UTAMA | PONTIANAK | KRIMINAL | DAERAH

UTAMA

Selasa, 28 Januari 2020 12:43
Ikan Asin dari Kuching Malaysia Dimusnahkan, Karena Apa?
DISMUSNAHKAN: Stasiun KIPM Pontianak memusnahkan 27 kg pembawa hama penyakit ikan dan hama penyakit ikan karantina dari Kuching, Malaysia. IST

PROKAL.CO, PONTIANAK –Stasiun Karantina Ikan, Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan (KIPM) Pontianak memusnahkan media pembawa hama penyakit ikan (HPI) dan hama penyakit ikan karantina (HPIK) hasil penindakan pelanggaran karantina ikan, (27/1). Pontianakpost.co.id memberitakan, pemusnahan itu merupakan hasil tindak kasus pelanggaran dari mulai 1 November 2019 sampai dengan 24 Januari 2020.

“Pemusnahan dilakukan karena produk perikanan tidak diurus atau dilengkapi pemiliknya sampai batas waktu yang sudah ditentukan,” kata Kepala Stasiun KIPM Pontianak Miharjo.

Pelanggaran tersebut terjadi pada November 2019, yang mana berhasil diungkap ada tujuh pelanggaran pemasukan media pembawa dari Kuching, Malaysia berupa terubuk, cumi, teri, ikan asin dan ebi total sebanyak 17 kg. Kemudian pada Januari 2020 sebanyak lima kasus pelanggaran berupa pemasukan media pembawa dari luar negeri, antara lain bakso ikan, teri, kembung asin, sotong, dan ikan nila dengan total 10 kg. 

“Total keseluruhan sebanyak 27 kg dan pelanggarannya sama yaitu tidak dilengkapi dengan dokumen kesehatan dari negara asal dan tidak sanggup dilengkapi oleh pemiliknya,” jelas dia.

Miharjo menuturkan, sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku, untuk media pembawa yang melanggar ketentuan, dilakukan pemusnahan, dengan beberapa metode yaitu perendaman dengan suhu dingin, formalin, penguburan, maupun pembakaran. Menurutnya, hal ini dilakukan untuk memastikan bahwa media pembawa tersebut tidak terindikasi sebagai agen pembawa penyakit dan untuk melindungi keamanan produk perikanan dan manusia yang ada di wilayah negara Republik Indonesia.

“Pemusnahan untuk media pembawa sebanyak 27 kg dilakukan dengan cara pembakaran yang dilaksanakan oleh tim pemusnahan media pembawa yang kesemuanya adalah PHPI Stasiun KIPM Pontianak yang disaksikan oleh tamu undangan stake holder yang ada di lingkungan Bandara International Supadio Pontianak, tempat kejadian pelanggaran karantina,” papar dia.

Tindakan ini, lanjut dia, sebagai bagian dari tugas pokok dan fungsi KIPM yaitu, mencegah masuk dan tersebarnya HPI/HPIK dari dan keluar Negara Republik Indonesia, serta dari dan ke daerah lain atau antararea di wilayah Republik Indonesia. Pihkanya melakukan pengawasan setiap lalu lintas media pembawa baik di bandara, pelabuhan, perbatasan negara dan kantor pos besar, sebagai upaya pencegahan yang berkelanjutan.

Dia menjelaskan, setiap media pembawa harus melalui tiga unsur utama yang tertuang dalam UU 16 Tahun 1992 tentang Karantina Hewan, Ikan dan Tumbuhan dimana dalam pasal 5,6,7 dan Peraturan Pemerintah No.15 Tahun 2002 tentang karantina ikan bahwa setiap media pembawa baik masuk maupun keluar dari dan ke wilayah Negara Kesatuan Indonesia serta antararea dalam wilayah Negara Repubik Indonesia wajib, melalui pintu-pintu yang sudah ditentukan, dilengkapi dengan dokumen yang dipersyaratkan, serta dilaporkan kepada petugas karantina.

“Apabila melanggar salah satu ketentuan yang tersebut di atas, maka akan dilakukan tindakan mulai dari penahanan sementara, penolakan dan pemusnahan, semua prosedur tertuang dalam UU dan SOP yang diterapkan dimana setiap tindak kasus pelanggaran dilakukan pengumpulan bahan keterangan untuk menentukan tingkat risiko pelanggaran oleh perorangan atau organisasi,” pungkas dia. (sti)

loading...

BACA JUGA

Senin, 31 Agustus 2015 00:39

Ini Penyebab Mantan Kadispenda Kalbar Tewas

<p>SAMBAS-RK. Kecelakaan maut di Jalan Raya Parit Baru, Desa Parit Baru, Kecamatan Salatiga, Sambas,…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers