UTAMA | PONTIANAK | KRIMINAL | DAERAH

UTAMA

Rabu, 20 November 2019 22:38
Pertumbuhan Ekonomi Kalbar Melambat

Mampukah Pelabuhan Kijing Dongkrak Ekspor Komoditi?

Gubernur Kaltim Sutarmidji saat meninjau pelabuhan Kijing.

PROKAL.CO, PONTIANAK- Indonesia tak berhasil memanfaatkan perang dagang Amerika Serikat versus Republik Rakyat Tiongkok (RRT) seperti diraih Thailand, Malaysia, Vietnam, Korsel dan Negara Asean lainnya. Bisakah Kalbar meraih keuntungan lewat Pelabuhan Kijing?

Pertanyaan itu menggoda Miftahul Huda, Kepala Fungsi Asessment Ekonomi Surveilans Kantor Perwakilan (KPw BI Kalbar). Ia belum bisa memastikan pertumbuhan ekonomi Kalbar 2020 akibat perang dagang Amerika vs RRT. Kecuali jika Kalbar mampu meningkatkan ekspor.

“Untuk Outlook 2020, sejauh ini kami sendiri belum ada gambaran untuk target nasional. Kedepan paling tidak ada tantangan terutama dampak perang dagang antara Cina dan Amerika,” ujar Miftahul Huda, pada Forum Komunikasi Jurnalis Bank Indonesia.

Sebaliknya, Huda khawatir jika dampak perang dagang itu belum tersolusikan di Kalbar. “Tentu akan mengganggu pertumbuhan ekonomi terutama Kalbar. Sebab, sejauh ini ekspor Kalbar masih didominasi alumina, CPO, bauksit. Itupun masih tergantung dengan harga komoditas dunia,” katanya.

Tapi dia optimis Kalbar bisa mendongkrak perekonomian melalui nilai ekspor dengan kehadiran Pelabuhan Kijing Internasional jika telah selesai dibangun. “Yang penting penting itu bagaimana Kalbar bisa mendongkrak ekspornya. Jika pembangunan Pelabuhan Kijing itu tepat waktu penyelesaiannya, yang akhirnya akan sangat kontributif terhadap ekspor,” tambahnya.

Namun, Huda sepertinya tak ingin overestimate. Jika pun pertumbuhan tak capai target, dia berharap angka yang muncul masih tetap atau stagnan. Sebab, menurutnya, banyak faktor eksternal yang melingkupinya. Dan itu harus dikawal pembangunannya.

 

PERLAMBATAN

 

Pertumbuhan ekonomi Kalbar sendiri menurut Huda mengalami perlambatan, khususnya Triwulan III tahun 2019. Didorong oleh perlambatan permintaan domestik, terutama pada konsumsi rumah tangga. Itu didorong pola historis akibat normalisasi permintaan pasca hari besar keagamaan nasional (HBKN) pada triwulan sebelumnya.

“Perlambatan ekonomi Kalbar yang hanya tumbuh 4,95 persen pada triwulan III, setidaknya dapat diredam oleh peningkatan kinerja ekspor, sehingga tak melemah terlalu dalam. Peningkatan didukung oleh harga komoditas dunia yang masih cukup baik. Tanpa ekspor, bisa saja pertumbuhan Kalbar akan melambat lebih dalam lagi,” tandasnya.

Dilihat dari data Badan Pusat Statistik (BPS), dari sisi pengeluaran, pertumbuhan tertinggi pada Triwulan III 2019 terhadap Triwulan III 2018 (yoy), dicapai oleh Komponen Ekspor Barang dan Jasa sebesar 31,80 persen. Diikuti Komponen Pengeluaran Konsumsi Lembaga Non Profit Rumah Tangga (PK-LNPRT) sebesar 9,13 persen; serta Impor Barang dan Jasa sebesar 5,33 persen.

Sedangkan terhadap Triwulan II 2019, pertumbuhan tertinggi terjadi pada Komponen Impor Barang dan Jasa dan diikuti oleh Komponen Ekspor Barang dan Jasa yang tumbuh masing-masing sebesar 17,37 persen dan 16,22 persen. (novasari/rk)

loading...

BACA JUGA

Senin, 31 Agustus 2015 00:39

Ini Penyebab Mantan Kadispenda Kalbar Tewas

<p>SAMBAS-RK. Kecelakaan maut di Jalan Raya Parit Baru, Desa Parit Baru, Kecamatan Salatiga, Sambas,…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers