UTAMA | PONTIANAK | KRIMINAL | DAERAH

UTAMA

Senin, 03 September 2018 13:46
Potensi Jeda Hujan hingga Pertengahan Oktober
BERSIH-BERSIH. BPBD Pontianak bersih-bersih mobil, motor, mesin, selang dan gudangnya, Sabtu (1/9). Hujan beberapa hari terakhir jadi kesempatan untuk menyiapkan peralatan menghadapi potensi Karhutla berikutnya. BPBD Pontianak for RK

PROKAL.CO,

PONTIANAK- Hujan lebat disertai angin kencang melanda Pontianak dan sekitarnya, Jumat (31/8). Kepala Stasiun Meteorologi Supadio Pontianak, Erika Mardiyanti, menyatakan hal tersebut dihasilkan awan Cumulonimbus.  “Angin kencang yang terjadi umumnya berdurasi 5 hingga 10 menit saja pada suatu wilayah, dampak akibat angin kencang ini, diantaranya terbangnya material bangunan di kompleks Universitas Tanjungpura (Untan)," jelasnya, Sabtu (1/9).

Tercatat, di Stasiun Meteorologi Maritim Pontianak, kecepatan angin maksimum mencapai 30 knot (±54 km/jam). Sedangkan di Stasiun Meteorologi Supadio, kecepatan angin 25 knot (±45 km/jam).  Curah hujan terukur hingga 19.00 WIB di Stasiun Meteorologi Maritim Pontianak mencapai 55,4 mm yang termasuk kriteria hujan lebat. Sedangkan di Stasiun Meteorologi Supadio hanya 12,5 mm.

Erika menyebut, fenomena cuaca ekstrem di bulan Agustus ini alamiah. Biasa terjadi. “Hujan lebat disertai petir dan angin kencang berdurasi singkat lebih banyak terjadi pada masa transisi musim (pancaroba), baik dari musim kemarau ke musim hujan atau sebaliknya atau pada saat terjadi pemanasan yang sangat kuat akibat beberapa hari tidak hujan,” paparnya.

Imbuh dia, "Series data di Stasiun Meteorologi Supadio menunjukkan pola peningkatan suhu udara maksimum harian selama 3 hari terakhir”.  Suhu udara maksimum harian tercatat 34,4°C, Jumat (31/8). Jeda hujan/hari tanpa hujan hanya 1 hari, yaitu pada Kamis (30/8). Menurut Erika, hal itu didukung kelembaban udara yang sangat tinggi pada lapisan atas. Serta terbentuknya pola konvergensi angin. Peningkatan suhu udara dan adanya jeda hujan ini telah menimbulkan hujan lebat disertai angin kencang.

Ia menuturkan, sebetulnya bulan Agustus identik oleh masyarakat dikenal sebagai musim kemarau. “Anggapan ini tidak sepenuhnya benar, karena untuk wilayah Kalbar sebenarnya hanya di sebagian Kabupaten Ketapang saja yang ditetapkan BMKG sebagai wilayah yang saat ini mengalami musim kemarau,” jelas Erika.

Sedangkan wilayah lainnya tipe hujannya ekuatorial. Yakni, terdapat 2 periode puncak hujan dalam 1 tahun yang biasa terjadi pada bulan November-Desember. Dan pada April-Mei. Periode curah hujan lebih rendah biasa terjadi pada bulan Februari dan bulan Juli-Agustus.

Halaman:

BACA JUGA

Senin, 31 Agustus 2015 00:39

Ini Penyebab Mantan Kadispenda Kalbar Tewas

<p>SAMBAS-RK. Kecelakaan maut di Jalan Raya Parit Baru, Desa Parit Baru, Kecamatan Salatiga, Sambas,…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers