UTAMA | PONTIANAK | KRIMINAL | DAERAH

UTAMA

Sabtu, 24 Maret 2018 12:58
Ini Dia Pesawat Tanpa Awak Energi Matahari Pertama di Indonesia

Karya Putra Kalbar, Pernah Dibeli Kementerian

OPIOR-1604. Tim BorneoSkycam menampilkan pesawat tanpa awak berbahan energi matahari pada acara Pesona Kulminasi Matahari di kawasan Tugu Khatulistiwa, Rabu (21/3). Maulidi Murni.-RK

PROKAL.CO, PONTIANAK- Pengunjung pembukaan Pesona Kulminasi Matahari di kawasan Tugu Khatulistiwa disuguhi atraksi pesawat tanpa awak berbahan energi matahari (solar cell), Rabu (21/3). Pesawat pertama di Indonesia ini merupakan karya putra Kalbar.

Diberitakan Rakyat Kalbar, pesawat itu merupakan hasil eksperimen dari BorneoSkycam yang diberi nama OPIOR 1604. Pesawat tanpa awak ini dilengkapi dengan sistem Auto-Pilot dan kamera yang terhubung Realtime e Ground Control Station. Bentangan sayapnya 310 cm dan panjang badan 162 cm.

"Pada November 2017 kita sudah membuat empat eksperimen yang kita beri nama ‘Membelah Langit Khatulistiwa’" kata tim riset BorneoSkycam, Hajon Mahdi Mahmudin, Selasa (21/3). Hajon menyebutkan, drone biasanya menggunakan baterai dengan ketahanannya kurang dari satu jam. Untuk itu, timnya yang terdiri dari 10 orang mendapat request bagaimana caranya Unmanned Aerial Vehicle (UAV) atau pesawat tanpa awak itu bisa terbang selama-lamanya.

“Dalam artian sepanjang waktu bukan tidak turun-turun. Akhirnya kita pilih solar cell, karena kebetulan Indonesia berada di garis Khatulistiwa sinar. Mmataharinya melimpah dan kita bisa melakukan riset tersebut," terangnya.  Membuat satu unit pesawat ini mengeluarkan sekitar Rp120 juta. Saat ini mereka sudah membuat empat pesawat tanpa awak energi matahari.

"Yang ini pesawat tipe empat nama kode risetnya OPIOR yang merupakan salah satu nama burung endemik Kalimantan. Jadi OPIOR 1604. 16 target terbang kita dan empat kode dari pesawat," jelasnya.  Pesawat ini memiliki tegangan 110 watt paralel dengan baterai. Ketika terbang menggunakan solar cell bisa sambil mengecas baterai. Sehingga pada waktu siang hari bisa digunakan full. "Kebutuhan cuma 80 watt. Ada surplus untuk ngecas baterai," ungkapnya.

Proses pembuatannya, kata dia sekitar lima bulan yang dimulai November tahun lalu. BorneoSkycam tak hanya membuat eksperimen pesawat tanpa awak berbahan energi matahari. Tapi ada pesawat UAV konvensional dan pernah dijual ke Kementerian dengan harga Rp80 juta. Fungsi untuk pemetaan. "Bahan bakarnya masih konvensional, pakai baterai setiap satu jam turun," ucapnya. Sementara pesawat OPIOR untuk saat ini belum dijual, karena masih merupakan produk riset. Hajon khawatir, pesawat ciptaan mereka masih ada kendala.

Tim mereka sudah terbentuk sejak tahun 2012. Saat ini yang turun di lokasi hanya enam orang. Menurutnya jarak landasan yang dibutuhkan OPIOR standarnya 40 meter. Tapi saat agenda Pesona Kulminasi Matahari, pesawat itu diterbangkan dengan cara dilempar. Tujuan biar mendapatkan kecepatan yang sesuai.

"Take off melawan arah angin. Sistemnya memakai telemetri, kita atur orbit mau ke mana tanpa di kontrol,” jelasnya. Pada saat acara Pesona Kulminasi Matahari di kawasan Tugu Khatulistiwa, pesawat OPIOR hanya terbang atau mutar sekitar lokasi. Ini berdasarkan izin, selain itu lokasi tersebut merupakan kawasan tentara. "Kita kirim perizinan ke TNI AU dapat izin terbang di atas 100 meter di atas permukaan laut karena di sini jalur pesawat landing," tuturnya.

Ke depan, pembuatan pesawat tanpa awak ini bertujuan bisa dipakai oleh TNI, kebutuhan surveylan, kementerian terkait untuk pemetaan lahan yang luas. Bahkan diharapkan kedepannya bisa menjadi Base Transceiver Station (BTS) mobile. “April kita ke Papua Merauke pemetaan 65 ribu hektare. Sekarang tim lagi di Surabaya kita memetakan lahan pertanian mengukur kesehatan padi dari Kementerian," demikian Hajon. (Maulidi Murni/rk)


BACA JUGA

Senin, 21 Oktober 2019 10:51

Gadis SMP Nikah Pesanan dengan Lelaki Tiongkok

MEMPAWAH-Penjualan gadis bawah umur untuk pengantin pesanan lelaki Tiongkok, belum…

Minggu, 20 Oktober 2019 21:32

PARAH..!! 11 Siswa Dicabuli Kepala Sekolah

NGABANG – Dunia pendidikan di Kabupaten Landak tengah berduka dengan terungkapnya…

Sabtu, 19 Oktober 2019 11:41

Pembunuhan Kepala Skeolah, FS Ditetapkan Jadi Pelaku Utama

SINTANG- Polres Sintang menetapkan FS sebagai tersangka utama pelaku pembunuhan…

Jumat, 18 Oktober 2019 11:45

MASIH KECIL..!! Serapan Beras Lokal Kalbar Hanya 5 Persen

PONTIANAK- Beras di Kalbar tak menjadi komoditi yang mengalami inflasi.…

Jumat, 18 Oktober 2019 11:43

Sukimin Tewas Ditusuk Bekas Ponakan Mantu

SINTANG- Sayang keponakan, tak disayang menantu siapa menduga? Akhirnya, Sukimin,…

Jumat, 18 Oktober 2019 11:36

Lindungi dan Bangun Tata Niaga Kratom, Ini yang Dilakukan Petani

PUTUSSIBAU-. Keresahan para petani kratom di Kapuas Hulu diharapkan jadi…

Kamis, 17 Oktober 2019 10:58

Berkilah Stroke, Bandot Tua Jadikan Anak Bawah Umur Korban Nafsunya

SINGKAWANG- Kasus cabul terhadap anak di bawah umur kembali terjadi.…

Rabu, 16 Oktober 2019 14:44

Sembilan WNI Ditahan TDM

SANGGAU- Kita samua basudara, tak hanya melibatkan anak bangsa se…

Selasa, 15 Oktober 2019 23:40

MELUAS..!! Penolakan Pembangunan PLTN di Kalbar Sampai ke Pusat

PONTIANAK—Tidak hanya suara ribuan mahasiswa berlanjut ke Ketua DPR RI…

Selasa, 15 Oktober 2019 11:21

Tahun Depan, Restorasi Gambut Kalbar Seluas 149.901 Ha

PONTIANAK- Tahun 2020 mendatang Badan Restorasi Gambut (BRG) akan merestorasi…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia.
*