UTAMA | PONTIANAK | KRIMINAL | DAERAH

UTAMA

Rabu, 23 Oktober 2019 13:44
Sempat Rambah Flora Fauna di TWA Bukit Kelam, Empat WNA Polandia Bebas
WNA. 4 Orang Polandia dimintai keterangan oleh petugas BKSDA Sintang dan Kepolisian di Kantor BKSDA Sintang, sebelum dibawa ke Kota Pontianak, Selasa (19/3) malam. Saiful Fuat/eQuator.co.id

PROKAL.CO, SINTANG-  Masih ingat empat warganegara Polandia yang ditangkap BKSDA dan Polres Sintang, 19 Maret silam? Mereka kepergok mengambil beberapa jenis fauna dan flora di kawasan konservasi TWA Bukit Kelam tanpa izin.

Tiga hari lagi mereka akan dibebaskan dari Lapas Sintang. Keempatnya telah menjalani hukuman lima bulan penjara. "Benar Mas, empat WNA itu akan dibebaskan Jumat (25/10) mendatang," ujar Kalapas Sintang Toro Wiyarto, dikonfirmasi via Selasa (22/10).

"Nanti saat dibebaskan mereka akan dijemput oleh Imigrasi Sanggau. Jadi, selain kurungan, masing-masing WNA Polandia itu harus membayar denda Rp40 juta. Kalau tidak, hukuman kurungan penjara ditambah dua bulan," jelas Toro, “Denda sudah dibayar oleh Kedutaan Besar Polandia.” lanjutnya seperti diberitakan Rakyat Kalbar.

Tidak dijelaskan sebelumnya, apakah keempatnya yakni OJ (31), HF (44), BP (31) dan T6 (46), berasal dari lembaga penelitian pemerintah Polandia, universitas, kolektor atau pedagang satwa liar dari Asia.

Kalbar memiliki sumber daya alam yang luar biasa kaya dengan berbagai flora, fauna yang menjadi inceran lembaga penelitian asing terutama Eropa dan Amerika. Kawasan cagar alam, taman nasional dan konservasi seperti TN Danau Sentarum, TN Gunung Palong, dan kawasan lainnya menyimpan berbagai satwa dan tumbuhan yang bahkan banyak belum diketahui spesies dan ordenya.

Saat ditangkap di taman wisata alam Gunung Kelam, empat warga Polandia itu tengah mengumpulkan ratusan satwa dan tumbuhan dari kawasan hutan konservasi. Pantauan Rakyat Kalbar saat di Kantor KSDA Sintang, Maret lalu, satwa liar mulai serangga hingga satwa lainnya.

Dalam tas mereka terlihat diantaranya kalajengking, laba-laba, laba-laba bertanduk, tarantula, kaki seribu, kodok, kalajengking cambuk, kecoa hutan, kecoa hitam, dan tumbuhan berupa anggrek dan daun kupu-kupu.

Setiap jenis yang diambilnya jumlahnya lebihi dari satu. Diduga mereka akan mengembangbiakkan di negerinya bila lolos dari aparat lembaga terkait di Indonesia. Mereka berdalih, semua yang diambilnya dari alam kawasan konservasi untuk difoto, kemudian dilepas kembali.

Alibi itu tak beralasan. Mengapa tidak langsung dipotret ditempat tanpa menangkapnya? Karena itu mereka ditangkap berdasarkan UU Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan, tentang larangan mengambil tumbuhan dan satwa dari kawasan hutan di wilayah Indonesia.

Terlebih, mereka masuk ke Indonesia menggunakan visa wisata, tanpa SIMAKSI. Praktik-praktik pencurian flora-fauna oleh warga asing diduga akan meningkat bila pengawasan kendor. ( Saiful Fuat/rk)

loading...

BACA JUGA

Senin, 31 Agustus 2015 00:39

Ini Penyebab Mantan Kadispenda Kalbar Tewas

<p>SAMBAS-RK. Kecelakaan maut di Jalan Raya Parit Baru, Desa Parit Baru, Kecamatan Salatiga, Sambas,…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia.
*