UTAMA | PONTIANAK | KRIMINAL | DAERAH

UTAMA

Rabu, 09 Oktober 2019 11:51
Belum Ada Larangan Budidaya dan Jual Beli Kratom

Polda: Polisi Bertindak Bila Ada Payung Hukumnya

‘TERLANTAR’. Seorang petani di Putusssibau Selatan ‘menelantarkan’ kebun kratomnya yang sudah siap panen, lantaran tidak ada pembeli, Selasa (8/1). Andreas-RK

PROKAL.CO, PUTUSSIBAU- Janji Presiden Joko Widodo akan memberikan kepastian hukum dan ekonomi kepada petani Kratom (Mitragyna speciosa), saat dialog dengan warga penerima sertifikat tanah TORA, September lalu, di Pontianak, kehilangan gaungnya.

Petani pohon yang daunnya bernilai ekspor tinggi di Kapuas Hulu itu kini lesu darah merawat kebunnya. Diduga akibat isu-isu yang ditebar kelompok tertentu. Bahwa Kratom mengandung zat adiktif seperti narkotika.

Mimpi buruk dan awan mendung menimpa ratusan petani Kratom, dua bulan terakhir. Ribuan warga yang terlibat dalam proses Kratom hingga ekspor, bakal menganggur. Salah satunya, Ilyas, petani Kratom di Putussibau Selatan.

"Kratom saat ini sudah banyak yang siap panen, namun kami lebih memilih tidak memanen karena tidak adanya pembeli," tutur Ilyas kepada Rakyat Kalbar, Selasa (8/10), di kebunnya.

Tidak ada pembeli. Itu masalahnya kini. Ekspor yang dulunya lancar kini gemetar. Petani pun bisa gulung tikar.

Diduga berbagai isu menebar sehingga pembeli enggan menginvestasikan modalnya. Padahal, bisnis triliunan rupiah itu sangat menggiurkan bagi perekonomian bila ekspor Kratom dikelola dengan benar.

“Kami berharap Pemerintah bisa segera mengatasi, agar sulitnya perekonomian di Kapuas Hulu ini kembali stabil,” harap Ilyas.

Diakuinya, saat ini kondisi perekonomian warga sedang macet. Para petani kesulitan untuk memenuhi kebutuhan hidup, pendidikan, dan kesehatan keluarga. "Kratom merupakan komoditi andalan masyarakat saat ini, jika Kratom ditutup, masyarakat tidak memiliki alternatif usaha lain lagi, akibatnya bisa berdampak pada angka kriminalitas yang tinggi," keluhnya.

Apalagi, lanjut ia, saat ini harga sejumlah barang kebutuhan pokok mengalami kenaikan yang signifikan. "Sudah dua bulan terakhir kita bertahan dengan kondisi sulit ini," ucapnya sambil menghela nafas. Petani lainnya, Ambo, nyaris kehabisan akal untuk menyelamatkan kebun dan hasil Kratomnya. Dia sudah menggelontorkan banyak uang di bisnis ini.

"Kami sudah menghabiskan modal yang besar untuk menanam Kratom ini," ungkap Ambo. Jika pun nantinya tanaman Kratom dilarang, ia tetap akan mempertahankan tumbuhan tersebut. Tetap ditanam, karena batangnya bisa digunakan untuk bahan meubel dan penghijauan akibat abrasi sungai.

Menurut Ambo, macetnya pembelian Kratom ini merupakan dampak dari isu larangan Kratom yang selalu dikemukakan oleh pihak-pihak pengail di air keruh. Diduga bermain dengan oknum-oknum untuk memonopoli Kratom.

"Jika kratom dilarang, kita minta Pemerintah menyediakan komoditi penggantinya," pintanya.

Petani kratom lainnya, Jele M, merasakan Kratom sangat membantu perekonomian masyarakat Kapuas Hulu. Ekspor sebelumnya lancar, menopang di usia tuanya mampu hidup secara mandiri.

"Saya tidak bergantung hidup dengan anak saya, saya minta pemerintah mengupayakan legalitas Kratom karena kami petani kecil ini taunya hanya bertani saja," harapnya.

Selain adanya indikasi beberapa pemain Kratom yang hendak memonopoli perdagangan Kratom ini, Sumber Rakyat Kalbar mengungkap bahwa sindikat Narkotika internasional lah yang memulai kampanye anti-Kratom. “Sebab, di sejumlah negara, seperti Thailand, Amerika Serikat, China, dan sejumlah negara Eropa, Kratom merupakan penyembuh bagi kecanduan Narkotika,” tutur pengusaha Kratom dari hulu Kalbar itu, beberapa waktu lalu.

Pria paruh baya yang enggan namanya disebut itu juga menyayangkan para pengusaha Kratom tidak bersatu dalam satu wadah. Untuk memperjuangkan agar ada regulasi yang memperbolehkan Kratom diperdagangkan di Indonesia. “Sedangkan di beberapa negara, Kratom adalah barang legal,” tandasnya.

TIDAK DILARANG

Direktur Reserse Narkoba Polda Kalbar, Kombes Pol Gembong Yudha, mengatakan sampai saat ini belum ada aturan yang melarang budidaya ataupun jual beli Kratom. Artinya, masyarakat masih boleh melakukan budidaya hingga keluarnya regulasi yang mengatur pelarangan.

"Masih, sampai dengan ada aturan yang melarang," kata Gembong kepada Rakyat Kalbar, Selasa (8/10) sore. Ditanya lebih jauh terkait kandungan Kratom, Gembong belum bisa menjawab secara pasti. Sebab, ia pun belum punya data kandungan Kratom, yang isu memiliki kandungan bahan adiktifnya ditebar kemana-mana.

Senada, Kabid Humas Polda Kalbar, Kombes Pol Donny Charles Go. Karena Kratom belum digolongkan sebagai tanaman yang mengandung Narkotika, dan belum diatur lebih lanjut dalam Undang-Undang, maka masyarakat tidak perlu khawatir. "Polisi (baru) bertindak bila sudah ada payung hukumnya," ujarnya singkat. (Andreas, Andi Ridwansyah/rk)


BACA JUGA

Minggu, 20 Oktober 2019 21:32

PARAH..!! 11 Siswa Dicabuli Kepala Sekolah

NGABANG – Dunia pendidikan di Kabupaten Landak tengah berduka dengan terungkapnya…

Sabtu, 19 Oktober 2019 11:41

Pembunuhan Kepala Skeolah, FS Ditetapkan Jadi Pelaku Utama

SINTANG- Polres Sintang menetapkan FS sebagai tersangka utama pelaku pembunuhan…

Jumat, 18 Oktober 2019 11:45

MASIH KECIL..!! Serapan Beras Lokal Kalbar Hanya 5 Persen

PONTIANAK- Beras di Kalbar tak menjadi komoditi yang mengalami inflasi.…

Jumat, 18 Oktober 2019 11:43

Sukimin Tewas Ditusuk Bekas Ponakan Mantu

SINTANG- Sayang keponakan, tak disayang menantu siapa menduga? Akhirnya, Sukimin,…

Jumat, 18 Oktober 2019 11:36

Lindungi dan Bangun Tata Niaga Kratom, Ini yang Dilakukan Petani

PUTUSSIBAU-. Keresahan para petani kratom di Kapuas Hulu diharapkan jadi…

Kamis, 17 Oktober 2019 10:58

Berkilah Stroke, Bandot Tua Jadikan Anak Bawah Umur Korban Nafsunya

SINGKAWANG- Kasus cabul terhadap anak di bawah umur kembali terjadi.…

Rabu, 16 Oktober 2019 14:44

Sembilan WNI Ditahan TDM

SANGGAU- Kita samua basudara, tak hanya melibatkan anak bangsa se…

Selasa, 15 Oktober 2019 23:40

MELUAS..!! Penolakan Pembangunan PLTN di Kalbar Sampai ke Pusat

PONTIANAK—Tidak hanya suara ribuan mahasiswa berlanjut ke Ketua DPR RI…

Selasa, 15 Oktober 2019 11:21

Tahun Depan, Restorasi Gambut Kalbar Seluas 149.901 Ha

PONTIANAK- Tahun 2020 mendatang Badan Restorasi Gambut (BRG) akan merestorasi…

Senin, 14 Oktober 2019 12:55

Plisss..!! Jangan Terpancing Kampanye SARA

PUTUSSIBAU- Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Serentak 2020, salah satunya bakal…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia.
*