UTAMA | PONTIANAK | KRIMINAL | DAERAH

UTAMA

Jumat, 12 April 2019 11:49
RED II Jadi Sandungan Industri Sawit

PROKAL.CO, PONTIANAK – Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) menilai, penerapan Renewable Energi Directive II (RED II) yang dilakukan Komisi Uni Eropa semakin menjadi hambatan perdagangan sawit di pasar global. Diskriminasi negara Uni Eropa terkait komoditas sawit ini, bakal sangat merugikan negara produsen sawit, tak terkecuali bagi Indonesia.

“Saat ini kita juga sedang dihadapkan pada tantangan hambatan perdagangan yang diterapkan oleh Komisi Uni Eropa yang pada tanggal 13 Maret 2019 ini telah mengadopsi Renewable Energi Directive II (RED II),” ungkap Direktur Eksekutif Gapki, Mukti Sardjono, melalui keterangan tertulis.

Sejumlah kebijakan yang terdapat dalam RED II tersebut, menggolongkan minyak sawit sebagai beresiko tinggi sedangkan minyak nabati lain digolongkan beresiko rendah terhadap deforestasi.

Mukti mengatakan, RED II menjadi kebijakan yang akan penghapus penggunaan biodiesel berbasis sawit karena sawit digolongkan sebagai minyak nabati beresiko tinggi terhadap deforestasi. “Meskipun Iandasan ilmiah RED ll banyak dipertanyakan, diskriminasi negara Uni Eropa ini tentunya sangat merugikan negara produsen sawit,” tutur dia.

Sementara itu, meski harga crude palm oil (CPO) global bergeliat positif, namun kinerja ekspor sawit Indonesia tengah mengalami penurunan. Pada Februari 2019, Gapki mencatat harga CPO global menunjukkan kenaikan harga rata-rata bulanan sebesar 5 persen. Menurut dia, naiknya harga CPO global ini didorong oleh berkurangnya stok minyak sawit di Indonesia dan Malaysia dan juga minyak nabati Iain di beberapa negara produsen.

Namun, kinerja ekspor minyak sawit Indonesia mengalami penurunan. Untuk produk CPO dan produk turunannya, Biodiesel dan Oleochemical, maupun PKO dan turunannya saja, pada Februari 2019 ini tercatat mengalami penurunan lebih dari 11 persen dibandingkan dengan bulan sebelumnya. “Penurunan volume ekspor ini disebabkan antara Iain karena bulan Februari yang lebih pendek daripada bulan Januari,” kata Mukti.

Sekretaris Executive Gapki Kalbar, Idwar Hanis menuturkan, industri sawit Indonesia memang masih menghadapi sejumlah tantangan, mulai dari fluktuasi harga yang amat bergantung dengan permintaan global, persaingan minyak nabati komoditas lainnya, serta kampanye negatif sawit. “Isu-isu yang kurang produktif ini harus ditangkal. Ini juga karena ada persaingan yang ketat antar produsen minyak nabati dunia,” ungkapnya dia.

Namun di sisi lain, dia menilai sawit berpotensi besar apabila dikelola secara baik di dalam negeri. Maka dari itu, industri hilir sawit menurutnya harus segera dibangun, sehingga industri ini tidak hanya bergantung pada ekspor CPO ke luar negeri. Hanya saja diakuinya, dibutuhkan infrastruktur maupun regulasi yang mendukung lahirnya industri hilir ini.

“Industri hilir sangat bergantung dengan infrastruktur, mulai dari listrik, pelabuhan, tenaga kerja dan lain-lain. Tak kalah penting dukungan dari pemerintah melalui regulasi, yang mendukung industri ini,” pungkas dia. (sti)

loading...

BACA JUGA

Senin, 31 Agustus 2015 00:39

Ini Penyebab Mantan Kadispenda Kalbar Tewas

<p>SAMBAS-RK. Kecelakaan maut di Jalan Raya Parit Baru, Desa Parit Baru, Kecamatan Salatiga, Sambas,…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia.
*