UTAMA | PONTIANAK | KRIMINAL | DAERAH

UTAMA

Sabtu, 17 Agustus 2019 23:14
Desa Ini Belum Merdeka dari Gelap

PROKAL.CO, Gelap gulita menjadi hal yang lumrah bagi warga di Desa Teluk Bakung pada malam hari. Desa di Kecamatan Sungai Ambawang, Kubu Raya itu sebagian besar belum teraliri listrik. Janji pemasangan listrik berakhir tanpa hasil. Di hari ulang tahun kemerdekaan ke-74 ini, ternyata masih ada desa yang belum merdeka dari gelap.

 

KEGELAPAN tiba sesaat setelah matahari terbenam di ufuk barat. Sinpin (60) menerangi rumahnya dengan menyalakan s ebuah lampu minyak. Lampu tersebut bikinan sang suami, Mitan (63). Lampu minyak itu terbuat dari bekas botol minuman berenergi dengan sumbu yang tersembul pada bagian tutupnya. Lampu minyak masih ia gunakan sebagai penerangan di malam hari meskipun telah memiliki senter. Hal itu karena jumlah senter yang dimilikinya terbatas.

Diberitakan Pontianakpost.co.id, sebenarnya keluarga ini memiliki satu mesin dongfeng yang bisa memenuhi kebutuhan listrik mereka di malam hari. Hanya saja, pada malam itu, sang menantu sedang tak berada di rumah. Biasanya sang menantu itulah yang mampu menghidupkan mesin dongfeng tersebut. “Kalau bapak (Mitan, red) sudah tak mampu lagi hidupkan mesin (dongfeng, red). Harus tenaga yang kuat,” kata Sinpin, saat dikunjungi Pontianak Post, Selasa (13/8).

Sinpin dan Mitan adalah pasangan suami istri yang tinggal di Dusun Bawas Lestari, Desa Teluk Bakung, Kecamatan Sungai Ambawang, Kabupaten Kubu Raya. Mereka dan beberapa keluarga lainnya telah menetap di dusun tersebut sejak tahun 2000-an. Saat itu mereka diminta pemerintah untuk ikut program transmigrasi lokal. Hingga saat ini, listrik dari Perusahaan Listrik Negara (PLN) yang sebelumnya pernah dijanjikan tak kunjung hadir.

“Sampai sekarang kita ini masih tertinggal. Tidak ada penerangan,” ungkap Mitan, yang juga menjabat sebagai Kepala Adat di Dusun Bawas Lestari. Ia kecewa lantaran aspirasi yang sudah lama disuarakan hingga kini belum terealisasi. Segala upaya sudah dilakukan tetapi hasilnya nihil. Desa Teluk Bakung menjadi daerah yang dilintasi jalan nasional yang menghubungkan Kota Pontianak dengan daerah perhuluan Kalimantan Barat.

Untuk mencapai desa tersebut, hanya butuh waktu sekitar satu jam dari ibu kota provinsi dengan menggunakan mobil. Sayangnya, meski tak begitu jauh dari pusat kota, sebagian besar wilayah desa ini belum dialiri listrik. “Jarak kami ini sebenarnya dekat, tapi kenapa belum ada listrik. Padahal jalan nasional ini,” kata Tadeus (34) warga di Dusun Bawas Lestari, saat ditemui di kediamannya. Sama dengan Keluarga Mitan, Tadeus juga merupakan warga yang ikut program transmigrasi dari pemerintah. Saat itu, ia punya harapan, dengan pindah ke Dusun Bawas Lestari, fasilitas yang diperoleh akan memperbaiki kesejahteraan keluarganya. Salah satunya adalah fasilitas listrik.

Sejak pindah ke dusun tersebut, ia dan beberapa warga lainnya sempat mendapat bantuan berupa panel surya sebagai sumber listrik. Kehadiran panel surya memang bisa menerangi huniannya di kala malam tiba. Setidaknya untuk beberapa waktu. Namun, setelah berfungsi sekian tahun, peforma panel surya kian menurun. Karena itu, agar rumahnya tetap teraliri listrik di malam hari, ia memutuskan untuk membeli mesin dongfeng.

“Panel surya yang diberikan ke beberapa warga di sini banyak yang sudah rusak,” katanya. Kehadiran mesin dongfeng memang sangat membantu. Listrik yang dihasilkan tak hanya cukup untuk penerangan, tetapi juga bisa untuk menonton televisi. Cuma, mesin itu hanya dinyalakan dua sampai tiga jam setiap malamnya untuk menghemat bahan bakar. “Satu malam bisa habis dua sampai tiga liter. Satu liter solar sekarang sekitar tujuh ribu. Kalikan saja, sehari bisa habis Rp20 ribu, sebulan bisa Rp600 ribu,” sebutnya.

Bagi Tadeus dan masyarakat di desa tersebut, mengeluarkan Rp600 ribu tiap bulan untuk bahan bakar amatlah berat. Karena itulah, mereka ingin listrik dari PLN segera hadir.

Tolak Pasang Bendera

Janji pemasangan listrik sudah ada sejak beberapa tahun lalu. Sejumlah warga bahkan sudah mengambil ancang-ancang dengan membeli beberapa alat elektronik. Murni (29) adalah salah satunya. Sekitar tahun 2014 silam, ibu rumah tangga ini dikabari bahwa listrik dipastikan segera masuk ke dusunnya. Tak pelak kabar tersebut membuatnya senang bukan main. Ia yang saat itu membuka usaha kantin kecil-kecilan di depan rumah pun langsung membeli kulkas.

“Barangnya (kulkas, red) sudah disiapkan. Rupanya sampai sekarang listrik belum ada,” tuturnya.Kini kulkas satu pintu yang ia miliki tak dapat digunakan sebagaimana mestinya. Meski punya mesin dongfeng pun percuma, karena tegangannya tak mencukupi. Alhasil, kulkasnya terpaksa hanya digunakan untuk menyimpan mainan sang anak. Janji pemasangan listrik sudah sering didengar warga dari pejabat pemerintah desa. Terakhir, beredar informasi bahwa pemasangan tiang listrik akan dilakukan pada Juli 2019.

“Tapi lihatlah, sudah bulan delapan, belum ada satu pun tiang yang dipasang,” ujar Tadeus.Menurutnya, beberapa bulan lalu , ia bersama perangkat desa sudah melakukan pendataan. KTP dan KK warga dikumpulkan sebagai syarat untuk melengkapi dokumen pemasangan listrik. Semua data telah dilengkapi dan proposal listrik desa pun sudah diajukan. Namun, mereka lagi-lagi harus kecewa. Harapan untuk mendapat listrik tak kunjung terealisasi.

Kekecewaan itu tercermin dari keengganan warga memasang bendera merah putih di depan rumah masing-masing di bulan Agustus ini. “Bahkan ketika ada ajakan pasang bendera, mereka (warga, red) bilang, untuk apa pasang bendera,” ucap Tadeus. Warga menolak memasang bendera lantaran menganggap bahwa mereka belum merdeka.

“Kita ini belum merdeka, belum dapat api (listrik, red),” ujarnya menirukan ungkapan-ungkapan yang kerap dilontarkan warga soal listrik. Sejak beberapa tahun belakangan, kepercayaan masyarakat kepada pemerintah, baik di tingkat desa, kabupaten maupun provinsi semakin memudar. Sebagian bahkan tidak tertarik untuk berpartisipasi dalam pemilihan kepala daerah (pilkada) di tahun lalu. “Tahun lalu bahkan ada ajakan untuk tidak usah ikut pilkada,” pungkasnya.

Tiap Tahun Diajukan

Pemerintah Desa (Pemdes) Teluk Bakung telah mengupayakan agar aliran listrik masuk sejak beberapa tahun lalu. Kepala Desa Teluk Bakung, Valentinus Agip, mengatakan, hampir setiap tahun pihaknya menyampaikan proposal lewat musrenbang kecamatan. Hanya saja, hingga kini ia tidak tahu jelas alasan belum dibangunnya listrik di sebagian wilayah di desanya itu.“Apakah proposal ini sampai apa tidak, saya juga tidak bisa pastikan. Tapi kalau ditanya, jawabannya masih dalam proses,” katanya.

Dia bilang, dari tujuh dusun yang ada di desanya, baru tiga dusun yang teraliri listrik. Dusun-dusun tersebut yakni Dusun Teluk Lais, Dusun Re’es, dan sebagian Dusun Lintang Batang. Sedangkan keempat dusun lain yang belum teraliri listrik adalah Dusun Bawas lestari, Gunung Benuah, Gunung Loncek, dan Enggang Raya. Menurut Agip, Desa Teluk Bakung dilintasi Jalan Trans Kalimantan sepanjang 38 km.

Adapun jalur yang telah teraliri listrik yakni sepanjang 14 km, s ementara sisanya 24 km belum. Warga sudah mendambakan kehadiran listrik sejak desa itu resmi berdiri pada 2007 lalu. Mereka rela tidak menuntut ganti rugi tanam tumbuh bila lahannya terkena jalur pemasangan jaringan listrik. Bahkan warga juga sudah menyiapkan lahan untuk pembangunan gardu listrik. Semua itu dilakukan sebagai bentuk dukungan mereka agar aliran listrik segera masuk.

“Mereka (PLN, red) minta lahan untuk pemasangan gardu seluas satu sampai dua hektare. Sudah kita tunjukkan lahannya, dan pemiliknya mau melepas jika ingin dibeli,” kata dia. Kini, dengan janji pemasangan listrik yang kerap tidak ditepati, kepercayaan warga terhadap pemerintah desa kian luntur. Agip pun mengaku kerap dicap pembohong oleh warga, karena selalu menjanjikan listrik akan masuk.

“Saya dibilang warga sebagai pembohong. Saya ini kan hanya menyampaikan pesan bahwa listrik akan masuk, tapi saya kan tidak tahu ternyata sampai sekarang tidak ada. Kemarin saat ada orang PLN datang, saya marahkan, karena sudah sangat emosi,” ujarnya. Agip berharap di tahun ini seluruh dusun di desanya bisa teraliri listrik. Dengan masuknya listrik nanti, ia berharap perekonomian warga desa itu juga dapat terangkat. Agip ingin kondisi ini bisa menjadi perhatian pemerintah dan PLN. “Selama ini kami sulit karena listrik belum masuk. Diperparah lagi sinyal yang tidak ada sebagai buntut dari ketidakadaan listrik,” pungkasnya. (*)

loading...

BACA JUGA

Selasa, 17 September 2019 08:00

Sudah 61 Tersangka Karhutla, 9 Korporasi Disegel

 PONTIANAK-. Polda Kalbar sudah menetapkan 61 tersangka Karhutla, dua diantaranya …

Selasa, 17 September 2019 06:43

Kabut Makin Pekat, Dinkes Sediakan 7 Rumah Oksigen

PONTIANAK-Kondisi udara di Kota Pontianak berdasarkan informasi konsentrasi Partikulat (Pm10)…

Selasa, 17 September 2019 06:40

24 Penerbangan Sempat Delay, Semoga Asap Tak Terlalu Tebal Lagi

SUNGAI RAYA — Masih tebalnya kabut asap membuat aktivitas penerbangan…

Senin, 16 September 2019 14:26

Asap Bikin Ekonomi Kalbar Sesak Napas

PONTIANAK- Ahad (15/9), akhirnya apa yang dikhawatirkan Presiden Joko Widodo…

Senin, 16 September 2019 14:23

Duh Derita Banget, Sudah Kena Asap, Warga Juga Susah Dapat Air Bersih

SAMBAS – Selain rawan terjadi kebakaran hutan dan lahan, cuaca panas…

Senin, 16 September 2019 13:55

PARAH..!! Hotspot di Kalbar Meluas, Tembus Seribuan

PONTIANAK-  Perubahan iklim atau pemanasan global (global warming) berupa kemarau…

Senin, 16 September 2019 12:04

Bandara Supadio Lumpuh Total, 37 Penerbangan Dibatalkan

SUNGAI RAYA - Sebanyak 37 penerbangan dari dan menuju Bandara…

Senin, 16 September 2019 11:59

Ketapang Dikepung Kabut Asap, Ribuan Warga Salat Minta Hujan

KETAPANG-. Sebagai langkah ikhtiar untuk mengakhiri musim kemarau panjang yang…

Senin, 16 September 2019 11:58

Karhutla di Perusahaan Malaysia Belum Padam

MELAWI- Satuan Tugas Gabungan Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) Melawi…

Senin, 16 September 2019 00:58

Desa Temajuk, Terisolasi Sejak Berdiri, Orang Sakit Paling Menderita, Kini Mulai Menggeliat

Warga Desa Temajuk, Kecamatan Paloh, Sambas pernah hidup dalam keterisolasian.…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia.
*