UTAMA | PONTIANAK | KRIMINAL | DAERAH

UTAMA

Selasa, 08 Mei 2018 12:11
Anak-anak Lulusan Sekolah Malaysia Susah Dapat Pekerjaan

Pendidikan Dibantu, Anak Perbatasan Sekolah ke Negeri Jiran

ilustrasi

PROKAL.CO, PUTUSSIBAU- Bagi anak-anak perbatasan di Kabupaten Kapuas Hulu, mengenyam pendidikan di Malaysia bukan hal baru. Itu memang sudah menjadi pilihan para orangtua dengan alasan sekolah anak-anak mereka dibantu negeri setempat.  “Mulai dari TK hingga SMA memang ada tamatan dari negeri seberang (Malaysia),” ujar Camat Puring Kencana Herkulanus Albinus ditemui di Putussibau, Senin (7/5).

Rakyat Kalbar memberitakan, sayangnya, setelah lulus sekolah dan kembali ke kampung halamannya, mereka agak kesulitan mendapatkan pekerjaan. Beberapa perusahaan dalam negeri yang beroperasi di kawasan perbatasan bersifat selektif dalam menerima ijazah tamatan sekolah Malaysia. Akhirnya mereka pun tidak diterima ketika melamar bekerja ke perusahaan dalam negeri. “Karena kita belum ada kerja sama antara Malaysia – Indonesia terkait anak kita yang ada ijazah lulusan dari Malaysia itu bisa diterima bekerja di dalam negeri,” tuturnya.

Herkulanus mengakui, banyak warganya yang memilih sekolah di negeri jiran. Sebab Malaysia benar-benar bantu soal pendidikan. Walaupun akhirnya berakibat terhadap anak tersebut ketika kembali usai kelulusannya untuk bekerja di tanah air.

Namun demikian kata Camat, tidak semua perusahaan menolak ijazah Malaysia. Perusahaan sifatnya hanya mengantisipasi. “Jangan sampai didikan dari Malaysia lebih menonjol dibandingkan dengan didikan Indonesia,” ulasnya. Secara terus terang Herkulanus mengakui didikan Malaysia lebih bermutu kalau dibandingkan lulusan sekolah di dalam negeri. “Bahasa Inggris saja, anak-anak yang sudah sekolah di Malaysia lebih hebat bicaranya ketimbang anak-anak kita di sini,” tuturnya.

Camat sangat mengharapkan agar perusahaan maupun pemerintah Indonesia dapat menerima anak-anak perbatasan yang menyelesaikan pendidikannya di Malaysia agar bisa diterima bekerja di dalam negeri. Sebab soal pendidikan ini, pihaknya juga tidak bisa melarang masyarakat untuk menyekolahkan anaknya ke negeri seberang. “Tentunya orangtua itu ingin anaknya mendapatkan pendidikan lebih baik,” ujarnya.

Terhadap masalah ini, kata Herkulanus juga berharap pemerintah harus mencari solusi, agar anak-anak perbatasan jebolan sekolah di Malaysia bisa mendapatkan hak yang sama dalam bekerja. Jangan sampai anak Indonesia yang sudah punya pendidikan label luar negeri tetapi di Indonesia tidak pakai. “Padahal mereka mempunya kemampuan lebih dibanding jebolan pendidikan di dalam negeri,” lugasnya.

Agar masyarakat di perbatasan tidak lagi menyekolahkan anak-anak mereka ke Malaysia, Herkulanus menyarankan pemerintah Indonesia mempersiapkan fasilitas, SDM serta infrastruktur pendidikan yang lebih baik lagi di beranda depan NKRI. “Ini yang menjadi kelemahan kita, sehingga masyarakat memilih sekolah di Malaysia,” tutup Herkulanus.

Dikesempatan yang sama, Camat Empanang, Donatus Dudang menyampaikan, untuk wilayahnya juga berbatasan langsung dengan Malaysia. Kendati tidak mengetahui jumlah pastinya, anak-anak kecamatan tersebut juga ada yang sekolah ke Malaysia. “Yang jelas ada juga anak-anak kami sekolah di Malaysia,” ungkapnya.

Namun kata Dudang, anak-anak Kecamatan Empanang lebih banyak memilih sekolah di dalam negeri. “Seperti ada yang sekolah ke Kecamatan Badau, Semitau dan lainnya,” jelas Dudang.  (Andreas/rk)


BACA JUGA

Senin, 31 Agustus 2015 00:39

Ini Penyebab Mantan Kadispenda Kalbar Tewas

<p>SAMBAS-RK. Kecelakaan maut di Jalan Raya Parit Baru, Desa Parit Baru, Kecamatan Salatiga, Sambas,…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers