UTAMA | PONTIANAK | KRIMINAL | DAERAH

PONTIANAK

Jumat, 03 Juni 2016 15:02
Gara-Gara Ini, Kalbar Tolak Ayam dari Kalsel
ilustrasi

PONTIANAK – Sebanyak 1.200 unggas asal Banjarmasin, Kalimantan Selatan masuk ke wilayah Kalbar. Ribuan ayam siap potong itu, rencananya akan didrop ke Pasar Flamboyan Pontianak. Terjadi perdebatan sengit dan diamankan di Polsek Sungai Ambawang sebelum akhirnya dipulangkan.

Unggas itu dibawa menggunakan truk bernomor polisi DA 9000 BC. Sekitar pukul 17.00, truk tersebut berhenti di persimpangan Jalan Sungai Ambawang, Kubu Raya. Seketika itu, seorang warga bernama Rasiman mendatangi sopir truk. “Warga itu melaporkan ke Asosiasi Agribisnis Perunggasan,” kata Kapolsek Ambawang AKP Abdul Malik, Selasa malam.

Malik menceritakan, terjadi perdebatan antara pihak asosiasi dan sopir truk. Sopir truk mengotot, menanyakan apa kesalahan mereka. “Terjadi perdebatan. Sopir bilang apa salahnya mereka, cari makan, sama gak ada bedanya,” kata Malik menirukan sopir.

Perdebatan masih terjadi, saat truk dan sopir diamankan ke Mapolsek Sungai Ambawang. Sejumlah warga juga ikut mendatangi Polsek. Diceritakan Malik, Asosiasi Agribisnis Perunggasan bersikeras menolak unggas itu masuk ke Kalbar. Alasannya, apabila hal itu di suplai, bisa mematikan para peternak ayam di Kalbar. “Kalaupun ada dari luar masuk, perlu ada surat keterangan dari segi kesehatan ayam dan sudah berkoordinasi dengan pihak karantina dan dinas terkait,” paparnya.

Sopir sebut Malik, belum menerima alasan asosiasi. Terjadi perdebatan dan muncul inisiatif untuk memusnahkan unggas tersebut. Diakui dia, semula sempat kebingungan apa yang harus dilakukan. Melihat perdebatan hingga muncul inisiatif memusnahkan unggas tersebut, dia akhirnya melakukan mediasi antara kedua belah pihak. “Akhirnya PT. Jakva mau mengalah dan bersedia dikembalikan ke Banjarmasin,” kata Malik.

Menurut pengakuan sopir, yang berhasil diperoleh keterangannya, pengiriman unggas ke Kalbar, bukan kali pertama. Sebelumnya juga pernah dikirim dan lolos. “Yang pertama lolos. Ini kedua kalinya menurut sopir,” ungkap Malik.

Dikatakan Malik, berdasarkan keterangan dari sopir truk, peluang menjual ayam ke Pontianak lebih menjanjikan dari di Banjarmasin yang dinilai lebih murah. Belum lagi, stok ayam juga kurang. “Menurut pengakuan sopir di Kalbar, harga ayam mahal dari Banjarmasin, jadi mereka berupaya menjual dan memasoknya ke Kalbar berbekal surat delevery order. Sopirnya juga menganggap, dengan surat itu bisa jalan,” jelas Malik.

Berdasarkan pantauan Pontianak Post di Pasar Flamboyan, harga ayam potong perkilonya mulai merangkak naik, meski harganya bervariasi. Sejumlah pedagang juga mengakui, jika stok beberapa hari ini berkurang.

Buyung, pedagang ayam mengaku, menjual ayam perkilonya seharga Rp28 ribu hingga Rp35 ribu. “Timbang bersih tanpa bulu Rp35 ribu. Ada juga jual Rp28 ribu perkilonya,” kata Buyung. Melonjaknya harga ayam ini, disebabkan oleh kurangnya pasokan dari peternak ayam. Pada hari biasanya, dalam sehari Buyung mampu menyediakan 2.500 ekor. Namun, saat ini, tidak sampai seribu ekor. “Sekarang ndak sampai 1.000 stok ayam perhari. Stok dari kandang tak ada. Agen juga yang nentukan harga,” sebut Buyung.

Isnaidi membenarkan pernyataan Buyung, bahwa pasokan ayam berkurang. Namun dia menegaskan jika ayam yang dijual itu, bukan dari Banjarmasin, melainkan dari peternak ayam di Pontianak dan Singkawang. “Tidak ada pasokan dari Kalsel. Kami dari Pontianak dan Singkawang. Sudah sepekan ini pasokan sulit,” jelas Isnaidi.

Melonjaknya harga ayam perkilogramnya membuat sejumlah ibu rumah tangga ketir-ketir dan dinilai memberatkan. Meski tetap membeli untuk dikonsumsi, harapan mereka tetap sama: harga ayam bisa stabil. “Sangat memberatkan. Mau bagaimana lagi, sudah jadi kebutuhan. Kalau bisa stabil harganya,” harap Fikas, ibu rumah tangga warga Tanjung Hulu.

Gubernur Kalimantan Barat Cornelis menyatakan Pemerintah Provinsi Kalbar memperketat masuknya unggas dari provinsi lain ke Kalbar.  “Kalbar sudah steril (bebas flu burung). Jika ada yang masuk (tak sesuai aturan), harus disanksi sesuai aturan yang berlaku,” ungkap Cornelis di Rumah Radakng, Rabu (1/6).

Hal senada dikatakan Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Kalbar, Abdul Manaf Mustafa. Menurut Manaf, saat ini Kalbar sudah memiliki Perda Nomor 2 Tahun 2016 tentang Penyelenggaraan Peternakan dan Kesehatan Hewan di Kalbar. “Tidak diizinkan ayam siap potong masuk,” ungkap Manaf dalam pesan singkatnya, kemarin.

Manaf menuturkan larangan ini sebagai upaya mencegah masuknya penyakit flu burung. Jika pun ada pihak-pihak yang memasukkan DOC, harus melalui persyaratan teknis yang ditetapkan. Saat ini, lanjut Manaf, Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Kalbar terus memperketat pengawasan masuknya unggas ke Kalbar dari provinsi maupun negara lain.

Upaya pencegahan flu burung ini juga dilakukan dengan memperketat bio sekuriti. Tindakan bio sekuriti berupa penyemprotan kandang, kendaraan, dan memperketat keluar masuk orang ke kandang.  Manaf menuturkan, penularan flu burung tergantung dari perilaku masyarakat. Jika masyarakat menyelundupkan unggas dari provinsi maupun negara lain, berpotensi terjadi flu burung di provinsi ini. Seperti yang terjadi pada 2005 dan 2006.

Ketika itu terjadi flu burung karena ada masyarakat yang memasukkan unggas secara diam-diam dari luar Kalbar. Ketika ayam-ayam mati, dibuang begitu saja di tempat pembuangan sampah. Sampah itu diangkut truk. Akhirnya terjadi penularan flu burung di beberapa titik pada jalur-jalur yang dilintasi truk. “Pada 2007 flu burung terkendali. Pada 2010 Kalbar mendapat sertifikat bebas flu burung,” katanya. (uni/gus)

BERITA TERKAIT

BACA JUGA

Minggu, 06 September 2015 11:14

Pegawai Bank Kalbar Diduga Gelapkan Uang Nasabah Rp1,6 M

<p style="line-height: 1.38; margin-top: 0pt; margin-bottom: 0pt;" dir="ltr"><span…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers