UTAMA | PONTIANAK | KRIMINAL | DAERAH

UTAMA

Jumat, 09 Agustus 2019 09:18
Hotspot Meluas, Stop Bakar Lahan
ilustrasi

PROKAL.CO, PONTIANAK- Kekeringan dan cuaca panas di Kalbar gampang memicu Karhutla. Untuk kesekian kalinya, Polda Kalbar atas nama tim gabungan pencegahan dan penanggulangan Karhutla, mewanti-wanti warga jangan membakar lahan baik pertanian maupun perkebunan dan properti.

"Selama ini, upaya-upaya pencegahan dengan pendekatan preventif baik lisan dan tertulis sudah masif kita lakukan. Tidak hanya di tingkat Polda, Polres hingga Polsek, melalui peran Bhabinkamtibmas dan Babinsa, telah kita lakukan," ujar Kabid Humas Polda Kalbar, Kombes Pol Donny Charles Go kepada Rakyat Kalbar, Rabu, (7/8) sore.

Karhutla yang telah menebar kabut asap di beberapa kabupaten di Kalbar membuat aparat gabungan harus terus siaga melakukan pencegahan, penanggulangan hingga penegakan hukum. Bahkan pemerintah pusat ambil perhatian.

"Mindset masyarakat yang selama ini membuka lahan dengan cara membakar harus diubah dengan metode-metode yang ramah lingkungan. Tidak dengan membakar," tuturnya.

Pemasangan banner, pamflet, disertai dengan ancaman hukuman bagi pelaku pembakar lahan makin gencar. Akan tetapi, harus diakui langkah-langkah pencegahan itu masih terkendala oleh mindset masyarakat yang perlu diubah.

"Kalau masih terus (dilakukan pembakaran) akhirnya semua harus bisa berjalan komprehensif. Yang pencegahan iya, yang penindakan dan penanggulangan juga iya," ujarnya.

Menurut Donny, Polda Kalbar menyiapkan sedikitnya 1.045 personil. Terdiri atas personil Polda Kalbar dan jajaran untuk pencegahan hingga penanggulangan Karhutla.

Personil tersebut dibagi dalam tiga tim, yang bekerja sama dengan pihak-pihak terakait.

Tim Pertama, Satgas Gabungan yang terdiri dari TNI, Polri, BPBD dengan total personil sekitar 1500 orang.

"Mereka bekerja di 100 desa. Polri di sana ada 205 personil. Sedangkan TNI 1000 itu juga bekerja," ungkapnya.

Tim kedua, pelaksana Operasi Bina Karuna, yang khusus personil Polri saja dengan melibatkan 800 personil Polda dan 13 Polres. "Tim ini fokus di pencegahan berupaya agar tidak terjadinya kebakaran lahan," jelasnya.

Ada pula 40 orang personil kepolisian yang bekerja sama dengan Manggala Agni. Tim ini bertugas pencegahan dengan melakukan patroli di daerah-daerah rawan Karhutla.

"Jadi tim-tim tersebut sebenarnya sudah berjalan bersinergi dengan instansi terkait. Kalau misalnya ada yang terbakar. Maka sesegara mungkin dilakukan pemadaman tidak membiarkan itu membesar sehingga kita pun sulit memadamkan," tuturnya.

Langkah-langkah itu, kata Donny, merupakan pencegahan dan penanggulangan yang terus berjalan sampai hari ini. Disamping itu, upaya-upaya penegakan hukum juga dilakukan. Artinya lahan-lahan yang di temukan terbakar, proses penegakan hukumnya tetap dilakukan. Tetapi untuk sampai kepada siapa pelakunya perlu waktu.

"Kita tentunya perlu saksi dan alat bukti yang lain. Sambil kita coba telusuri dan kita coba gelar perkara apakah ini layak tingkatkan di penyelidikan menjadi penyidikan," tambahnya.

Jajaran kepolisian terus melakukan pendataan terhadap lahan-lahan yang terbakar dengan menerjunkan personil untuk mendatangi TKP kebakaran.

"Kita tanyakan siapa pemiliknya, bagaimana proses terbakarny, apakah ada unsur kesegajaan. Atau mungkin karena memang kelalaian. Mungkin terbakar sendiri, jadi banyak langkah-langkah yang kita lewati," terang dia.

Sejauh ini Polda Kalbar mengaku belum menerima laporan lengkap apakah ada korporasi yang terbakar. Atau seluruhnya milik perorangan. "Sementara ini dari beberapa kasus, rata-rata milik perorangan," ungkapnya.

Donny menegaskan, petugas tak segan-segan bertindak tegas. Misalnya kasus di Ketapang yang menjerat salah satu Kades yang masih berproses di Polres Ketapang.

"Hari ini dia dipanggil Polres Ketapang. Namun saya belum dapat laporan dia datang atau tidak," akunya.

Apabila yang bersangkutan hadir dan hasil penyelidikan menunjukan ada unsur-unsur melawan hukum terpenuhi, maka dimungkinkan statusnya ditingkatkan menjadi tersangka.

Belajar dari beberapa kasus yang telah diungkap pihak kepolisian, masyarakat harusnya bisa memahami bahwa aparat penegak hukum tidak main-main dalam melakukan penegakan hukum terhadap pelaku pembakar lahan. Berkaca 2018 saja, ada 29 kasus yang diungkap dengan total tersangka 39 orang.

"Kita mengimbau masyarakat supaya lebih sadar lagi. Tidak bisa lagi membuka lahan dengan cara membakar. Munculkan kesadaran masing-masing bahwa udara bersih untuk kita semua," pungkasnya.

TIM ANTI KARHUTLA DATANGI TITIK API

Di Dusun Asam Mareh, Desa Nyiin, kecamatan Jelimpo, Kabupaten Landak, seorang pemilik lahan, Cae (35) kaget. Ia didatangi Tim Anti Karhutla setelah membakar lahan untuk membuat kebun kepala sawit, Selasa (6/8).

Tim gabungan itu terdiri dari unsur TNI, Polri, BPBD dan Manggala Agni. Dipimpin Waka Polsek Ngabang, Iptu Indra Wahyudin. Cae ketahuan membakar lahan sebab titik api yang timbul dari ulahnya itu sempat tampil di data satelit Lapan. Dengan titik koordinat Latitude : 0.3562128 dan Longitude : 110.0542518.

Dari hasil penelusuran Google Maps, tim mengidentifikasi bahwa titik api berasal dari wilayah Dusun Asam Mareh, Desa Nyiin, Kecamatan Jelimpo, Kabupaten Landak. Menurut Waka Polsek Ngabang, Iptu Indra Wahyudin, berdasarkan data tersebut tim langsung menuju lokasi. Dengan menempuh perjalanan selama sejam lebih.

"Syukurlah tim berhasil menemukan lokasi kebakaran sebagaimana yang tercantum dalam satelit Lapan," ujar Indra.

Saat didatangi, kondisi api di lahan tersebut sudah padam. Cae selaku pemilik lahan juga masih di lokasi. Identitas Cae langsung didata. Luas lahan yang dibakar itu sekitar 0,4 hektar yang akan digunakan untuk membuat kebun kelapa sawit.

"Pemilik lahan sangat terkejut ketika tim langsung datang ke lokasinya dan tidak mengetahui bahwa pembakaran yang dilakukannya bisa terpantau satelit," jelas Indra.

Ia berpesan kepada Cae agar tidak mengulangi perbuatannya itu. "Jika ada menemukan lahan atau warga yang membakar lahan, harus melapor ke pihak Kepala Desa atau Bhabinkamtibmas," pintanya.

HOTSPOT DI KONSESI SAWIT

Di sisi lain, Dinas Perkebunan Provinsi Kalbar mendeteksi titik panas atau hotspot di 10 lahan Izin Usaha Perkebunan (IUP) kelapa sawit. Tersebar di empat Kabupaten.

Empat titik di lahan konsesi perkebunan di Sanggau. Dua di Kapuas Hulu. Tiga titik di Ketapang. Dan satu di Sintang.

"Berdasarkan data dari Lapan, 10 titik hotspot itu masuk di area IUP perusahaan," tutur Kepala Dinas Perkebunan Kabar, Florentinus Anum, Rabu (7/8).

Untuk memastikan titik hotspot di lahan konsesi perkebunan sawit tersebut, Florentinus akan segera meminta Dinas Perkebunan di empat kabupaten itu melakukan kroscek.

Florentinus menyakini, kemunugkinan besar sepuluh titik panas di lahan konsesi perkebunan kelapa sawit tersebut tidak berada di lahan produktif. "Bisa jadi hotspot itu berada di lahan kosong mereka. Karena kan, areal IUP tu kan luas. Namun, untuk lebih jelasnya kita akan konfirmasi dengan kabupaten setempat," sebutnya.

Jika terbukti ada lahan perusahaan perkebunan terbakar, ia menegaskan akan menyerahkan ke aparat penegak hukum. "Kita di (dinas) perkebunan provinsi, sifatnya hanya membina. Ketika ini nanti menjadi masalah, aparat akan menindaklanjuti," jelas Florentinus.

Ditambahkannya, kewenangan pengawasan penuh terhadap aktivitas koorporasi perkebunan sejatinya berada di masing-masing kabupaten. Sebab, setiap IUP konsesi perkebunan semuanya dikeluarkan oleh masing-masing pemerintah kabupaten. Dinas Perkebunan Provinisi hanya sebatas mengetahui.

"Maaf ngomong ya, kita ini tidak punya wilayah. Dan, yang mengeluarkan izin konsesi ini kan kabupaten. Kami juga menerima, tapi dibagian terakhir. Itu yang kita overlay-kan," paparnya.

Senada, Gubernur Sutarmidji meminta pemerintah Kabupaten/Kota melalui unit kerjanya masing-masing menuntaskan persoalan kabut asap akibat kebakaran lahan. Terkait deteksi hotspot di 10 lahan konsesi itu, ia meminta pihak perusahaan yang bersangkutan segera memberikan klarifikasi, sekaligus melakukan penanganan secara cepat.

"Silahkan klarifikasi. Kalau dalam waktu 3x24 jam, masih ada api di situ, saya akan sanksi tegas. Perusahaan yang bandel saya akan cabut izinnya," ucapnya. (Andi Ridwansyah, Antonius, Abdul Halikurrahman/rk)

loading...

BACA JUGA

Selasa, 17 September 2019 08:00

Sudah 61 Tersangka Karhutla, 9 Korporasi Disegel

 PONTIANAK-. Polda Kalbar sudah menetapkan 61 tersangka Karhutla, dua diantaranya …

Selasa, 17 September 2019 06:43

Kabut Makin Pekat, Dinkes Sediakan 7 Rumah Oksigen

PONTIANAK-Kondisi udara di Kota Pontianak berdasarkan informasi konsentrasi Partikulat (Pm10)…

Selasa, 17 September 2019 06:40

24 Penerbangan Sempat Delay, Semoga Asap Tak Terlalu Tebal Lagi

SUNGAI RAYA — Masih tebalnya kabut asap membuat aktivitas penerbangan…

Senin, 16 September 2019 14:26

Asap Bikin Ekonomi Kalbar Sesak Napas

PONTIANAK- Ahad (15/9), akhirnya apa yang dikhawatirkan Presiden Joko Widodo…

Senin, 16 September 2019 14:23

Duh Derita Banget, Sudah Kena Asap, Warga Juga Susah Dapat Air Bersih

SAMBAS – Selain rawan terjadi kebakaran hutan dan lahan, cuaca panas…

Senin, 16 September 2019 13:55

PARAH..!! Hotspot di Kalbar Meluas, Tembus Seribuan

PONTIANAK-  Perubahan iklim atau pemanasan global (global warming) berupa kemarau…

Senin, 16 September 2019 12:04

Bandara Supadio Lumpuh Total, 37 Penerbangan Dibatalkan

SUNGAI RAYA - Sebanyak 37 penerbangan dari dan menuju Bandara…

Senin, 16 September 2019 11:59

Ketapang Dikepung Kabut Asap, Ribuan Warga Salat Minta Hujan

KETAPANG-. Sebagai langkah ikhtiar untuk mengakhiri musim kemarau panjang yang…

Senin, 16 September 2019 11:58

Karhutla di Perusahaan Malaysia Belum Padam

MELAWI- Satuan Tugas Gabungan Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) Melawi…

Senin, 16 September 2019 00:58

Desa Temajuk, Terisolasi Sejak Berdiri, Orang Sakit Paling Menderita, Kini Mulai Menggeliat

Warga Desa Temajuk, Kecamatan Paloh, Sambas pernah hidup dalam keterisolasian.…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia.
*