UTAMA | PONTIANAK | KRIMINAL | DAERAH

UTAMA

Rabu, 04 Desember 2019 11:29
Dari Ajang Olimpiade Penelitian Siswa Tingkat Nasional
Wastafel Sensor Portabel Antarkan Pelajar Sanggau Raih Medali Perak
WATAFEL PORTABEL. Adinda Aisyah Nindyani menunjukkan cara kerja wastafel senor portabel hasil karyanya, Selasa (3/12). Kiram Akbar

PROKAL.CO, SANGGAU- Kabupaten Sanggau seperti tak pernah kehabisan siswa-siswi cerdas. Lagi dan lagi. Kali ini giliran Adinda Aisyah Nindyani, siswi SLTPN 01 Sanggau, berhasil meraih medali perak di ajang Olimpiade Penelitian Siswa Indonesia (OPSI) tingkat nasional 2019 pada 26-30 November di Jakarta.

Diberitakan Rakyat Kalbar, ada tiga bidang di ajang OPSI 2019 tersebut, yaitu: IPA, IPS, dan Ilmu Pengetahuan Teknik dan Rekayasa. Adinda bertanding di bidang yang terakhir. Hasil karyanya berupa wastafel sensor portabel mendapat respon positif dari juri.

Adinda mengaku ide membuat wastafel tersebut sudah ada sejak Mei 2019. Lantaran adanya pernyempurnaan-penyempurnaan, proses pembuatan baru dilakukan pada April. Ide itu sendiri berawal ketika mengetahui jumlah wastafel di sekolahnya tak sebanding dengan jumlah siswanya.

Wastafel karya Adinda bukan wastafel ‘kaleng-kaleng’. Ia dilengkapi sensor gerak dan mampu mengubah air kotor bekas cuci tangan menjadi layak pakai kembali. Kepada awak media, Adinda sempat memeragakan cara kerja wastafel tersebut.

“Di sini menggunakan sensor. Wastafle nya hanya akan bekerja jika terjadi gerakan di bawahnya. Kemudian air setelah cuci tangannya ini, akan difiltrasi (disaring). Kemudian setelah difiltrasi, air kotor habis cuci tangan tadi akan layak guna kembali. Sehingga wastafle sensor portable ini sangat praktis, efektif, efisien dan hemat air dan listrik, karena menggunakan sensor,” terangnya, Selasa (3/12).

Ada dua tahap penyaringan untuk menghasilkan air yang layak pakai kembali. Pada proses penyaringan pertama air yang masuk dalam kotak akan disaring melalui lima penyaring yang terdiri dari pasir kerang, sabut kelapa, cangkang kerang, sabut kelapa yang sudah dihaluskan dan pasir kerang.

“Setelah itu air turun filtrasi mini yang berisi batu ziolite yang berfungsing menghilangkan minyak, ada pasir kerang lagi dan arang batok kelapa. Jadi dua tahap filtrasi, dengan waktu 10-15 menit sampai airnya bisa jernih dan layak pakai kembali,” rincinya.

Adinda sendiri mengaku tak menyangka akan jadi juara di ajang bergengsi itu. Pasalnya dari 102 peserta se-Indonesia, wastafel buatannya sangatlah sederhana.

“Karena dari provinsi lain alatnya jauh lebih canggih, bahkan ada yang pakai panel surya, alatnya besar dan canggih. Sementara dengan alat sesederhana ini rasanya tak mungkin menang,” ungkapnya.

Namun juri justeru menilai wastafel buatannya sangat aplikatif dan tak muluk-muluk. “Jadi wastafle sensor portable ini untuk diletakkan di kelas-kelas. Perangkat alat elektronikya menggunakan power supply, kami pakai bekas ampli,” pungkasnya.

Sementara itu, guru pembimbing Adinda, Wiwin Asriningrum lebih detail menceritakan awal mula ide hingga terciptanya wastafel tersebut. Rupanya hal itu terkait adanya gerakan cuci tangan yang digaungkan Dinas Kesehatan. Sementara satu sisi di sekolah telah mencanangkan gerakan membawa bekal, sehingga sanitasi harus benar-benar baik.

“Sekolah kita itu ada wastafel. Hanya saja jumlahnya tidak seimbang dengan jumlah siswa. Makanya kadang antre dan terlambat. Kemudian ada ide, dan kita punya forum karya ilmiah. Dan saya juga punya rumah karya ilmiah sanggau yang membidangi beberapa bidang IPS, IPA dan Teknologi. Tahun ini beberapa karya kami kirim. Cuma hanya satu karya yang lolos di nasional kedepannya lebih dikembangkan lagi,” bebernya.

Alasan-alasan itulah, lanjut Wiwin, menyebabkan para siswa berpikir kritis mulai dari hal-hal sederhana, yang bisa aplikatif di masyarakat. Terlebih menyangkut program sanitasi di sekolah yang erat kaitannya dengan kesehatan pribadi dan warga sekolah secara keseluruhan.

“Kita ada forum. Ketika di forum itu biasanya anak-anak punya ide, kemudian kita berpikir bersama, apa yang harus dilakukan. Kebetulan ini sebenarnya sejak 2018 sudah ada. Cuma setelah dilakukan uji, ternyata belum layak digunakan. Sehingga April 2019 itulah ada temuan untuk menghilangkan busa dan minyaknya sudah ada. Dan ternyata ada rahasia dalam filtrasi itu. Karena uji kelayakan air sangat mempengaruhi hasil,” pungkasnya.

Capaian yang terlah dilakukan Adinda dan Wiwin tentu sangat membanggakan bagi Kepala SLTPN 01 Sanggau, Margareta Lowe. Ia menuturkan prestasi tersebut sudah ketujuh kalinya sejak 2012.

“Sebenarnya sejak awal, setiap tahun itu kita mencari kader, terutama yang pandai bicara. Kemudian dibina dan gurunya browsing terkait lomba-lomba yang akan kita ikuti. Jadi sejak awal sudah dipersiapkan, apa lomba tahun depan. Yang penting yang ada hubungannya dengan sekolah dan sekitar kita,” ungkapnya.

Sejauh ini dukungan Pemda dinilainya cukup lumayan. “Pada 2012 kita dibiayai dan disuruh buat (penyaring air) dan kita distribusikan ke sekolah-sekolah. Sedangkan untuk keberangkatan kali ini dibiayai dari pusat,” ungkap Margareta. (Kiram Akbar/rk)

loading...

BACA JUGA

Jumat, 28 Februari 2020 14:59

Kisah Yoga dan Kuas Lukisnya, Keliling Indonesia untuk Mengajar di Pedalaman

Petualangan itu dimulai dari sebuah ide kecilnya: berbagi. Yoga Ilhamsyah,…

Jumat, 28 Februari 2020 14:56

Ekspor di PLBN Aruk Kian Menggeliat, Kalau Ditambah Hasil Industri Pengolahan Makin Top..!!

PONTIANAK – Ekspor barang via Pos Lintas Batas Negara (PLBN)…

Kamis, 27 Februari 2020 00:25

Kapolda Kalbar Beri Perhatian Serius Ke Penggelola Grup Medsos

PONTIANAK—Kapolda Kalimantan Barat, Irjen Pol Remigius Sigid Tri Hardjanto memberikan…

Kamis, 27 Februari 2020 00:24

Pilkada Serentak di Depan Mata, Polda Kalbar Petakan Potensi Masalah

PONTIANAK—Tahapan Pilkada serentak tahun 2020 sudah berjalan. Sebanyak tujuh Kabupaten…

Senin, 24 Februari 2020 10:51

Survei: Dari Unsur Kepala Daerah, Anies Capres Terkuat di 2024

Lembaga survei Indo Barometer menyebut Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan…

Senin, 24 Februari 2020 10:47

Jangan Kriminalisasikan dan Tangkap Peladang Tradisional

PONTIANAK – Kasus kriminalisasi yang dialami peladang terus mendapat perhatian…

Senin, 24 Februari 2020 10:44

750 Batang Kayu Hasil Pembalakan Liar Diamankan Lantamal

PONTIANAK- Lantamal XII Pontianak melalui Posal Lanal Ketapang berhasil menggagalkan…

Rabu, 12 Februari 2020 12:51

Ke Singkawang dan Sambas, Gubernur Hadiri Cap Go Meh sampai ke PLBN Aruk

GUBERNUR Kalimantan Barat (Kalbar) Sutarmidji melaksanakan rapat kerja (raker) di Kota…

Rabu, 12 Februari 2020 12:48

Tunggu Air Surut, Keruk Lumpur Siang Malam

PONTIANAK—Eskavator difungsikan untuk mengeruk sendimen yang berada di Parit Sungai…

Rabu, 12 Februari 2020 12:44

Korban Trafficking Usia 14 Tahun Melahirkan di Rumah Sakit Kuching

PONTIANAK – Seorang gadis 14 tahun asal Polewali Mandar, Sulawesi Barat…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers