UTAMA | PONTIANAK | KRIMINAL | DAERAH

UTAMA

Rabu, 10 April 2019 13:34
Keadilan untuk Audrey, Keluarga Desak Pelaku Ditindak

Gubernur: Harus Ada Efek Jera

TERBARING LEMAH: Audrey (14), siswi SMP korban pengeroyokan yang diduga dilakukan oleh 12 siswi SMA terbaring lemah di rumah sakit. Kasus yang menimpa Audrey kini tengah ditangani oleh Polresta Pontianak. SHANDO SAFELA/PONTIANAK POST

PROKAL.CO, PONTIANAK - Pihak keluarga AU (14), siswi SMP yang menjadi korban pengeroyokan oleh 12 siswi SMA pada Jumat (29/3) lalu, tetap akan menempuh jalur hukum. Mereka berharap para pelaku benar-benar ditindak dan mendapat efek jera agar tak ada lagi korban-korban selanjutnya.

Wajah AU masih tampak pucat, Selasa (9/4). Meski masih terbaring lemah di salah satu RS di Kota Pontianak, sesekali ia melempar senyum kepada tamu yang datang. Suasana di ruang rawat inap itu cukup ramai. Pihak keluarga dan kerabat silih berganti datang memberi dukungan. Tertulis di depan pintu, "hanya keluarga yang boleh masuk".

Kedatangan Pontianak Post disambut sang ibu Liliek Mailani. Menurutnya apa yang menimpa anaknya ini sebenarnya juga pernah dirasakan oleh korban-korban yang lain. Hanya saja sebelumnya tidak ada yang berani berbicara. Termasuk AU sendiri, yang awalnya sempat diancam agar tidak melapor ke siapapun.

"Anak saya juga sempat dalam pengancaman para pelaku itu, jangan dilaporkan kalau dianiaya baik ke orang tua atau saudara. Anak saya dalam tekanan," ucapnya.  Namun akhirnya cerita itu terbongkar lima hari kemudian, Rabu (3/4). Diawali muntah-muntah saat pagi hari,  AU akhirnya bercerita ke sang ibu, apa penyebab dari sakitnya tersebut. Dari sanalah kemudian diketahui semua kejadian yang menimpa siswi kelas 8 SMP itu.

Atas kejadian ini pihak keluarga tetap akan menempuh jalur hukum. Apalagi AU menurutnya tidak kenal dan sebelumnya tidak pernah berurusan dengan para pelaku. "Kami tetap melanjutkan proses hukum, laporan di Polresta sudah kemarin, kami di sana dulu, kalau memang lambat juga kami naikan ke Polda," ungkapnya.

Liliek berharap ke depan, jangan sampai terjadi lagi korban seperti AU yang lain. Meski ia mengaku tidak tega jika para pelaku ini dihukum, tapi yang paling penting ia menekankan harus ada efek jera.  Apalagi dari informasi yang didapatkannya para pelaku sudah sering melakukan tindak kekerasan. Membuat geng yang sering meneror para pelajar wanita. "Mereka (pelaku) ini pergaulannya sudah luas, saya sudah dengar mereka begini begitu, jadi banyak sekali simpatisan yang pernah dibantai sama mereka datang ke sini," ujarnya.

Yang pasti semua proses akan ia serahkan ke penegak hukum. Apapun hasilnya pihak keluarga tetap akan menerimanya. "Tetap serahkan ke pihak berwajib dan kami tidak mau damai," ucapnya.

Sementara untuk kesehatan sang anak ia mengaku secara fisik mulai pulih. Hanya menyisakan trauma yang cukup mendalam, sehingga korban terus didampingi oleh psikolog untuk proses penyembuhannya.

Terpisah, Gubernur Kalimantan Barat (Kalbar) Sutarmidji merasa miris mendengar kejadian ini. Ia meminta para pelaku tetap ditindak atas perbuatannya, sampai mendapat efek jera.  "Itukan diculik dan 12 orang ini (pelaku) perempuan semua," katanya saat diwawancarai, Selasa (9/4) siang.

Menurutnya usia para pelaku yang masih di bawah umur tidak lantas melepaskannya dari sanksi-sanksi. Perbuatan itu sudah sangat luar biasa dan harus bisa dipertanggungjawabkan.

"Ini akibat selama ini selalu berbicara pelaku tindak pidana adalah di bawah umur, sehingga sepertinya pelaku lebih dilindungi dari pada korban. Saya tidak mau seperti itu, harus adil. Jangan di bawah umur lalu mau melindungi pelaku, tidak boleh, kasihan korban," ujarnya.

Midji mengatakan, jika demikian, ke depan bisa saja orang-orang dewasa justru memanfaatkan itu untuk memperalat anak di bawah umur melakukan tindak pidana. Jika tidak ada efek jera, para pelaku juga bisa saja melakukan tindakan yang lebih dari apa yang dilakukan saat ini.

"Saya tidak setuju dengan KPAI kalau berlindung masalah ini anak di bawah umur, harus ditindak. Saya minta pokoknya harus ada tindakan terhadap mereka yang 12 ini, bentuknya apa silahkan," jelasnya.  Jika alasan hak pendidikan harus tetap diterima oleh para pelaku, Midji mengatakan itu bisa tetap diberikan dengan cara sekolah mandiri. "Misalnya di rumah tahanan anak, dipanggilkan guru untuk belajar di sana. Tapi harus ada efek jera, tidak boleh tidak," pungkasnya.

Seperti diketahui kasus ini cukup menarik perhatian banyak pihak. Kabarnya pun tersebar luas hingga menjadi isu nasional. Keprihatinan terhadap korban muncul dari berbagai pihak sampai muncul petisi #JusticeForAudrey di laman www.change.org. Hingga malam tadi yang menandatangani petisi online itu hampir mencapai satu juta orang. (bar) 

 

 

 1. Kejadian pengeroyokan terjadi, Jumat (29/3) sore

 

2. Usai kejadian, Jumat (29/3) malam korban muntah-muntah, namun tidak berani bercerita karena diancam pelaku

 

3. Korban akhirnya bercerita kepada orang tuanya, Rabu (3/4)

 

4. Kamis (4/4) korban dan pihak keluarga mengadu ke Polsek Pontianak Selatan dan visum

 

5. Senin (8/4) korban dan pihak keluarga membuat laporan ke Polresta Pontianak

 


BACA JUGA

Senin, 31 Agustus 2015 00:39

Ini Penyebab Mantan Kadispenda Kalbar Tewas

<p>SAMBAS-RK. Kecelakaan maut di Jalan Raya Parit Baru, Desa Parit Baru, Kecamatan Salatiga, Sambas,…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia.
*