UTAMA | PONTIANAK | KRIMINAL | DAERAH

UTAMA

Minggu, 12 Mei 2019 12:44
Wendi Tamariska, Putra Kalbar Peraih Penghargaan Lingkungan Dunia
Lindungi Orang Utan dan Hutan Hujan Lewat Program Mata Pencaharian Berkelanjutan
PENGHARGAAN: Wendi Tamariska saat menerima penghargaan Whitley Award 2019 dari Princess Anne, selaku Patron Whitley Fund for Nature di The Royal Geographical Society London, Rabu (1/5) lalu. ISTIMEWA

PROKAL.CO, v class="field field-name-body field-type-text-with-summary field-label-hidden">

Wendi Tamariska dari Yayasan Palung (YP)/GPOCP meraih penghargaan Whitley Award 2019 atas dedikasinya di bidang konservasi lingkungan. Meski menuai pujian di luar negeri, ia justru merasa kurang dukungan dari negeri sendiri.  

IDIL AQSA AKBARY, Pontianak

PENGHARGAAN tertinggi di bidang konservasi itu diterimanya langsung dari Putri Kerajaan Inggris Princess Anne, selaku Patron Whitley Fund for Nature, Rabu (1/5) lalu di Gedung Royal Geographical Society London. 

Diberitakan Pontianak Post, Wendi, sapaan akrabnya, dinilai sukses melindungi orangutan dan hutan hujan melalui program mata pencarian berkelanjutan (SL) di bentang alam kawasan Taman Nasional Gunung Palung, Kabupaten Ketapang dan Kayong Utara. Sejak 2010 ia mulai mengajak masyarakat lokal memanfaatkan hasil hutan bukan kayu (HHBK) dan menjadikannya sebagai sumber penghasilan yang berkelanjutan tanpa merusak hutan.

Wendi melalui program SL dari Yayasan Palung juga berhasil merangkul masyarakat seperti para perajin tikar pandan melalui kelompok binaan. Masyarakat sebagai perajin akhirnya berhasil membuat anyaman dari bahan baku pandan dengan berbagai kreasi. 

Ada yang berupa tikar, dompet, tas kecil, tas laptop, tempat tisu, serta tempat untuk menyimpan pulpen dan pensil. Ada pula wadah untuk menyimpan charger handphone, dan gantungan kunci. 

"Semuanya dari bahan baku anyaman pandan. Beberapa perajin tikar pandan awalnya adalah penambang batu di sekitar kawasan hutan," katanya, Kamis (9/5). Setelah menjadi perajin tikar, masyarakat di sana akhirnya tidak lagi menjadi penambang batu. 

Selain itu, Wendi juga berhasil membina para petani lokal untuk mengolah lahan potensial atau lahan tidur untuk ditanami dengan pola yang ramah lingkungan. "Para petani binaan berhasil menggarap lahan mereka dengan menanam aneka tanaman seperti sayur-sayuran, tebu, cabe dan terong. Petani juga menanam bibit durian dan bibit lokal lainnya. Sebelum dirangkul dan dibina, mereka adalah perambah hutan," ujarnya. 

Atas usahanya inilah Wendi mendapat penghargaan Whitley Awad 2019. Selain Wendy, ada lima orang lain yang juga mendapat penghargaan serupa. Mereka berasal dari berbagai negara di dunia. Sebelumnya ada 100-an nominator dari 55 negara yang masuk seleksi pihak penyelenggara. 

Tak hanya itu, Wendi menjadi satu-satunya penerima penghargaan yang latar belakang pendidikannya S-1. Sementara kelima nomine lain semuanya bergelar profesor dan doktor. Saat menerima penghargaan ini, Wendi dan nomine lain masing-masing diberikan waktu dua menit untuk berpidato. 

Dalam pidatonya, Wendi mengucapkan rasa terima kasih kepada Whitley Fund for Nature  atas penghargaan yang diterimanya. Ia pun berterima kasih kepada pihak keluarga yang sudah mendukung, keluarga besar YP/GPOCP, dan masyarakat lokal, terutama para perajin dan petani di Kalimantan. "Bersama mereka, hutan hujan boleh hijau sebagai rumah dari habitat orangutan. Saya sangat bersemangat lagi untuk bersama dan bekerja sama dengan masyarakat lokal," ucapnya. 

Meski prestasinya ini sangat membanggakan, Wendi mengaku agak sedih. Hal itu karena tidak ada perwakilan negara Indonesia yang ikut menemaninya. Padahal para nominator yang lain semuanya didampingi duta besar masing-masing atau paling tidak utusannya. "Intinya saya merasa sedih. Kita di tempat orang, ketika orang lain sangat menghargai kita tapi justru tidak ada perwakilan (pemerintah Indonesia) kita di situ," ucapnya. 

Setelah kembali ke tanah air, Wendi mendatangi Presiden Majelis Adat Dayak Nasional (MADN) Cornelis untuk meminta dukungan, Kamis (9/5). Ia menyampaikan harapan agar ke depan, jika ada putra daerah yang mendapat penghargaan serupa, hendaknya bisa lebih dihargai oleh pemerintah. 

"Saya berharap ke depan ketika ada lagi yang seperti saya, tidak mengalami apa yang saya alami," terangnya. Tidak hanya mengharumkan nama daerah, Wendi juga telah berhasil membawa nama negara Indonesia ke tingkat dunia. Ia menjadi orang Indonesia keempat dan orang Kalimantan pertama yang pernah meraih penghargaan tersebut. 

Sementara itu, usai didatangi Wendi, Presiden MADN Cornelis menyatakan siap mendukung para pegiat konservasi seperti Wendi. Ia berharap di Kalbar bisa muncul Wendi-Wendi lainnya, karena hutan di tanah Kalimantan sangat perlu dijaga dan dilestarikan.

"Karena kan (hutan) untuk kepentingan dunia. Syukur beliau (Wendi) mau bekerja untuk kepentingan dunia. Ya, tapi pemerintah harus bantu-bantu. Jangan hanya disuruh-suruh oleh orang luar (pemerintah luar negeri)," ujarnya. 

Selaku Presiden MADN, Cornelis mendukung penuh. Namun, lantaran tidak punya dana, dukungan yang diberikan kepada MADN bukan bersifat materi. “Apa yang sudah mereka lakukan harus dinilai positif," katanya.(*)

loading...

BACA JUGA

Kamis, 23 Mei 2019 12:13

Siaga Dimana-mana, Tapi Sintang Aman dan Kondusif

SINTANG - Kapolres Sintang, AKBP Adhe Hariadi menanggapi terkait penetapan siaga…

Kamis, 23 Mei 2019 12:12

Demo Ricuh di Pontianak, Jaga Kalbar Tetap Aman

PONTINAKA- Demo di Kalbar Rabu (22/5) kemarin sempat terjadi kericuhan.…

Kamis, 23 Mei 2019 12:10

Pemilu 2019 Dianggap Paling Buruk

 PONTIANAK-. Orasi disampikan para orator dari Tugu Digulis Untan hingga…

Rabu, 22 Mei 2019 01:33

YA AMPUN..!! Ternyata Uang Jasa Tenaga Medis di RS Ini Belum Dibayarkan

SAMBAS- Uang jasa tenaga medis belum dibayar oleh manajemen  Rumah…

Senin, 20 Mei 2019 22:10

NAH KENAPA INI..?? 10 Pejabat Pemprov Kalbar Mundur

 PONTIANAK- Pembenahan sumber daya manusia (SDM) dilakukan Gubernur Kalbar, Sutarmidji…

Minggu, 19 Mei 2019 22:55

TNI Beraksi, Ikan Beku, Sosis dan Telur pun Disita

SANGGAU - Sedikitnya 180 kilogram daging ikan tuna beku yang…

Minggu, 19 Mei 2019 22:48

Ke Mabes TNI AU, Bupati Ingin Bandara Ini Jadi Bandara Perintis

SAMBAS- Pemkab Sambas menginginkan agar pengelolaan Bandara Liku Paloh ke depannya…

Minggu, 19 Mei 2019 22:43

Berharap Presiden Restui Provinsi Kapuas Raya

SANGGAU- Wakil Gubernur Kalimantan Barat, Ria Norsan mengaku Pemprov sudah…

Sabtu, 18 Mei 2019 15:34
Prostitusi Online di Sintang Terbongkar

Mucikari Pernah dapat Orderan Pejabat, Short Time Rp1 Juta Hingga Rp3 Juta

SINTANG-  Praktik prostitusi online kembali terbongkar di Kabupaten Sintang. Kali…

Jumat, 17 Mei 2019 01:06

Malam Takbiran Bakal Menggelegar, Ada 259 Meriam Karbit Disiapkan

 PONTIANAK Sebanyak 259 meriam karbit siap menyemarakkan Festival Meriam Karbit…

YUK..!! Kembalikan Kejayaan Jeruk Sambas

Siaga Dimana-mana, Tapi Sintang Aman dan Kondusif

Demo Ricuh di Pontianak, Jaga Kalbar Tetap Aman

Pemilu 2019 Dianggap Paling Buruk

YA AMPUN..!! Ternyata Uang Jasa Tenaga Medis di RS Ini Belum Dibayarkan

Atasi Krisis Pangan Melalui Budaya, Bagaimana Caranya..??

JANGAN ASAL..!! Merokok di Sini Kena Denda

NAH KENAPA INI..?? 10 Pejabat Pemprov Kalbar Mundur

TNI Beraksi, Ikan Beku, Sosis dan Telur pun Disita

Ke Mabes TNI AU, Bupati Ingin Bandara Ini Jadi Bandara Perintis
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .
*