UTAMA | PONTIANAK | KRIMINAL | DAERAH

UTAMA

Senin, 16 September 2019 00:58
Desa Temajuk, Terisolasi Sejak Berdiri, Orang Sakit Paling Menderita, Kini Mulai Menggeliat
BANGUN PERBATASAN: Seorang warga mengendarai sepeda motor di jalan beraspal menuju Desa Temajuk, Kecamatan Paloh, Sambas, Sabtu (31/8). Pemerintah secara bertahap membangun jalan di sepanjang perbatasan untuk membuka keterisolasian wilayah. HARYADI | PONTIANAKPOST.CO.ID

PROKAL.CO, Warga Desa Temajuk, Kecamatan Paloh, Sambas pernah hidup dalam keterisolasian. Saat itu, tak ada jalan darat yang menghubungkan desa ini dengan wilayah luar. Orang sakit atau perempuan yang hendak melahirkan harus dibawa mengarungi laut atau melewati bibir pantai menuju puskesmas terdekat. Meninggal di jalan kerap ditemui. Kini, semua ketersolasian itu terkikis seiring masuknya pembangunan jalan ke desa ini.

TEMAJUK desa yang indah. Lokasinya tepat di ujung paling barat Kalimantan atau biasa disebut ekor Borneo. Dua pegunungan mengapit wilayah nan eksotik ini. Hamparan pasirnya begitu bersih dan indah, memanjang hingga ke tepi bukit. Di situ pula ada tapal batas, pemisah dua negara: Indonesia dan Malaysia.

Tapi kehidupan warga Temajuk tak seindah alamnya. Bertahun-tahun mereka hidup dengan segala keterbatasan. Keterisolasian membuat segalanya serba sulit, mulai dari sisi ekonomi, kesehatan hingga pendidikan.

Suwarno (56), warga Temajuk bercerita, sebelum 2014, desa ini sama sekali tak terhubung akses jalan. Akses utama warga adalah melalui jalur laut atau menggunakan sepeda motor melewati bibir pantai.

Tidak adanya akses jalan itulah yang membuat kehidupan warga begitu terpuruk. Harga barang begitu mahal karena sulit didatangkan. Pemilik toko harus menyewa kapal untuk membawa barang dagangan dari ibu kota kecamatan.

“Sampai di desa, harga barang sudah naik berkali-kali lipat,” ujar Suwarno saat ditemui di rumahnya, Sabtu (31/8) seperti diberitakan Pontianakpost.co.id.

Sementara itu, sayur mayur, buah-buahan, dan lada hasil pertanian warga sulit dijual. Ikan hasil tangkapan nelayan pun demikian. Harganya jatuh. “Ikan-ikan melimpah. Tapi siapa yang mau beli? Dibawa keluar tidak bisa. Dijual di kampung sudah kelebihan. Harga tiga ribu per kilogram pun tak laku,” ujar Pengurus Lembaga Pengabdian Masyarakat Desa Temajuk itu.

Jalur pantai dan laut memang tidak mudah untuk dilalui. Apalagi memasuki musim penghujan dan angin kencang. Warga menyebutnya musim landas. Biasa terjadi pada November hingga Maret. Di musim landas, jarang ada warga berani bepergian sendiri. Mereka khawatir, bila terjadi sesuatu di jalan pasti tidak ada yang membantu.

Di sepanjang pantai Temajuk terdapat beberapa muara sungai. Saat hujan dan pasang datang, sungai-sungai itu meluap menutupi pasir pantai. Jadi, sepeda motor terpaksa harus digotong untuk menyeberangi sungai tersebut.

Ada empat sungai yang sering meluap di musim hujan, yaitu Sungai Bakwan, Bandang, Ubah dan Belacan. Kondisi inilah yang membuat desa dengan luas 2368 meter persegi itu sangat terisolir. Untuk mengantisipasi musim tersebut, warga Temajuk harus memiliki stok beras yang mencukupi. Jika tidak, mereka bisa kelaparan karena sulit membeli beras di musim landas. “Kami harus mengirit makan supaya beras tak cepat habis,” katanya.

Tak jarang ada warga yang kehabisan stok beras. Beras sudah kosong, namun musim landas belum berakhir. Bersyukur, rasa saling membantu di desa ini belum luntur. Warga yang masih punya cadangan beras rela berbagi dengan tetangga yang memerlukan.

Orang Sakit Paling Menderita

Keterisolasian tidak hanya berimbas pada sisi ekonomi tetapi juga kesehatan. Juraini (55) tak akan lupa masa-masa awal menjadi bidan di Desa Temajuk pada 1996 silam. Waktu itu nama Temajuk sama sekali belum dikenalnya. Bahkan sangat sedikit orang yang tahu lokasi desa ini. “Istilah orang-orang dulu, Temajuk itu hutan. Penduduknya hanya seratusan orang dan desanya belum dialiri listrik,” ujarnya.

Juraini pertama kali tiba di desa ini dengan menumpang kapal kecil. Inilah akses utama menuju ke Temajuk. Jika ingin ke desa ini harus menyewa atau menumpang kapal nelayan. Kondisi warga saat itu sungguh memprihatinkan. Puskesmas saja belum ada. Begitu pula petugas kesehatan. “Kalau ada yang sakit, paling diobati dukun kampung,” kenang Juraini saat ditemui di kediamannya, Sabtu (31/8).

Tak adanya akses jalan menyulitkan Juraini bila sewaktu-waktu ada pasien gawat darurat atau ibu hamil yang hendak melahirkan. “Kadang kan ada yang plasentanya menyangkut sehingga dibutuhkan tindakan operasi,” katanya.
Tidak jarang juga Juraini terpaksa membawa pasien ke kecamatan melalui jalur laut dengan menumpang kapal nelayan. Dia ingat betul kejadian beberapa tahun silam. Saat itu hari mulai gelap. Angin laut berembus kencang. Ombak bergulung-gulung menuju pantai. Di sebuah rumah, Masrah sedang mengerang kesakitan. Warga Desa Temajuk itu hendak melahirkan. “Posisi janinnya melintang,” ujar Juraini.

Dia kesulitan menangani persalinan Masrah karena tak punya cukup peralatan. Juraini lantas meminta Sumardi membawa Masrah ke puskesmas Desa Liku di malam itu juga. Itulah satu-satunya puskesmas di Kecamatan Paloh.
Sumardi, suami Masrah, panik. Saat itu, di luar cuaca sedang buruk. Angin kencang disertai ombak besar. Tak ada jalan, apalagi ambulans. Masrah harus segera dibawa ke puskesmas yang jaraknya sekitar 90 kilometer atau tiga jam perjalanan melewati bibir pantai. Satu-satunya kendaraan yang bisa digunakan hanyalah sepeda motor. Tapi medannya akan sangat berat. “Jika menggunakan motor, bisa-bisa membahayakan istri saya,” ujarnya, mengingat kejadian beberapa tahun lalu itu.

Tidak mau mengambil risiko, Sumardi akhirnya memutuskan memilih jalur laut, meski waktu tempuhnya tiga jam lebih lama ketimbang lewat darat. “Tapi ini lebih aman,” tambah lelaki 38 tahun ini.
Para tetangga pun bergegas menyiapkan perahu motor bermesin 40 PK milik salah seorang warga. Mengingat kondisi darurat dan harus cepat, warga menambah lagi kecepatan mesin perahu menjadi 200 PK. Waktu tempuh bisa dipersingkat hingga dua jam.

Masrah dibopong sepanjang satu kilometer menggunakan tandu hingga sampai ke perahu. Mereka langsung berangkat. Di atas perahu yang terus digoyang ombak itu, Masrah terus merintih kesakitan. Bidan Juraini pun gelisah. Masrah terus mengalami pendarahan. Sementara dirinya hanya bisa menenangkan dan mencoba memberikan pertolongan seadanya.

Sesampai di Puskesmas Liku, pihak medis menyatakan tidak mampu menangani persalinan Masrah. Puskesmas itu juga tidak memiliki perlengkapan yang memadai. Masrah lantas dirujuk ke rumah sakit di Sambas yang jaraknya sekitar tiga jam perjalanan lagi.

Kondisi Masrah sudah makin lemas. Sumardi tak mau membuang waktu. Ia segera mencari mobil. Beruntung seorang warga yang tinggal tak jauh dari puskesmas mau menyewakan mobilnya. Perjalanan ke Sambas pun dimulai.

Mobil terus melaju di jalan yang waktu itu rusak parah. Mereka seakan berlomba dengan waktu. Bila tak segera sampai ke rumah sakit, dikhawatirkan nyawa Masrah dan bayinya sulit tertolong. “Syukurlah, meski sudah sangat lemah, istri saya masih mampu bertahan,” ujar Sumardi.

Malam itu suara tangisan bayi terdengar dari ruang persalinan Rumah Sakit Sambas. Masrah melahirkan anak pertamanya dengan selamat.

Begitulah kondisi warga di Temajuk. Betapa sulitnya saat kondisi gawat darurat. Tidak sedikit pasien yang meninggal saat dibawa dalam perjalanan ke rumah sakit. “Pernah juga saya membawa pasien hamil yang mengalami pendarahan. Dalam perjalanan, darahnya terus keluar. Akhirnya meninggal di perjalanan,” kata Juraini.

Sekretaris Desa Temajuk, Pandri Ota mengatakan, sepanjang 2012 saja, ada tiga warga yang meninggal dunia dalam proses melahirkan. “Jika ditotal pada tahun-tahun sebelumnya, sudah ada puluhan yang meninggal karena tak tertolong medis,” ujarnya.

Di Temajuk, tak sedikit warga yang memilih berobat ke Malaysia karena jaraknya lebih dekat. Banyak pula yang membawa istrinya melahirkan di negeri jiran itu. Salah satunya Suwarno. Saat itu cuaca sedang buruk sehingga tak memungkinan membawa istrinya ke Puskesmas Liku. “Saya putuskan membawa istri saya ke Malaysia saja,” ujarnya. Anak Suwarno akhirnya dilahirkan dengan selamat di Malaysia.

Kini situasi Desa Temajuk jauh lebih baik. Puskesmas dengan peralatan yang mencukupi sudah tersedia. Di sana sudah ada dokter dan perawat. Kalau ada pasien yang perlu dirujuk, sudah ada dua ambulans yang siap membawa ke rumah sakit rujukan.

Terisolasi Sejak Berdiri

Desa Temajuk merupakan daerah perbatasan paling barat di Kalimantan Barat. Dari ibu kota provinsi, Pontianak, butuh waktu 11 jam perjalanan darat untuk sampai ke desa ini. Temajuk berbatasan langsung dengan Kampung Telok Melano, Sarawak, Malaysia.

Pada 1970-an wilayah ini pernah menjadi tempat persembunyian Pasukan Gerakan Rakyat Serawak/Persatuan Rakyat Kalimantan Utara (PGRS/Paraku). PGRS/Paraku adalah para pemberontak yang terkait konfrontasi dengan Malaysia. Gerakan ini berhasil ditumpas militer Indonesia. “Sejak operasi Malaysia-Indonesia (Malindo) tahun 1987, anggota PGRS sudah tidak kelihatan lagi,” kata Suwarno, tokoh masyarakat Temajuk.

Pemerintah pusat kemudian menempatkan transmigran lokal di desa ini. Kebanyakan berasal dari Kecamatan Sungai Duri, Selakau, Pemangkat dan Tebas. Sejak itulah, Temajuk mulai dihuni. Setiap warga disediakan satu unit rumah sederhana dan lahan seluas lima hektare lengkap dengan bibit tanaman, seperti buah rambutan, karet dan lada.
Sayangnya, penempatan warga di Desa Temajuk tanpa diiringi pembangunan infrastruktur jalan dan layanan kesehatan.

Berubah Ketika Jalan Dibangun

Pada 2013, jalan menuju Desa Temajuk mulai dibangun. Jalan ini mulai bisa dilalui pada 2014 lalu. Dengan adanya jalan ini, warga tidak lagi harus menyimpan cadangan beras saat musim landas tiba. Ikan dan hasil pertanian pun bisa dijual dengan mudah lewat jalur darat. “Pendapatan warga jauh meningkat,” ujar Suwarno, Pengurus LPM Desa Temajuk.

Menurutnya, kondisi warga saat ini sudah jauh membaik ketimbang masa lalu. Suwarno mengumpamakannya bagaikan air dengan minyak. “Jauh sekali perbedaannya, dulu dengan sekarang,” katanya.

Sekretaris Desa Temajok, Pandri Ota mengatakan, sejak jalan darat menuju Desa Temajuk bisa dilalui, keterisolasian pun menyingkir. Warga Temajuk yang sebagian besar bekerja sebagai petani dan nelayan secara bertahap mulai merasakan dampak positifnya. Segalanya terasa lebih mudah.

“Kalau dulu, nelayan mau menjual hasil tangkapan mereka itu sangat sulit. Ikan tidak bisa dipasarkan ke luar desa. Harganya pun cukup murah. Beruntung bila masih ada yang mau membeli,” ujar Pandri.

Biasanya hasil tangkapan nelayan dibiarkan busuk begitu saja karena tidak bisa disimpan. Bila nelayan menggunakan es batu untuk mengawetkan ikan, biayanya justru lebih mahal daripada harga ikan itu sendiri. “Bersyukur sejak akses jalan dibangun, ikan bisa cepat dijual ke luar,” katanya.

Kini banyak pembeli atau pengepul yang bisa datang langsung ke Temajuk untuk membeli ikan. Bahkan sebelum nelayan merapat ke pinggir pantai, pembeli sudah ramai mengantre untuk membeli ikannya. Kondisi tersebut dinilai telah meningkatkan kesejahteraan para nelayan.

Selain nelayan, para petani atau pekebun juga tertolong dengan adanya akses jalan. Pekebun pisang contohnya. Di masa lalu, hasil panen pisang tidak mampu dijual secara maksimal. Tak jarang pisang yang sudah masak hanya dibiarkan membusuk di atas pohonnya, tidak dipanen. “Tidak ada yang membeli atau menampung. Kalaupun ada, pastinya tidak banyak,” sebut Pandri.

Sekarang kondisinya sudah bertolak belakang dengan yang dulu. Petani pisang di Desa Temajuk kini justru kebanjiran pembeli. Mereka kesulitan mencukupi permintaan dari pihak luar. Malah ada kalanya warga desa tidak kebagian hasil panen pisang karena sudah banyak yang dipesan dari luar.

“Bila harus diingat-ingat kejadian di masa lalu, banyak warga yang masih trauma naik sepeda motor menyusuri pantai. Rintangan dan perjuangannya begitu berat. Warga harus tidur atau menginap di pinggir pantai karena kendaraannya rusak,” tutur Pandri.

Bisa dikatakan, kini taraf hidup warga Desa Temajuk telah jauh meningkat sejak terbukanya akses jalan. Pelayanan pendidikan, kesehatan dan listrik yang memadai sudah mereka nikmati. Meski kondisi jalan belum sepenuhnya beraspal, warga sudah sangat bersyukur. Mimpi mereka untuk lepas dari keterisolasian telah terwujud. (her/yad)

loading...

BACA JUGA

Senin, 21 Oktober 2019 10:51

Gadis SMP Nikah Pesanan dengan Lelaki Tiongkok

MEMPAWAH-Penjualan gadis bawah umur untuk pengantin pesanan lelaki Tiongkok, belum…

Minggu, 20 Oktober 2019 21:32

PARAH..!! 11 Siswa Dicabuli Kepala Sekolah

NGABANG – Dunia pendidikan di Kabupaten Landak tengah berduka dengan terungkapnya…

Sabtu, 19 Oktober 2019 11:41

Pembunuhan Kepala Skeolah, FS Ditetapkan Jadi Pelaku Utama

SINTANG- Polres Sintang menetapkan FS sebagai tersangka utama pelaku pembunuhan…

Jumat, 18 Oktober 2019 11:45

MASIH KECIL..!! Serapan Beras Lokal Kalbar Hanya 5 Persen

PONTIANAK- Beras di Kalbar tak menjadi komoditi yang mengalami inflasi.…

Jumat, 18 Oktober 2019 11:43

Sukimin Tewas Ditusuk Bekas Ponakan Mantu

SINTANG- Sayang keponakan, tak disayang menantu siapa menduga? Akhirnya, Sukimin,…

Jumat, 18 Oktober 2019 11:36

Lindungi dan Bangun Tata Niaga Kratom, Ini yang Dilakukan Petani

PUTUSSIBAU-. Keresahan para petani kratom di Kapuas Hulu diharapkan jadi…

Kamis, 17 Oktober 2019 10:58

Berkilah Stroke, Bandot Tua Jadikan Anak Bawah Umur Korban Nafsunya

SINGKAWANG- Kasus cabul terhadap anak di bawah umur kembali terjadi.…

Rabu, 16 Oktober 2019 14:44

Sembilan WNI Ditahan TDM

SANGGAU- Kita samua basudara, tak hanya melibatkan anak bangsa se…

Selasa, 15 Oktober 2019 23:40

MELUAS..!! Penolakan Pembangunan PLTN di Kalbar Sampai ke Pusat

PONTIANAK—Tidak hanya suara ribuan mahasiswa berlanjut ke Ketua DPR RI…

Selasa, 15 Oktober 2019 11:21

Tahun Depan, Restorasi Gambut Kalbar Seluas 149.901 Ha

PONTIANAK- Tahun 2020 mendatang Badan Restorasi Gambut (BRG) akan merestorasi…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia.
*