UTAMA | PONTIANAK | KRIMINAL | DAERAH

PONTIANAK

Kamis, 18 Februari 2021 13:52
WADUH..!! Banyak Warga di Satu RT Kena Penyakit Kulit Kudis, Timbul Sejak Dua Bulan Terakhir
SCABIES : Beberapa anak memperlihatkan penyakit scabies yang menyerang dirinya. Sejak beberapa bulan terakhir, ratusan warga Jalan Apel Gang Pisang Berangan terjangkit penyakit kulit scabies. MEIDY KHADAFI/PONTIANAK POST

Warga RT 02/RW 19 Pontianak sungguh resah. Bagaimana tidak, puluhan warga di salah satu gang di kawasan ini, terkena penyakit kulit scabies alias kudis. Tak pelak, Ketua RT 02/RW019 Qolbidin mengingatkan masyarakat untuk segera berobat ke puskemas jika masih ada yang menderita penyakit kulit scabies. “Mungkin masih ada yang belum lapor, jika masih ada mengalami penyakit ini, baiknya segera berobat ke puskemas,” kata Qolbidin di Pontianak, kemarin.

Seperti diketahui dari data pengobatan yang dilakukan UPT Puskesmas Perumnas I, sebanyak 75 warga di Gang Pisang Berangan, Jalan Apel mengidap penyakit kulit scabies. Ia menjelaskan pihak dilakukan UPT Puskesmas Perumnas I sudah turun langsung melakukan pengobatan massal sekaligus penyuluhan ke masyarakat tentang penyakit kulit scabies.

“Bagi yang belum datang saat penyuluhan atau pengobatan segera ke puskemas untuk berobat, apalagi jika masih ada yang mengalami gejala yang sama,” pesan Qolbidin.

Ia mengatakan penyakit kulit scabies yang dialami masyarakat sudah mulai timbul sejak dua bulan terakhir. “Dua bulan terakhir ini penyebarannya masif, karena banyak yang terkena jadi saya lapor ke kelurahan dan kemudian diteruskan ke puskesmas,” kata Qolbidin.

SCABIES : Beberapa anak memperlihatkan penyakit scabies yang menyerang dirinya. Sejak beberapa bulan terakhir, ratusan warga Jalan Apel Gang Pisang Berangan terjangkit penyakit kulit scabies. MEIDY KHADAFI/PONTIANAK POST

 

Ia menduga tidak hanya masyarakat di Gang Pisang Berangan saja yang terkena penyakit kulit scabies. “Ada tiga gang disini, Gang Pisang, Pisang Raja dan Pisang Berangan. Cuma kondisi mungkin tak separah di Gang Pisang Berangan dan jumlahnya pun tak banyak,” terang dia. Kalau memang demikian, diperkirakan ada ratusan warga yang terkena wabah scabies ini.

Kepala Dinas Kesehatan Kalimantan Barat Harisson mengatakan Dinas Kesehatan Kota Pontianak sudah melakukan pengobatan massal sekaligus penyuluhan terhadap masyarakat yang terkena penyakit kulit scabies. Pihaknya pun siap menyuplai kebutuhan obat, jika ketersediaan di Dinas Kesehatan Kota tidak mencukupi. “Penyuluhan dan pengobatan massal sudah dilakukan dan akan dievaluasi lagi,” kata dia.

Menurutnya penyakit ini biasa terjadi di daerah dengan permukiman penduduk yang padat, asrama atau pondok. Setiap tahunnya memang tercatat adanya penyakit kulit scabies yang dialami masyarakat. Sehingga ini bukan penyakit yang baru dialami masyarakat. “Tapi dalam keadaan satu komplek terserang semua baru ada laporan sekarang,” jelas dia. 

Seperti diketahui penyakit kulit yang diderita oleh warga itu nama Scabies, atau dikenal sebagai kudis, merupakan penyakit kulit yang sangat gatal, disebabkan oleh parasit atau tungau Sarcoptes scabiei.

Parasit sarcoptes scabiei ini bersarang di bawah kulit manusia.  Parasit ini berukuran 0,5 mm. Tungau betina yang telah dibuahi menggali terowongan dalam stratum korneum kulit dengan kecepatan 2-3 mm sehari sambil meletakkan 2-4 butir telur sehari, hingga mencapai jumlah 40 hingga 50 telur. Telur-telur ini akan menetas biasanya dalam waktu 3-5 hari dan menjadi larva.

Rasa gatal yang dialami oleh penderita dikarenakan sensitisasi tubuh terhadap produk tungau ini seperti telur, kotoran, liur, atau produk cairan lainnya yang ditinggalkan di bawah kulit penderita.

“Penyakit ini bersifat menular dan umumnya menyerang sekelompok orang, misalnya pada perkampungan padat penduduk atau penghuni asrama,” kata Harisson.

Ia melanjutkan scabies ditularkan melalui kontak langsung maupun tidak langsung. Kontak langsung dapat terjadi melalui jabat tangan, tidur bersama, kontak kulit ke kulit.

Kontak tidak langsung terjadi bila individu yang menderita skabies bertukar benda dengan individu sehat, seperti handuk, pakaian, selimut, bantal dan seprei. Gejala nya kulit tampak vesikel atau gelembung kecil berisi air, terasa gatal  terutama pada malam hari.

“Karena gatal dan digaruk, akhirnya sering terjadi infeksi,” sambungnya.

Ia menyebutkan bagian kulit yang pertama dan paling sering terkena adalah di sela-sela jari tangan, kemudian menyebar ke bagian kulit lain, seperti di siku, bokong, punggung, perut, ketiak, dan kulit disekitar alat kelamin.

Harisson menambahkan pihaknya tidak harus melakukan karantina terkait dengan masyarakat yang menderita penyakit kulit scabies ini. Pengobatan dengan menggunakan saleb di seluruh tubuh yang terinfeksi selama tiga hari.

“Salep yang digunakan tersedia di Puskesmas , dikenal dengan nama salep 2-4, yaitu sulphur presipitatum 4 persen dan acid salycil 2 persen,” jelas dia. Bila sudah terjadi infeksi sekunder karena sering digaruk dan menyebabkan infeksi maka pengobatan nya perlu ditambah dengan salep antibiotik. Selain penggunaan salep, lingkungan rumah agar juga dijaga selalu bersih.

Perabotan rumah sebaiknya dibersihkan atau dijemur, misalnnya kasur, bantal, kursi (sofa), karpet dijemur dibawah sinar matahari selama 3-4 jam, karena tungau yang lepas dari tubuh manusia yang menempel di perabot rumah atau di bahan-bahan kain akan mati karena panas matahari.

“Lakukan pembersihan dan penjemuran perabot seperti kasur, bantal, karpet atau permadani di rumah secara berkala. Yang penting kuncinya adalah melaksanakan pola hidup bersih dan sehat,” jelas dia.

Namun ia menjelaskan ada beberapa kasus, dimana penyakit kulit scabies dialami masyarakat kesembuhannya lama. Kondisi itu disebabkan kesalahan diagnosis. “Biasanya penderita datang ke apotik membeli obat jamur, beli salep anti alergi, salep antibiotik, nah salep ini tidak bisa membunuh parasitnya. Parasit ini hanya mati dengan obat-obat scabies dan itu tersedia di puskesmas,” jelas dia.

Menurutnya pengobatan harus tuntas. Bila satu keluarga atau lingkungan terkena terkena maka harus semuanya diobati. “Jika tidak tuntas bisa menularkan kepada yang lain,” jelas dia. (mse)

loading...

BACA JUGA

Selasa, 28 Juni 2022 11:35

Harus Dilindungi, Ada 202 Jenis Burung Berkicau Diperdagangkan Secara Online

 Yayasan Planet Indonesia (YPI) mencatat sebanyak 202 jenis burung berkicau,…

Jumat, 17 Juni 2022 11:40

Kalbar Kekurangan Tenaga Ahli Konstruksi

Pembangunan infrastruktur yang masif di Kalimantan Barat (Kalbar) belum diimbangi…

Senin, 13 Juni 2022 10:56

Ketika Para Bocah Meraup Cuan di Kota Layak Anak, Mereka Ngaku Tak Terpaksa

Beberapa tahun ini, jamak dilihat anak-anak menenteng keranjang berisi dagangan.…

Rabu, 08 Juni 2022 23:55

Wali Kota Pontianak: Pelaku Usaha Masih Banyak yang Tidak Jujur

 Wali kota Pontianak, Edi Rusdi Kamtono melihat, masih terdapat pelaku…

Rabu, 08 Juni 2022 23:53

Kebijakan Penghapusan Tenaga Honorer Bikin Ketar Ketir 4 Ribuan Honorer di Pemkot Pontianak

Kebijakan penghapusan tenaga honorer di lingkup institusi pemerintah yang dikeluarkan…

Senin, 06 Juni 2022 10:56

Wali Kota Pontianak Kaji Pemutusan Tenaga Honorer

Wali kota Pontianak, Edi Rusdi Kamtono belum bisa menanggapi soal…

Jumat, 03 Juni 2022 10:07

Solar Subsidi Dijual ke Industri, Polisi Ringkus 24 Tersangka

 Direktorat Kriminal Khusus Polda Kalbar meringkus komplotan penampung dan penjual…

Jumat, 03 Juni 2022 10:04

Jangan Main-Main..!! Jika Tak Bayar PBB, TPP ASN Bisa Ditangguhkan

 Ketua DPRD Kota Pontianak Satarudin mendorong agar Pembayaran PBB menjadi…

Jumat, 03 Juni 2022 10:03

Lima Bandit yang Resahkan Warga Pontianak Berhasil Diringkus Polisi

 Lima pelaku kejahatan yang beraksi di beberapa wilayah Pontianak berhasil…

Senin, 30 Mei 2022 23:17

Dokter di Jongkong Tertangkap Saat Transaksi Sabu

Seorang oknum dokter berinisial F, yang bertugas di Kecamatan Jongkong,…

Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers