UTAMA | PONTIANAK | KRIMINAL | DAERAH

UTAMA

Kamis, 24 Oktober 2019 12:04
Nadiem Mendikbud, Akademisi di Sini Kurang Sreg
Nadiem Makarim

PONTIANAK- Kebudayaan dan pendidikan Indonesia sudah cukup dewasa. Ketika Bos Gojek dari generasi milenial berusia 35 tahun, Nadiem Makarim, berjajar bersama 33 Menteri Kabinet Indonesia Maju, dilantik oleh Presiden Joko Widodo, Rabu (23/11), banyak yang terperangah. Menjadi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), sosok pebisnis jasa ojek itu kontan jadi perhatian. Dari Jakarta hingga seantero nusantara, para praktisi pendidikan dan bahkan pelaku bisnis bertanya-tanya.

"Saya termasuk orang yang terkejut juga dengan posisi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan yang diumumkan pemerintah hari ini," tutur pengamat pendidikan dari Universitas Tanjungpura, Dr Aswandi, kepada Rakyat Kalbar, Rabu (23/10).

Mungkin ini kejutan kedua dan ketiga setelah kompetitor Joko Widodo di Pilpres 2019, Prabowo Subianto duduk di kursi Menteri Pertahanan, dan jenderal polisi aktif Tito Karnavian di posisi Menteri Dalam Negeri.

Aswandi, Wakil Rektor Universitas Tanjungpura Bagian Akademik, itu sepertinya kurang sreg dengan keputusan Presiden soal penunjukan Bos Gojek memimpin Kementerian, yang penuh orang berpengalaman di bidang pendidikan dan kebudayaan. "Rasa kurang pas, gitu ya," ujarnya.

Apalagi lembaga pendidikan tinggi (Dikti) itu berada di bawah kendali Dikbud. Latar Nadiem yang bisnis praktis dan bahkan instan diperkirakan akan bertabrakan dengan konsep pendidikan dan kebudayaan.

Tak heran kalau sejumlah pihak meragukannya. Nadiem harus berhadapan dengan para Rektor Universitas bergelar profesor hebat dan akademisi senior.

Menurut Aswandi, memimpin Kemendikbud sangat berat. Tugasnya bukan sekedar mengajarkan manusia bisa bekerja saja secara instan. Lulus SLTA, sarjana, harus siap bekerja. Kemendikbud itu harus bisa memanusiakan manusia.

Karena itu tak keliru kalau Aswandi berpendapat, untuk mengurusi dunia pendidikan mesti dipimpin orang yang paham betul tentang dunia pendidikan. "Saya tidak bisa bayangkan. Betapa nanti seorang Menteri yang hari-hari bergelut di dunia usaha, lalu harus bekerja di dunia pendidikan," ucapnya.

“Nampaknya, menurut saya ya, barangkali agak berat ya. Saya tu rasa belum pas betul dengan komposisi ini. Tapi kita gak tau ya, dari mana pertimbangan Bapak Presiden," kata Aswandi bertanya-tanya.

Di usia Nadiem yang masih yunior, memikul tanggung jawab sebagai Mendikbud, menurut Aswandi, mengkhawatirkan. Akan canggung mengurusi dunia pendidikan khusus perguruan tinggi. "Dia harus menghadapi Rektor yang hebat-hebat. Canggung itu nanti. Saya rasa tidak efektif nanti itu," tandasnya.

Ditanya sasaran dan tujuan kabinet menempatkan the right man in the wrong place, secara spesifik Aswandi juga tidak begitu paham apa yang ingin dicapai Presiden dengan menempatkan sosok milenial memimpin Kemendikbud. "Yang tahu tentu Presiden, apa pertimbangannya. Saya sendiri juga bingung. Barangkali sosok muda ini dinilai mampu melakukan menejerial. Dianggap anak muda yang hebat luar biasa. Tetapi, basic-nya bukan orang pendidikan," pungkasnya.

Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Untan, Khairudin, mengapresiasi keberanian Presiden dalam pelibatan tokoh milenial di kabinet kerjanya. Namun, untuk sosok Nadiem Makarim memimpin Kemendikbud dirasanya kurang pas. Sebab, Bos Gojek itu tak memiliki pengalaman di dunia Pendidikan.

"Kalau mengembangkan dunia star-up, saya rasa beliau sangat mampu. Cuman kalau di pendidikan, beliau belum ada pengalaman. Dan Kementerian itu bukan untuk coba-coba atau cari pengalaman. Karena itu saya merasa kurang pas juga," ujar Khairudin.

Harusnya, lanjut Khairudin, jabatan-jabatan menteri diisi oleh orang-orang yang punya keahlian sesuai bidang. Supaya konsep pembangunan yang akan dilaksanakan benar-benar menyentuh substansi.

"Kami sangat senang, milenial dilibatkan dalam kabinet. Tapi, posisinya harus disesuaikan dengan keahliannya," pungkasnya.

Bagi Rektor IKIP PGRI Pontianak, Rustam, penunjukan Nadiem Makarim, dengan usai yang begitu muda sebagai Mendikbud telah melalui pertimbangan dan perenungan yang matang dari presiden. "Oleh karena itu, maka, mari kita bersama-sama bekerja, menanti program kerja dan kinerja beliau untuk dapat memajukan dunia pendidikan di Indonesia,” tuturnya kepada eQuator.co.id.

Ia mengajak civitas pendidikan se-Nusantara untuk memberikan kesempatan kepada Bapak Menteri Milenial itu. “Dalam menyongsong dunia pendidikan digital, ilmu pengetahuan dan teknologi, serta arus globalisasi, yang sangat kompetitif ini, agar dapat mengantarkan pendidikan di Indonesia menjadi lebih baik lagi," papar Rustam.

Pun diharapkannya, Nadiem mampu memberikan solusi terkait permasalahan-permasalahan di dunia pendidikan saat ini. Yang begitu kompleks dan majemuk, di tengah-tengah masyarakat di Indonesia yang multikultural.

Akan tetapi, Rustam mengakui, pengalaman dan jam terbang dalam dunia pendidikan tak kalah pentingnya. Meskipun ia meyakini Nadiem sudah memiliki solusinya.

“Merangkul dan kerja sama dengan ahli-ahli atau pakar-pakar di dunia pendidikan dan jejaring praktisi serta pegiat pendidikan, juga para guru besar di Indonesia maupun di luar negeri, saya kira akan menjadi prioritas Beliau dalam menentukan arah kebijakan nantinya,” ujarnya.

Imbuh dia, “Demi perubahan yang fundamental bagi pendidikan di Indonesia, baik sekolah dasar, menengah dan atas, serta pendidikan tinggi untuk menjadi lebih baik lagi”. (Abdul Halikurrahman, Andi Ridwansyah/rk)

loading...

BACA JUGA

Senin, 23 Mei 2022 11:30

Bumblebee Goby yang Mulai Menghilang dari Parit Pontianak

Apa itu bumblebee goby? Masyarakat Kota Pontianak pasti tidak familiar dengan…

Senin, 23 Mei 2022 11:28

Kejari Singkawang Tahan EP, Tersangka Dugaan Korupsi BPNT Kemensos di Kota Singkawang

Kejaksaan Negeri Singkawang menahan EP, tenaga pelaksana Bantuan Pangan Non…

Kamis, 05 Mei 2022 13:16

3 Ribu Lebih Narapidana di Kalbar Mendapat Potongan Masa Hukuman

Hari Raya Idul Fitri menjadi momen yang ditunggu banyak orang,…

Kamis, 05 Mei 2022 13:14

Gubernur Kalbar, Larangan Ekspor Minyak Sawit Miliki Dampak Positif dan Negatif

Gubernur Kalimantan Barat (Kalbar) Sutarmidji sempat bingung soal kebijakan larangan…

Kamis, 05 Mei 2022 13:07

Kuota Haji Kalbar 1.150 Jemaah

 Kuota Haji Provinsi Kalimantan Barat telah ditentukan. Darohman, Kepala Bidang…

Kamis, 28 April 2022 00:04

Pendangkalan Sungai Kapuas Bukti Nyata Perubahan Iklim di Kalbar

Pendangkalan di aliran Sungai Kapuas menjadi indikasi rusaknya lingkungan di…

Rabu, 27 April 2022 23:58

Ahli Waris Pertanyakan Pembayaran Lahan Jembatan Kembar Landak

Proses pembayaran lahan dampak dari pembangunan Jembatan Duplikasi atau jembatan…

Rabu, 27 April 2022 23:55

Sekda Kalbar: ASN Jangan Mudik Pakai Kendaraan Dinas!

 Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat (Kalbar) melarang pejabat dan Aparatur Sipil…

Minggu, 17 April 2022 21:16

Tambang Emas Makan Korban Lagi, Enam Pekerja di Bengkayang Tewas Tertimbun

 Aktivitas Penambangan Emas Tanpa Izin (PETI) di wilayah kabupaten Bengkayang…

Minggu, 17 April 2022 21:14

Konsumsi Listrik Meningkat, Tanda Perekonomian di Kalbar Semakin Menggeliat

Hingga akhir Maret (TW 1) tahun 2022, PLN Kalbar mencatatkan…

Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers