UTAMA | PONTIANAK | KRIMINAL | DAERAH

PONTIANAK

Rabu, 21 April 2021 13:16
Perempuan Kuat, Berkarya di Balik Penjara

HARI ini, 21 April, diperingati sebagai Hari Kartini, pahlawan nasional pelopor kebangkitan perempuan di Indonesia. Perjuangannya membela hak-hak perempuan akan selalu dikenang dan menjadi sumber inspirasi. Kini, kaum perempuan telah mampu memberdayakan diri sendiri. Tak terkecuali bagi para perempuan penghuni Lapas Perempuan (LPP) kelas II A Pontianak.

TERSANDUNG masalah hukum tak membuat para penghuni Lapas Perempuan (LPP) Kelas IIA Pontianak berhenti untuk berkarya. Di balik jeruji besi, mereka mengisi waktu dengan pemberdayaan diri.  Daryeni (29), warga binaan menyebutkan, banyak pelajaran yang didapatnya di dalam Lapas ini.

Mereka dilatih membuat aneka kerajinan, mulai dari masker, kalung manik-manik, gelang, hingga desain pakaian. Hasil kerajinan itu telah dipasarkan, baik langsung maupun secara online. “Kami ingin buktikan bahwa di dalam jeruji pun kami tetap punya masa depan. Kami ingin bisa bermanfaat bagi orang lain. Bisa memberdayakan diri. Jika bebas kelak, kami ingin bisa hidup mandiri,” ujar Daryeni.

Selain belajar membuat aneka kerajinan tangan, Daryeni dan warga binaan lain juga belajar membuat berbagai produk makanan olahan. Di bulan Ramadan ini, Lembaga Pemasyarakatan Perempuan (LPP) Kelas IIA Pontianak menggelar stand Bazar aneka produk makanan dan kerajinan. Bazar tersebut diperuntukkan bagi warga binaan, petugas dan masyarakat yang berminat. Aneka makanan seperti kolak pisang, donat, kroket, serta lauk – pauk, tersaji di meja bazar.

Aneka takjil tersebut merupakan hasil dari olahan bersama sejumlah warga binaan lapas. “Belajar membuat makanan kayak donat, kolak, puding, sama kerajinannya itu di sini,” ujar Daryeni.

Ia bertekad untuk memanfaatkan keterampilan yang sudah didapatnya ini untuk kembali bermasyarakat saat bebas nanti.

Kabid Pembinaan Bimbingan dan Teknologi Informasi Divisi Pemasyarakatan Kanwilkumham Kalbar Eka Jaka Riswantaro mengatakan, ini merupakan rangkaian dari kegiatan Hari Bhakti Pemasyarakatan ke-57.

Bertemakan One Day Prison’s Product diharapkannya seluruh petugas di lingkungan divisi pemasyarakatan dapat membeli aneka produk dari warga binaan tersebut.

“Kita di lembaga pemasyarakatan sudah memiliki banyak produk di rutan dan lapas, tetapi masyarakat kan belum mengenalnya. Dengan ini petugas yang membeli produk dapat mempromosikan keluar aneka produk yang dibuat oleh warga binaan,” ujarnya.

Hal ini dinilainya merupakan salah satu cara memperkenalkan aneka produk dari warga binaan dikenal oleh masyarakat luas. Diharapkannya, dengan keterampilan yang sudah diajarkan, warga binaan memilki bekal untuk kembali bermasyarakat dan diterima oleh masyarakat, sehingga mereka tidak kembali lagi ke dalam lapas dengan kasus pidana yang baru.

Hal serupa juga diungkapkan Kepala Lembaga Pemasyarakatan Perempuan Kelas II A Pontianak Jaleha. Menurutnya, hasil dari penjualan aneka produk tersebut, warga binaan yang terlibat dalam proses pembuatannya juga akan mendapatkan bagian hasil, dan sebagian keuntungan  Penerimaan Negara Bukan Pajak.

“Program ini, dari mereka dan untuk mereka, kita petugas juga tidak perlu belanja di luar, tinggal belanja di dalam, dan kualitasnya pun tidak kalah dengan yang di luar,” ujarnya.
Di sisi lain, selain mengikuti program pembinaan keterampilan kemandirian, warga binaan Lapas Perempuan juga mengikuti program kerohanian, khususnya di bulan Ramadan.

Pembinaan kerohanian tersebut berupa salat berjamaah dan tadarus. Masing-masing warga binaan bisa mengikutinya tanpa ada paksaan. Bahkan sebagian dari mereka telah mengkhatamkan 30 juz Al Quran.

Apresiasi Perjuangan Kesetaraan

Peringatan Hari Kartini pada 21 April bertepatan dengan hari lahir Raden Ajeng Kartini. Kartini adalah tokoh yang menggelorakan pergerakan dan emansipasi perempuan Indonesia melalui karyanya: Dari Kegelapan Menuju Cahaya. Sebagian surat dalam bukunya itu menggugat budaya sebagai penghambat kemajuan perempuan. Wakil Ketua MPR Lestari Moerdijat menilai perjuangan Kartini membawa banyak perubahan untuk perempuan Indonesia. Mengutip Kartini, Lestari mengatakan perempuan mesti memiliki ruang untuk pengembangan diri (self development), percaya diri (self confidence), belajar mandiri (self teaching), berkegiatan sendiri (self activity) dan solidaritas sesama perempuan.

“Semangat Kartini masih relevan hingga saat ini untuk perjuangan perempuan. Kartini telah meletakkan dasar pemikiran perempuan tersebut atas dasar ketuhanan, kebijaksanaan dan keindahan. Tema lain yang diusung Kartini adalah humanisme dan nasionalisme,” kata Lestari, Selasa (21/4).

Dalam merayakan Hari Kartini kali ini, tema kesetaraan diusung untuk mengubah ragam persepsi tentang perempuan. Untuk itu, Lestari mengapresiasi perempuan yang memperjuangkan kesetaraan di berbagai bidang, seperti akses yang sama untuk mendapatkan pendidikan setinggi mungkin, dan kesetaraan gender di dunia pekerjaan. Memang saat ini perempuan sudah menempati posisi di pemerintahan, birokrasi, dan politik.

Namun, Lestari tetap meminta pemerintah mendorong terciptanya gerakan perempuan mandiri di bidang ekonomi dan membuka ruang untuk representasi perempuan di bidang eksekutif. Lestari menilai masih sering terjadi diskriminasi terhadap perempuan di bidang sosial dan budaya yang terus melihat perempuan sebagai objek. Karena itu dia mengajak pemerintah dan masyarakat berkolaborasi mengeliminir diskriminasi terhadap perempuan di bidang sosial dan budaya. (arf/jpnn)


BACA JUGA

Minggu, 06 September 2015 11:14

Pegawai Bank Kalbar Diduga Gelapkan Uang Nasabah Rp1,6 M

<p style="line-height: 1.38; margin-top: 0pt; margin-bottom: 0pt;" dir="ltr"><span…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers