UTAMA | PONTIANAK | KRIMINAL | DAERAH

UTAMA

Jumat, 22 November 2019 23:46
BERAT..!! Ekonomi Kalbar Merangkak, Pertumbuhan Terendah Dalam Empat Tahun
Kendati harga anjlok, produksi CPO Kalbar mengalami peningkatan.

PROKAL.CO, PONTIANAK –  Tahun 2019 semakin berat untuk Kalimantan Barat. Pertumbuhan ekonomi tahun ini menjadi yang terendah dalam empat tahun terakhir. Pertumbuhan pada triwulan III hanya berada di angka 4,95 persen. Angka ini berada di bawah rata-rata nasional 5,02 persen. Pertumbuhan Kalbar juga menjadi yang terendah se-Kalimantan.

Badan Pusat Statistik mencatat, pertumbuhan ekonomi Kalbar masih terus ditopang oleh konsumsi. Angka konsumsi rumah tangga pada triwulan III mendominasi hingga mencapai 51,67 persen. Sementara nilai ekspor Kalbar sumbangsihnya hanya 11,85 persen.

Sejumlah komoditas primer Kalbar, terutama crude palm oil (CPO) harganya anjlok di pasar dunia walaupun kinerja ekspor sedikit meningkat. Berdasarkan data terakhir, angka ekspor Kalbar sepanjang Januari-September mencapai  851,75 juta dolar AS. Terjadi peningkatan 18 persen dari 720,64 juta dolar pada periode yang sama tahun lalu.

Analis Bank Indonesia, Miftahul Huda menyebutkan, triwulan III memang secara historis adalah periode ‘lesu’ bagi Kalbar. Pasalnya momen ledakan konsumsi seperti Idulfitri, Imlek, Natal dan Tahun Baru ada di triwulan lain. Konsumsi pemerintah pun baru akan terdongkrak pada triwulan IV, saat tutup tahun anggaran. Pada kwartal penutup ini, ekonomi Kalbar akan terkerek dari realisasi proyek.

Diberitakan Rakyat Kalbar, dia setuju apabila pertumbuhan ekonomi Kalbar dianggap belum optimal, terutama melihat pada kinerja ekspor. Meskipun begitu, kondisi yang terjadi sebetulnya tidak begitu buruk. Pasalnya, kendati harga anjlok, produksi CPO Kalbar mengalami peningkatan. “Secara harga memang turun, tetapi volumenya meningkat dan sedikit mengalami kenaikan. Selain itu, kita belum menghitung produksi CPO kita yang memang sebagian besar tidak tercatat sebagai ekspor,” sebutnya.

Selama ini, pengiriman CPO Kalbar menumpang di pelabuhan lain seperti Pelabuhan Belawan, Sumatera Utara dan Tanjung Priok, Jakarta. Soalnya Kalbar tak punya pelabuhan internasional. Hal ini tidak hanya berpengaruh pada angka pertumbuhan. Pajak ekspor CPO Kalbar juga tercatat di provinsi lain. Akibatnya Kalbar tidak menikmati pajak ekspor dan pencatatan dari sumber daya alamnya sendiri.

Apabila Pelabuhan Internasional Kijing, Kabupaten Mempawah yang tengah dibangun PT Pelindo II beroperasi tahun depan, ia yakin angka ekspor Kalbar akan melejit.  “Ekspor CPO akan tercatat sebagai ekspor Kalbar sendiri.  Tidak lagi tercatat sebagai ekspor Sumatera Utara atau Jakarta,” ungkap Kepala Fungsi Asesmen Ekonomi Surveilans Kantor Perwakilan Bank Indonesia Kalbar ini. Dampak lainnya, pelabuhan dan kawasan industri di sana juga akan membuka lapangan pekerjaan serta merangsang tumbuhnya sentra ekonomi baru.

Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Kalbar, Santyoso Tio berpendapat lain. Menurutnya, untuk mendongkrak ekspor CPO tak harus menunggu Pelabuhan  Kijing beroperasi. Kalbar bisa memanfaatkan Pelabuhan Senari, Sarawak yang punya kapasitas 16.000 DWT sebagai tempat pengapalan. Dari PLBN Entikong, jarak ke Senari hanya satu jam. Dengan demikian, biaya logistik akan jauh berkurang ketimbang harus mengitari lautan menuju pelabuhan di Sumatera dan Jawa.

Apalagi Pelabuhan Senari menghadap langsung ke Tiongkok dan negara-negara Asia Timur lain yang menjadi pasar terbesar CPO Kalbar. Ujungnya harga tandan buah segar (TBS) sawit akan naik. “Tingginya biaya logistik tujuan ekspor-impor selama ini menjadi salah satu faktor inefisiensi ekonomi di kita. Daya saing kita menjadi sangat lemah dibanding provinsi lain, apalagi negara lain. Untuk meningkatkan ekspor, kuncinya adalah menurunkan biaya logistik,” imbuhnya.

Faedah utama lainnya, ekspor CPO akan tercatat di Kalbar. Pajak ekspor pun akan masuk ke PAD provinsi ini. Cara ini sebenarnya sudah diterapkan oleh grup Sinar Mas yang mengeskpor CPO melalui pintu perbatasan Badau, Kapuas Hulu. Namun skalanya masih kecil.

Menurut Santyoso, pemerintah daerah harus terus mendorong agar Kalbar memperoleh pajak ekspor CPO. Betapa tidak, sebanyak 3,4 juta ton CPO Kalbar diekspor dalam setahun. Nilainya puluhan triliun.  “Sambil menunggu Pelabuhan Kijing beroperasi, Entikong dan pintu perbatasan lain bisa mejadi pelabuhan darat. Tentu ini perlu kebijaksanaan dan dukungan dari pemerintah pusat. Kalbar sudah terlalu lama dirugikan,” ujarnya.

Ekonom Universitas Tanjungpura Prof Eddy Suratman, menyebut komoditas kelapa sawit dan karet sangat memengaruhi ekonomi masyarakat bawah. Apabila harganya anjlok, ekonomi masyarakat otomatis terpengaruh. Daya beli pasti menurun dan segera merembet ke sektor ekonomi lain. Celakanya, harga TBS di Kalbar tergolong rendah dibanding daerah lain lantaran kalah daya saing.

Berharap pada sektor lain juga sulit. Investor tidak akan tertarik untuk membangun industri hilir di Kalbar apabila infrastrukturnya masih seperti sekarang. “Persoalannya ada di infrastruktur kita, terutama listrik, jalan dan air bersih. Hilirisasi tak akan terjadi bila tak ada itu. Kita sedang mengejar hal itu dengan pembangunan jalan, pembangkit listrik dan pelabuhan,” sebutnya. (ars)

loading...

BACA JUGA

Senin, 31 Agustus 2015 00:39

Ini Penyebab Mantan Kadispenda Kalbar Tewas

<p>SAMBAS-RK. Kecelakaan maut di Jalan Raya Parit Baru, Desa Parit Baru, Kecamatan Salatiga, Sambas,…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers