap muka harus dihentikan.

Penutupan sekolah bakal terus dilakukan hingga sekolah dinyatakan nol kasus. Kalau sudah tidak, tetap belajar tatap muka terbatas,” ucapnya beberapa waktu lalu.

Politisi Golkar Kalbar ini melanjutkan bahwa hendaknya setiap sekolah yang membuka belajar tatap muka, tetap wajib memenuhi daftar periksa dan menerapkan protokol kesehatan.

“Intinya di sini pemerintah bukan juga mewajibkan tatap muka, tapi kalau ada infeksi Covid-19 dalam sekolah harus ditutup kembali. Nah kejadian seperti begini harus menjadi perhatian juga,” tukasnya.

Untuk kapasitas belajar tatap muka di sekolah harus berdasarkan prokes dan 5M juga. Artinya kapasitas tidak boleh terlalu banyak. Di sisi lain program pembelajaran jarak jauh (PJJ) tetap harus diberikan. Nah keputusan dan ketentuan belajar tatap muka juga berada ditangan orangtua. “Artinya orangtua bisa memilih, apakah anaknya belajar tatap muka atau tetap PJJ dari rumah,” ujarnya.

Di sisi lain, dia juga meminta guru dan orang tua terus menjadi contoh perubahan perilaku bagi anak apabila pembelajaran tatap muka secara terbatas akan dilakukan. Orangtua juga harus dididik untuk mempersiapkan dan mengedukasi anak-anaknya apabila akan melaksanakan pembelajaran tatap muka secara terbatas.

“Jadi diajarkan kenapa mereka tidak boleh ini, tidak boleh itu, kenapa harus pakai masker,” ujarnya.
Melatih anak untuk tahan menggunakan masker bisa dilakukan secara bertahap. Di sisi lain guru juga harus didorong untuk dilatih menjelaskan pelajaran tanpa membuka maskernya. (den)

loading...

BACA JUGA

Senin, 31 Agustus 2015 00:39

Ini Penyebab Mantan Kadispenda Kalbar Tewas

<p>SAMBAS-RK. Kecelakaan maut di Jalan Raya Parit Baru, Desa Parit Baru, Kecamatan Salatiga, Sambas,…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers