UTAMA | PONTIANAK | KRIMINAL | DAERAH

UTAMA

Kamis, 19 September 2019 11:35
Dua Bulan Menghirup Asap, Tembus 6.025 Kasus ISPA
BUTUH OKSIGEN. Nasir Putra, Kontributor salah satu televisi swasta di Pontianak yang mendapatkan perawatan di Rumah Oksigen Dinkes Kota Pontianak, Rabu (18/9). Tri Yulio HP-RK

PROKAL.CO, PONTIANAK-  Seorang pekerja pers di Kota Pontianak pun tutur jadi korban kabut asap yang melanda Kalbar. Nasir Putra, Kontributor Kalbar untuk Berita Satu, mengaku nafasnya sesak dan mata berair. Sudah 2 bulan ini, Nasir melaksanakan kerja jurnalistik meliput kebakaran hutan dan lahan di Kabupaten Mempawah, Kabupaten Kubu Raya, Kota Pontianak, dan sekitarnya.

Mendengar Pemerintah Kota Pontianak menyediakan rumah oksigen gratis di tujuh lokasi, Nasir pun memanfaatkannya. Ia menuju rumah oksigen yang berada di Dinas Kesehatan Pontianak. Setelah liputan salat Istisqa meminta hujan di halaman Kantor Gubernur Kalbar.

Nasir mendapatkan perawatan sementara. Ia menghirup oksigen dari selang yang dipasang di hidungnya serta meminum obat sesak dan batuk. Menurut dia, masker sekali pakai yang digunakan sudah tak mampu lagi menahan pekatnya kabut asap yang dihirup, selama berkendara roda dua. Apalagi jarak antara rumah ke lokasi liputan terbilang jauh, 15 hingga 20 kilometer perjalanan darat.

“Saya dua bulan ini turun langsung ke lapangan, untuk meliput kejadian Karhutla ini. Jadi puncaknya tadi, setelah liputan salat minta hujan di kantor Gubernur Kalbar, saya merasa sesak, dan akhirnya ke kantor Dinkes ini untuk mendapatkan udara segar, dari tabung oksigen,” tuturnya seperti dilansir Rakyat Kalbar.

Perawat jaga Rumah Oksigen Dinkes Kota Pontianak, Joko Dwi Mulyanto, mengatakan sejak dua hari posko didirikan, baru lima orang yang memanfaatkan oksigen gratis tersebut. Selain diberikan oksigen, pasien juga diberikan obat-obatan untuk mengatasi sesak nafas, batuk, hingga alat nebulizer bagi penderita asma.

“Kita buka posko ini sampai kabut asap hilang. Tiap shift kita ada dua orang dari Dinkes, dan dibantu relawan PMI Kota Pontianak tiga orang,” ungkapnya.

Joko menambahkan, ada tujuh lokasi yang ditunjuk sebagai rumah oksigen yang bisa dimanfaatkan oleh masyarakat. Yakni di Dinkes Kota Pontianak, Puskesmas Gang Sehat, Puskesmas Alianyang, Puskesmas Perumnas I, Puskesmas Kampung Dalam dan Puskesmas Siantan Hilir.

Dinas Kesehatan Provinsi Kalbar memang menginstruksikan seluruh Dinas di Kabupaten/kota mendirikan rumah oksigen. Seiring memburuknya kualitas udara akibat kabut asap kebakaran hutan dan lahan. Rumah oksigen tersebut dibuat untuk memberikan pelayanan darurat terhadap masyarakat, yang terkena penyakit Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA).

Kepala Dinas Kesehatan Kalbar, Harrison, mengatakan kabut asap memang berpotensi memunculkan ISPA secara mendadak. Lansia dan balita, sangat rentan terkena. Gejala penderita ISPA, kata dia, ditandai dengan banyak ciri. Mulai dari batuk, pilek, demam, hingga sesak nafas.

"Ini memang sangat berbahaya, apabila ISPU sudah kategori tidak sehat. Yang rentan itu, lansia dan balita,"ujar Harrison, Rabu (18/9).

Data pekembangan terbaru soal penderita ISPA se Kalbar, sampai saat ini masih diangka 6.025 kasus, yang tercatat di Dinas Kesehatan Provinsi Kalbar. "Kita memang laporanya perminggu. Kalau jumlah penderita ISPA, pada minggu ke-37 ada 6.025 kasus. Memang menagalami peningkatan, dari minggu sebelumnya, sekitar 10 sampai 20 persen," bebernya.

Upaya lainnya dari dinas kesehatan dalam mencegah munculnya berbagai penyakit akibat kondisi cuca buruk saat ini dengan membagikan masker secara massif. "Kemudian, petugas kita juga terus melakukan sosialisasi, mengingatkan kepada masyarakat supaya mereka mengurangi aktivitas diluar rumah," terang Harrison.

Imbuh dia, "Dinas kabupaten kota (Pontianak) sudah mendirikan rumah-rumah oksigen. Di kota Pontianak sendiri, itu ada tujuh tempat”.

Tak kalah pentingnya, Harrison meminta semua menjaga pola hidup sehat. Mengkonsumsi banyak sayur dan buah. Serta memperbanyak minum air putih. "Khusus anak-anak, kami berharap para orang tuanya, mengawasi anaknya agar tidak bermain di luar rumah," pungkasnya.

Peningkatan penderita ISPA dan Pneumonia sangat terlihat. Contohnya, di Melawi. Kepala Bidang P2P Dinkes Melawi, Hj Endang Susilawati, mengatakan berdasarkan data yang diinput pihaknya, jumlah perkiraan Pneumonia balita berjumlah 643 penderita di seluruh kabupaten.

Pneumonia di atas 1 tahun sebanyak 2 orang, antara usia 1-5 tahun sebanyak 6 orang. Sementara batuk bukan pneumonia sebanyak 87. Sedangkan jumlah balita batuk yang dihitung napasnya sebanyak 27. ISPA bukan pneumonia sebanyak 133 orang.

“Jumlah tersebut terinput sejak Januari hingga Agustus 2019. Penderita ISPA yang sudah masuk menjadi penderita pneumonia tersebut merupakan salah satu bagian dampak dari udara yang tidak sehat dihirup karena kabut asap. Sehingga masyarakat mesti berhati-hati,” paparnya.

Endang mengatakan, kondisi udara saat ini sedang sangat tidak sehat. Terlebih bagi anak-anak, sehingga mesti diwaspadai. Selalu menjaga kesehatan diri dengan sering-sering minum air putih. Tidak jajan di sembarang tempat, terlebih di daerah-daerah terbuka tepi jalan, carilah makanan yang terbungkus dan bersih.

“Kemudian jangan keluar rumah kalau tidak penting. Siapkan alat pelindung diri jika keluaran rumah. Seperti menggunakan masker, banyak minum air putih walaupun tidak haus. Kemudian makanlah, makanan bergizi seperti banyak makan sayur-sayuran dan buah-bahan,” ajaknya.

Terpapar pada tingkat polusi yang tinggi, mungkin tubuh akan mengalami gejala langsung. Gejalanya termasuk iritasi di saluran pernafasan, sesak napas dan batuk. Disarankan menghindari aktivitas luar ruangan hingga kualitas udara membaik atau gunakan masker tipe N95.

Musim kemarau seperti sekarang ini, orang tua harus lebih waspada dengan penyebaran penyakit ISPA atau infeksi saluran pernafasan akut. Gejala-gejala umum ISPA yang seringkali diabaikan seperti batuk, pilek, dan demam.

“Debu-debu yang berterbangan di udara yang kita hirup berpotensi mengakibatkan iritasi pada saluran pernapasan, sehingga kita berisiko mengalami ISPA,” ujarnya.

Penyakit ISPA adalah infeksi saluran pernafasan akut yang menyerang salah satu bagian dan atau lebih dari saluran napas mulai dari hibung (saluran atas) hingga alveoli (saluran bawah) termasuk jaringan adneksanya, seperti sinus, rongga telinga tengah dan pleura. Namun jika ISPA yang berkelanjutan akan menjadi Pneumonia. Pnemonia adalah proses infeksi akut yang mengenai jaringan paru-paru.

MELEMAHKAN PELAKU EKONOMI

Karhutla ini, selain mengganggu kesehatan, juga melemahkan pelaku ekonomi. Terutama yang skala kecil. Satu diantaranya: Novianti (33). Ia tinggal di Jl Husein Hamzah Pontianak. Mengakui merasakan dampak buruk kabut asap.

Sebagai ibu rumah tangga yang memiliki usaha kecil-kecilan dengan berdagang berbagai aneka peralatan rumah tangga, ia mengatakan, penurunan pendapatannya terjadi. Karena kurangnya pembeli menyusul aktivitas pendidikan diliburkan.

“Kabut ini sangat berpengaruh sekali bagi saya, apalagi, sebagai pedagang kecil, saya mengharapkan anak-anak sekolah yang membeli dagangan saya, karena kabut anak sekolah libur, tentu tidak ada pendapatan, sementara harga sewa tempat/ toko ratus berjalan,” ungkap Novi kepada koran ini, Rabu (18/9).

Ibu satu anak ini berharap agar kondisi kabut asap tang dirasakan saat ini tidak terjadi berulang, sebab ia juga mengkhawatirkan kondisi anak-anaknya. Mulai dari kesehatan mereka hingga terhambatnya proses belajar di sekolah.

“Kita tentu khawatir, kalau anak sekolah takut ISPA, sementara kalau mereka tidak masuk sekolah takut ketinggalan pelajaran, apalagi sekarang pelajaran anak-anak semakin ketat, tentu ini juga berpengaruh,” tuturnya.

Senada, Adma. Ibu dua anak berusia 30 tahun ini juga berprofesi sebagai pedagang.

Kesehariannya ia juga berjualan berbagai kebutuhan rumah tangga. Namun penjualannya dilakukan secara online. Ia mengatakan, dalam sepekan terkhir, mengalami kerugian yang cukup besar.

“Lumayan, hampir jutaan kerugian yang saya alami, sebab saya berjualan online, tentu saya menggunakan jasa pengiriman. Beberapa pengiriman banyak datang yang terlambat, sehingga banyak pelanggan yang komplain, belum lagi mereka yang menbatalkan pesanan sementara kita udah pesan dan barang masih di perjalanan,” katanya.

Batalnya pengiriman ini, ia memperkirakan lantaran terjadinya kabut asap sehingga pesawat mengalami cancel penerbangan. Sehingga jasa pengiriman kargo ikut terhambat.

“Kemudian kalau pengiriman jalur darat, juga agak telat, yang tadinya satu hari sampai, kini lusa barang baru tiba ke pembeli, karena seperti taxi tempat saya mengirim barang dagangan juga ada yang tidak berangkat lebih awal seperti biasanya, karena kabut,” beber Adma.

Ia berharap persoalan kabut yang sudah menjadi agenda tahunan di Kalbar ini dapat segera berakhir. “Kita sebagai pelaku ekonomi tentu berharap kondisi cuaca kita lebih baik bukan malah sebaliknya, sehingga berbagai usaha apapun yang dikerjakan dapat berjalan dengan lancar,” pungkasnya. (Tri Yulio HP, Abdul Halikurrahman, Dedi Irawan/rk)


BACA JUGA

Senin, 21 Oktober 2019 10:51

Gadis SMP Nikah Pesanan dengan Lelaki Tiongkok

MEMPAWAH-Penjualan gadis bawah umur untuk pengantin pesanan lelaki Tiongkok, belum…

Minggu, 20 Oktober 2019 21:32

PARAH..!! 11 Siswa Dicabuli Kepala Sekolah

NGABANG – Dunia pendidikan di Kabupaten Landak tengah berduka dengan terungkapnya…

Sabtu, 19 Oktober 2019 11:41

Pembunuhan Kepala Skeolah, FS Ditetapkan Jadi Pelaku Utama

SINTANG- Polres Sintang menetapkan FS sebagai tersangka utama pelaku pembunuhan…

Jumat, 18 Oktober 2019 11:45

MASIH KECIL..!! Serapan Beras Lokal Kalbar Hanya 5 Persen

PONTIANAK- Beras di Kalbar tak menjadi komoditi yang mengalami inflasi.…

Jumat, 18 Oktober 2019 11:43

Sukimin Tewas Ditusuk Bekas Ponakan Mantu

SINTANG- Sayang keponakan, tak disayang menantu siapa menduga? Akhirnya, Sukimin,…

Jumat, 18 Oktober 2019 11:36

Lindungi dan Bangun Tata Niaga Kratom, Ini yang Dilakukan Petani

PUTUSSIBAU-. Keresahan para petani kratom di Kapuas Hulu diharapkan jadi…

Kamis, 17 Oktober 2019 10:58

Berkilah Stroke, Bandot Tua Jadikan Anak Bawah Umur Korban Nafsunya

SINGKAWANG- Kasus cabul terhadap anak di bawah umur kembali terjadi.…

Rabu, 16 Oktober 2019 14:44

Sembilan WNI Ditahan TDM

SANGGAU- Kita samua basudara, tak hanya melibatkan anak bangsa se…

Selasa, 15 Oktober 2019 23:40

MELUAS..!! Penolakan Pembangunan PLTN di Kalbar Sampai ke Pusat

PONTIANAK—Tidak hanya suara ribuan mahasiswa berlanjut ke Ketua DPR RI…

Selasa, 15 Oktober 2019 11:21

Tahun Depan, Restorasi Gambut Kalbar Seluas 149.901 Ha

PONTIANAK- Tahun 2020 mendatang Badan Restorasi Gambut (BRG) akan merestorasi…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia.
*