UTAMA | PONTIANAK | KRIMINAL | DAERAH

UTAMA

Rabu, 04 Desember 2019 11:38
Bupati Gidot Minta Siapkan Uang Rp 1 M
DIADILI. Aleksius usai memberikan keterangan kepada majelis hakim Pengadilan Tipikor Pontianak, terkait dugaan suap kasus pengerjaan proyek di Pemda Bengkayang, Selasa, (3/12) sore. Andi Ridwansyah-RK

PROKAL.CO, PONTIANAK- Fakta-fakta ‘mengejutkan’ terungkap pada sidang kedua kasus OTT Suryadman Gidot, di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Pontianak. Yang menghadirkan sejumlah saksi kunci, Selasa (3/12).

Diberitakan Rakyat Kalbar, keterangan Aleksius, Kadis PUPR Kabupaten Bengkayang, terasa menohok pejabat puncak kabupaten perbatasan itu. Aleksius terang-terangan membenarkan adanya permintaan Bupati Suryadman Gidot pada rapat di ruang Sekda Bengkayang, Jumat, 30 Agustus 2019.

"Permintaan Pak Bupati agar dua Dinas yakni Dinas PUPR dan Dinas Pendidikan menyiapkan dana masing-masing Rp 500 juta," ungkap Aleksius di depan majelis hakim PN Tipikor.

Mulanya Alexsius dipanggil untuk hadir di ruang Sekda oleh Ajudan Bupati bernama Rinsen. "Ajudan bupati yang menelpon saya, pada tanggal 30 untuk hadir di ruang Sekda. Dalam rangka apa saya tidak tau. Disuruh hadir saja," ungkapnya.

Di ruang Bupati sudah ada kepala BPKAD, lantas Bupati dan Kadis Pendidikan rapat. Bupati menyampaikan tentang APBDP Bengkayang 2019. Bupati juga menyampaikan bahwa sedang mengalami masalah dana Bantuan Khusus (Bansus) yang saat ini tengah ditangani BPK dan Polda Kalbar.

Akibat masalah itu, kata Aleksius, Bupati akan mengambil langkah-langkah untuk menyelesaikannya. "Untuk itu dia memerlukan uang sebesar Rp1 miliar dibagi dua. Dinas PU 500 juta dan Dinas Pendidikan 500 juta," ungkap Aleksius.

Hanya saja, untuk apa dana itu, Aleksius mengaku tidak tahu. Gidot juga memberikan batas waktu penyerahan uang kepada dua dinas tadi paling lama Senin, 2 September. Gidot kata Alexsius tidak menjelaskan bagaimana caranya mendapatkan uang. Hanya meminta untuk disiapkan uang.

"Bupati berjanji akan menambah alokasi anggaran Dinas PU sebesar Rp7,5 miliar dan Dinas Pendidikan sebesar Rp6 miliar pada APBDP 2019," jelasnya.

Aleksius mengaku belum menyanggupi akan menyediakan Rp500 juta yang diminta Gidot. Tetapi dia berpikir untuk menawarkan proyek PL kepada para kontraktor memanfaatkan APBDP Bengkayang tahun 2019.

Usai rapat, Aleksius pulang ke Kantor Dinas PUPR. Di kantornya ia meminta beberapa anak buahnya menyiapkan berbagai program pada masing-masing bidang yang sifatnya pekerjaan langsung (PL) dengan anggaran berkisar di angka Rp180-200 jutaan.

Langsung dia mengambil langkah coba menghubungi Yosep alias Ateng, Rodi (RD), Bun Si Fat (BF) dan Pandus. "Saya sampaikan saya ada alokasi anggaran APBDP bentuknya PL, dengan syarat menyiapkan fee di muka sebesar 20 persen. Saya sampaikan ini untuk memenuhi keperluan Bupati," paparnya.

Penentuan fee 20 persen kata dia atas permintaan Alek sendiri kepada pihak swasta. Selain keempat terdakwa Alek mengaku juga ada pihak swasta lain yang dihubungi tapi mereka tak bersedia.

Sebagian dari mereka meminta waktu dan Alex memberikan waktu paling lama Senin, sesuai waktu yang ditentukan Bupati. "Saya sampaikan kalau bisa cepat, cepat. Kalau tidak sampaikan saja. Saya kasih waktu paling lama Senin," jelasnya.

Hingga batas waktu yang ditentukan, Alex mengakui ada komunikasi yang intens dengan para kontraktor. Alek pun secara aktif menanyakan kesiapan kontraktor menyiapkan anggaran tersebut. Sampai akhirnya keempat terdakwa, Yosep alias Ateng, Rodi (RD), Bun Si Fat (BF) dan Pandus bersedia menyiapkan uang yang diminta.

Karena Alek sejak Jumat sudah di Pontianak, proses penyampaian uang dilakukanlah melalui transfer menggunakan rekening istrinya, Cindo. Sebab Alek mengaku bahwa rekening miliknya tertinggal di Bengkayang.

Melalui rekening istrinya itu, Pandus mentransfer Rp50 juta, Yosep Rp50 juta dan Rodi Rp60 juta. Untuk memastikan transfer masuk Alek menghubugi keempat pendonor dana itu. "Saya hubungi beliau. Apakah sudah ditransfer. Masih-masing memberitahu by phone. Kalau tidak salah ada yang transfer Sabtu, dan Senin," ungkapnya.

Sementara, Bun Si Fat menyanggupi enam PL dan menyiapkan uang Rp120 juta yang penyerahannya di Pontianak, Minggu (1/10). Sedangkan dari terdakwa bernama Nely Margaretha dihubungi stafnya. "Dari staf melaporkan ada kesanggupan Nely membantu Rp60 juta. Nely mentransfer ke rekening staf," lanjutnya.

Dari para kontraktor itu, Aleksius berhasil mengumpulkan uang Rp340 juta. Setelah itu disiapkannya cash dan simpan melalui staf Alex di salah satu hotel. Senin, 2 November, Alek berkomunikasi dengan Bupati, yang ternyata batal ke Pontianak.

Barulah Selasa 3 September subuh Bupati dan Sekda tiba di Pontianak. Uang diserahkan Alek melalui Rinsen, ajudan Bupati di Mess Pemda Bengkayang.

"Saya serahkan melalu ajudan. Namun Rinsen tidak tahu. Tapi saya sudah sampaikan kepada Bupati, bahwa uangnya sudah siap. Terkait jumlah dan dari pihak mana saja tidak saya jelaskan," katanya.

Dari Rp340 juta itu, yang diserahkan Rinsen kepada Bupati hanya Rp300 juta. Yang Rp40 juta diakui Rinsen dia simpan dan sebagian dipakainya. Aleksius mengatakan tidak ada titipan dalam proses penentuan siapa yang akan mendapatkan proyek PL tersebut.

Dalam persidangan tersebut terungkap, Aleksius seperti telah biasa meminta uang kepada kontraktor. Terbukti pinjaman Rp100 juta kepada Rody tahun 2016 yang belum lunas. Namun dalam BAP awal Alek mengakui utang tersebut telah lunas dengan pernah memberikan proyek pada Rodi senilai Rp1,2 miliar.

Sidang Selasa (3/12), JPU KPK Feby mengadirkan beberapa saksi diantaranya Matius Setianto, Usman, Cindo dan Aleksius. Mulai dari Mateius Helpianto (menantu Pandus), Cindo (istri Alexsius), Usman (supir Alexsius) dan saksi kunci Alexsius yang Kadis PUPR Kabupaten Bengkayang.

Zakaria pengacara Pandus dan Yosep mengatakan dalam persidangan bahwa Alexsius yang membujuk Ateng dan Pandus menyerahkan uang. “Buktinya Pandus tidak mengejar. Saat Alek meminta, dia menghindar, saat Alek meminta baru dia menyerahkan,” ujarnya.

Proyek yang ditawarkan Alexsius pun tidak jelas. Pandus dan Ateng tidak tahu proyek mana yang dikerjakan dan memang sekarang tidak ada proyeknya. “Memang, Alexsius mengaku untuk membantu Pak Bupati menyelesaikan Bantuan Khusus (Bansus) yang ditangani Polda,” ungkapnya.

Jwaban saksi Aleksius dipersidangan pun dinilai Zakaria tidak nyambung. Ditanya siapa yang akan bertanggung jawab dalam kasus tersebut jika mereka tidak terkena OTT. “Jawabannya Pemda, kan tidak nyambung. Jawabanya ngelantur,” ujarnya.

Selama ini, klienya berhubungan baik dengan Kadis PUPR Alexsius. Bahkan pernah mendapatkan proyek langsung Pemkab. “Pandus pernah mendapatkan PL di tahun 2017. Sementara Ateng satu proyek di tahun 2018,” sebutnya.

Sehingga dengan bujukan Kepala Dinas, meminta fee di awal untuk mendapatkan proyek PL mereka (Pandus dan Ateng) yakin dan mengiyakan. Mereka lalu mentransfer masing-masing Rp50 juta ke rekening istri Aleksius. Sidang berlanjut Kamis depan.

 

Laporan: Andi Ridwansyah

Editor: Mohamad iQbaL

loading...

BACA JUGA

Jumat, 28 Februari 2020 15:01

Kisah Yoga dan Kuas Lukisnya, Set Alat Lukis Hilang Hingga Harus Menumpang di Truk

Petualangan itu dimulai dari sebuah ide kecilnya, berbagi. Yoga Ilhamsyah,…

Jumat, 28 Februari 2020 14:59

Kisah Yoga dan Kuas Lukisnya, Keliling Indonesia untuk Mengajar di Pedalaman

Petualangan itu dimulai dari sebuah ide kecilnya: berbagi. Yoga Ilhamsyah,…

Jumat, 28 Februari 2020 14:56

Ekspor di PLBN Aruk Kian Menggeliat, Kalau Ditambah Hasil Industri Pengolahan Makin Top..!!

PONTIANAK – Ekspor barang via Pos Lintas Batas Negara (PLBN)…

Kamis, 27 Februari 2020 00:25

Kapolda Kalbar Beri Perhatian Serius Ke Penggelola Grup Medsos

PONTIANAK—Kapolda Kalimantan Barat, Irjen Pol Remigius Sigid Tri Hardjanto memberikan…

Kamis, 27 Februari 2020 00:24

Pilkada Serentak di Depan Mata, Polda Kalbar Petakan Potensi Masalah

PONTIANAK—Tahapan Pilkada serentak tahun 2020 sudah berjalan. Sebanyak tujuh Kabupaten…

Senin, 24 Februari 2020 10:51

Survei: Dari Unsur Kepala Daerah, Anies Capres Terkuat di 2024

Lembaga survei Indo Barometer menyebut Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan…

Senin, 24 Februari 2020 10:47

Jangan Kriminalisasikan dan Tangkap Peladang Tradisional

PONTIANAK – Kasus kriminalisasi yang dialami peladang terus mendapat perhatian…

Senin, 24 Februari 2020 10:44

750 Batang Kayu Hasil Pembalakan Liar Diamankan Lantamal

PONTIANAK- Lantamal XII Pontianak melalui Posal Lanal Ketapang berhasil menggagalkan…

Rabu, 12 Februari 2020 12:51

Ke Singkawang dan Sambas, Gubernur Hadiri Cap Go Meh sampai ke PLBN Aruk

GUBERNUR Kalimantan Barat (Kalbar) Sutarmidji melaksanakan rapat kerja (raker) di Kota…

Rabu, 12 Februari 2020 12:48

Tunggu Air Surut, Keruk Lumpur Siang Malam

PONTIANAK—Eskavator difungsikan untuk mengeruk sendimen yang berada di Parit Sungai…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers