UTAMA | PONTIANAK | KRIMINAL | DAERAH

PONTIANAK

Minggu, 03 November 2019 16:17
Menilik Pelayanan Rawat Jalan di Rumah Sakit Soedarso
SABAR MENUNGGU: Pasien yang sabar menunggu sebelum pintu gedung RSUD Soedarso dibuka, Rabu (16/10). ADI RACHMAD/PONTIANAKPOST

PROKAL.CO, Puluhan orang berkerumun di depan Gedung Instalasi Rawat Jalan RSUD Soedarso. Mereka calon pasien rawat jalan. Sebagian di antara mereka sudah datang subuh hari sejak sebelum pintu gedung dibuka.

Adi Rahmad, Pontianak

PEMANDANGAN seperti itu memang lazim terlihat di hari kerja antara Senin hingga Jumat di waktu pagi. Beberapa pasien sudah tiba di RSUD Soedarso sebelum matahari benar-benar terbit. Bagi mereka, menunggu empat atau lima jam untuk berobat termasuk hal yang biasa.

Pontianak Post mencoba mengikuti beberapa pasien rawat jalan untuk mengetahui berapa waktu yang diperlukan dalam sekali pelayanan di RSUD Soedarso. Jika diakumulasi, waktu tunggu dari datang hingga selesai antrean di apotek bisa mencapai hampir enam jam.

Salah satunya dialami Sunarto (65). Langit masih gelap saat Sunarto memasuki kawasan RSUD Soedarso. Hanya ada satu dua sepeda motor lain yang terparkir di samping motornya dekat patung Soedarso. Suasana masih sangat sepi.

Hari itu Sunarto memang awal. Ia bahkan mengalahkan azan subuh yang baru berkumandang sesaat setelah dia datang. “Saya sudah biasa datang subuh-subuh. Dari dulu saya selalu datang awal. Ya, supaya dapat antrean pertama,” katanya, Rabu (16/10).

Sunarto pun memutuskan untuk melaksanakan salat Subuh di Masjid Asy-Syifa, Soedarso. Selepas salat, ia bergegas ke gedung Instalasi Rawat Jalan, memulai waktu tunggunya. Begitu sampai, Sunarto lalu menuliskan nama di secarik kertas yang memang sudah tersedia di pelataran. Kali ini ia orang pertama yang menuliskan nama. Di lain waktu, kejadiannya bisa berbeda.

Tulisan nama di kertas itu akan digunakannya untuk mendapat nomor antrean di bagian informasi. Sekarang yang harus dia lakukan adalah menunggu. Menunggu satu setengah jam ke depan sampai pintu gedung dibuka.

Tepat pukul 06.33, pintu Gedung Rawat Jalan dibuka oleh satpam. Saat itu sudah lebih dari 30 calon pasien yang bersama dengan Sunarto menunggu di depan gedung. Sunarto lalu mendatangi bagian informasi guna mendapatkan nomor urut miliknya, nomor urut pertama. Setelah itu, ia harus menunggu lagi sampai loket pendaftaran pelayanan dibuka pukul 07.00, atau sekitar 30 menit kemudian.

Pukul 07.01, loket lansia pun dibuka. Nomor urut pertama milik Sunarto lantas dipanggil. Hanya beberapa menit setelahnya, ia diarahkan ke bagian Poli Syaraf di lantai III Gedung Rawat Jalan Soedarso. Sesampainya di lantai III, kondisinya seperti mengulang apa yang terjadi saat dia datang pagi tadi. Ruangan poli syaraf yang berdekatan dengan poli gigi dan beberapa poli lain masih sepi. Hanya ada satu dua perawat yang hilir mudik tak jelas.

Akhirnya, kami duduk di bangku panjang warna putih di samping ruang dokter. Kami berbincang banyak dari pengalaman hidup hingga perkara menunggunya di RS Soedarso kali ini.

“Orang-orang yang digaji rakyat itu ya pelayan rakyat, jadi harus bener-bener jalankan tugas. Ini semua kan amanah. Titipan. Orang itu kalau dia bener, pasti akan dipercaya orang, dipakai orang,” katanya.

Sunarto mengerti betul artinya pengabdian. Ia seorang pensiunan tentara. Sejak tahun 1976 ia bertugas di Kalimantan. Ia purnatugas sejak 2004 silam. Ia sekarang berumur 65 tahun dan mengidap batuk tak henti-henti sejak dua bulan lalu saat kabut asap menyelimuti langit Kalbar.

Menurut Sunarto, sehari sebelumnya ia telah di-rontgen. Dari hasil foto sinar X itu diketahui bahwa di paru-parunya terdapat luka. Batuknya sering. Kalaupun tak mau dikatakan tanpa henti, setidaknya ia batuk kira-kira tiap 20 detik. Apabila banyak bicara, ia pasti akan batuk. Suaranya juga parau. Penyakitnya semacam gejala TB Paru, tapi belum pasti.

Hari itu ia ingin mendapatkan kepastian soal penyakitnya kepada dokter. Untuk soal rawat di Poli Paru ini, Sunarto memang masih baru. Namun perkara rawat jalan di RSUD Soedarso, ia sudah mulai sejak empat tahun belakangan.
Sunarto sempat dipanggil oleh perawat untuk cek kondisi tubuh. Prosedur ini istilahnya assessment keperawatan. Ia dipanggil pukul 08.27 dan selesai dicek pada pukul 08.32. Baru setelah jam menunjukkan angka 09.17, seorang dokter masuk ke ruangan. Ketika itu, Dokter Chandra yang bertugas. Sunarto lalu dipanggil masuk ruangan dokter setelah menunggu di lantai III selama dua jam 17 menit sejak pukul 7.10 pagi.

Sebenarnya ia tidak lama berada di dalam ruangan bersama dokter. Hanya sekitar 10 menit. Pada pukul 09.35, ia diarahkan untuk pemeriksaan lanjutan berupa cek dahak di Poliklinik TB di luar Gedung Rawat Jalan, dekat area parkiran motor. Berbekal resep dan sebuah pengantar dari dokter, ia menuju ke poliklinik tersebut. Ia butuh waktu sekitar 10 menit di tempat itu. Waktu pun menunjukkan pukul 09.47.

Dari Poliklinik TB, Sunarto melanjutkan ke apotek untuk menebus obat yang harus dikonsumsinya. Jaraknya sekitar 150 meter dari tempat sebelumnya. Di depan apotek, ada kabar baik. Antrean tak begitu ramai, tak lebih dari 10 orang. Dan hanya delapan menit setelahnya, Sunarto sudah mendapatkan obatnya.

Namun, hanya dua dari empat jenis obat yang ada di apotek itu. Sisanya harus dibeli di tempat lain. Saat itu pukul 09.56. Proses Sunarto mengakses rawat jalan di RSUD Soedarso pun berakhir.

Jika diakumulasikan sejak ia datang sebelum salat Subuh, artinya Sunarto menghabiskan waktu lima jam 56 menit. Sementara jika hanya dihitung murni saat pelayanan, yakni dari waktu bertemu dengan petugas loket, dokter, perawat, dan pegawai apotek, maka waktu yang diperlukan tidak sampai satu jam.

Sebab Lamanya Soedarso

Diah Kusuma Wardhani, Kepala Bidang Pengendalian RSUD Soedarso yang menyatakan bila penulisan nama di secarik kertas dibuat atas inisiatif pasien, bukan dari pihak RSUD Soedarso. “Mungkin itu inisiatif pasien agar lebih adil. Sebenarnya kita udah ada mekanisme antrean segala macam itu,” kata Diah, Senin (21/10).

Untuk mengurangi waktu antrean ini, sambung Diah, pihak rumah sakit sudah membuat mekanisme pendaftaran online. Akan tetapi sistem yang dibuat sejak Juli 2019 ini masih belum optimal.

“Kita pake website, pendaftaran online. Pendaftaran online hanya bisa untuk pasien lama ya, yang sudah ada nomor rekam medik, nomor pendaftaran. Kita menunggu-nunggu sebenarnya, karena sampai sekarang belum ada yang masuk. Beberapa kemaren hanya ada satu duaorang yang masuk,” jelasnya.

Pihaknya pun akan berupaya menyempurnakan sistem yang sudah ada agar lebih dekat dan bisa diterima calon pasien. Menurutnya, salah satu kekurangan sistem itu yakni hanya menggunakan email. Sementara, sebagian calon pasien belum lazim menggunakan email.

“Cuma nanti ke depan kita akan sederhanakan tidak melalui email. Kita melalui sms. Mungkin itu yang lebih familiar. Segala hal penumpukan pasien sudah kita antisipasi sejak lama. Hanya tinggal kesadaran pelanggannya aja sih, apakah dia mau susah apa mau gampangnya,” ungkap Diah.

Dari serangkaian pelayanan yang diakses pasien, fase menunggu dokter di poli termasuk salah satu bagian yang paling menyita waktu. Sunarto bahkan menghabiskan waktu lebih dari dua jam sebelum bertemu dokter.

Menurut Eni Nuraeni, Kepala Bidang Pelayanan RSUD Soedarso, antrean semacam itu memang wajar dan masih dalam batas normal. Ia menyebutkan, seorang dokter memang diberi waktu maksimal satu jam sejak dibukanya jam pelayanan untuk mulai memeriksa pasien. Jeda waktu satu jam itu digunakan oleh perawat atau pembantu dokter untuk melakukan assessment keperawatan.

“Ya, kita tidak menghitung dari jam subuh dong. Kita harus fair. Kita hitung dari waktu kami buka,” kata Eni.

Berdasarkan pantauan Pontianak Post, loket telah buka pukul 07.00, lebih cepat dari jadwal yang terpampang bahwa jam pelayanan dimulai pukul 08.00. Sayangnya, pemajuan waktu buka loket ini tidak disertai dengan dimajukannya jam masuk dokter.

Ketika ditanya apakah ada dokter yang datang lebih lambat dari ketentuan maksimal, Eni menjawab diplomatis. Ia hanya bisa memastikan bahwa sudah ada sistem yang selalu mengontrol setiap dokter. Menurutnya, semua aturan di RSUD Soedarso didasarkan pada Standar Pelayanan Minimal yang diterbitkan oleh Kemenkes.

“Biasanya sih kami pantau, gini loh, kadang kita juga toleran kepada dokter yang hanya sendiri. Misalnya bedah anak, bedah plastik cuma sendirian. Dia juga operasi, dan (melayani) pasien di belakang (rawat inap),” ungkap Eni.(adi)

loading...

BACA JUGA

Minggu, 06 September 2015 11:14

Pegawai Bank Kalbar Diduga Gelapkan Uang Nasabah Rp1,6 M

<p style="line-height: 1.38; margin-top: 0pt; margin-bottom: 0pt;" dir="ltr"><span…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers