UTAMA | PONTIANAK | KRIMINAL | DAERAH

UTAMA

Jumat, 12 April 2019 11:45
Kasus Penganiayaan Pelajar di Pontianak
Tiga Tersangka, Tidak Ada Bukti Ada Kekerasan di Alat Kelamin Korban
TIGA TERSANGKA: Anggota KPPAD Kalbar, Alik Rosyad mendampingi tujuh saksi pada konferensi pers di Mapolresta Pontianak tadi malam. Polresta Pontianak menetapkan tiga tersangka dalam kasus penganiayaan yang melibatkan belasan pelajar ini. SHANDO SAFELA/PONTIANAK POST

PROKAL.CO, PONTIANAK – Kapolisian Resort Pontianak menetapkan tiga orang tersangka terkait kasus  penganiayaan yang menimpa Audrey, siswi salah satu SMP di Pontianak. "Mereka mengaku telah melakukan penganiayaan, tetapi tidak secara  bersama-sama, atau mengeroyok,” ungkap Kapolresta Pontianak Kota, Kombes Pol Muhammad Anwar Nasir, Rabu (10/4) sore.

Ketiga pelaku tersebut yakni FZ alias LL (17),  TR alias AR (17), serta NB alias EC (17). Anwar menyatakan, ketiganya ditetapkan sebagai tersangka berdasarkan hasil penyelidikan serta pengakuan tersangka. Bentuk penganiayaan yang dilakukan tersangka, sebut dia, yakni menjambak rambut, mendorong sampai terjatuh, memiting, dan memukul  sambil melempar sendal.

Anwar menyebut, pihaknya sudah melakukan olah TKP di lokasi kejadian. "Sudah ada olah TKP. Sesuai dengan arahan  Ditreskrimum Polda Kalbar kita mungkin akan melakukan rekonstruksi agar ada persesuaian," tutur dia.

Ketiga tersangka ini, kata dia, dijerat dengan pasal 80 ayat 1 UU Perlindungan Anak dengan ancaman pidananya 3 tahun 6 bulan. "Kategori penganiayaan ringan berdasarkan hasil visum yang dikeluarkan hari ini oleh rumah sakit," jelasnya.

Dengan ancaman tersebut, lanjut dia, sesuai dengan sistem peradilan anak maka di bawah tujuh tahun dilakukan diversi. Pihaknya juga memastikan, dalam pemeriksaan tadi sudah dilakukan pendampingan dengan orang tua, Balai Pemasyarakatan (Bapas), dan KPPAD.

Dari Kasus ini, pihaknya menyita barang bukti dari tangan pelaku berupa handpone, dan sendal yang dipakai untuk melempar. Anwar pun meyakini tidak ada tersangka lain dalam kasus ini. "Sepertinya tidak ada lagi," kata dia.

Ada pun motif penganiayaan, tambah dia, yakni rasa dendam dan kesal tersangka terhadap korban. Menurut keterangan tersangka, korban kerap menyindir soal pacar, serta korban sering mengungkit perkara piutang yang pernah dilakukan oleh ibu salah satu tersangka. “Padahal sudah dibayar kenapa masih di ungkit-ungkit,” tutur dia.

Anwar juga menegaskan, informasi yang viral di medsos tidak semuanya benar. Salah satunya, informasi soal korban yang dianiaya oleh 12 orang, organ vitalnya ditusuk, dan lain sebagainya. “Yang ada tidak ada dua belas orang yang ada hanya tiga.”

Rekam Medis

Kapolrestas Pontianak Kombespol Anwar Nasir juga membeberkan hasil rekam medis yang dikeluarkan pihak rumah sakit Promedika, Rabu (10/4). Isinya menunjukkan bahwa secara fisik tidak ada luka yang cukup parah di tubuh korban. Bahkan berkali-kali ia menegaskan bahwa tidak ada bukti kekerasan terhadap alat kelamin korban. 

"Saya ulangi, alat kelamin, selaput dara atau hymen, intak, tidak tampak luka robek atau memar," katanya membacakan hasil rekam medis saat jumpa pers di Hotel Kapuas Palace, Rabu (10/4). 

Hasil tersebut justru bertolak belakang dengan kronologis kejadian yang dibuat dari hasil Berita Acara Pemeriksaan (BAP) sementara terhadap korban dan ibu korban. Yakni disebutkan bahwa saat perkelahian terjadi, korban sempat terjatuh dengan posisi terlentang, lalu salah satu pelaku EC menekan kelamin korban, sehingga korban merasa nyeri di bagian kelaminnya. 

Lebih lanjut Nasir menjelaskan, dalam proses penyidikan ini sudah ada lima orang yang di BAP pada 5 April lalu. Dari sisi pelapor, yakni korban dan ibu kandung korban. Lalu tiga terlapor yang diduga merupakan pelaku utama penganiayaan. 

"Itu BAP awal dan akan dilakukan kembali BAP tambahan. Korban kan mulai masuk RS tanggal 6 April, kami masih menunggu lagi korban, untuk BAP tambahan," jelasnya.

Menurutnya kronologi yang dipaparkan kali ini merupakan hasil sementara dari versi korban. Karena pemeriksaan memang masih terus berjalan. Pihaknya masih menunggu hasil BAP dari para terduga pelaku. 

"Jadi kami nanti tinggal sinkronkan antara keterangan para saksi maupun korban dengan pelaku. Kesesuaian itulah yang akan menjadi kronologis yang sebenarnya. Lihat saja penyesuaiannya, yang jelas hasil visum (rekam medis) sudah menjawab," ujarnya. 

Meski ada jarak waktu sekitar satu minggu antara kejadian dengan proses rekam medis, Nasir memastikan pihaknya tetap akan menggunakan hasil tersebut sebagai dasar. Kepolisian tidak berani berspekulasi apakah ada kemungkinan cidera atau luka yang dialami korban sudah membaik selama selang waktu tersebut. 

"Kami tetap berdasarkan hasil visum, patokan tetap hasil visum. Kami tidak berani spekulasi, tanya saja dokter atau ahli tersendiri, analisa dokter," ucapnya. 

Melihat hasil rekam medis yang menyatakan secara fisik tidak terjadi apa-apa terhadap korban, ia menduga mungkin saja ada kronologi yang terlalu dilebih-lebihkan. Namun untuk membuktikannya tetap masih harus menunggu proses penyidikan selesai.

"Tapi fakta yang ada begitu, boleh dicek ke RS langsung yang mengeluarkan visum, mereka berani bertanggung jawab, ini versi dokter. Dan ini fakta yang kami sampaikan," paparnya. 

Kapolda Kalimantan Barat, Irjen Pol Didi Haryono mengatakan, polisi tetap memperhatikan aspek psikologis dari korban dan pelaku. Jangan sampai, kata Didi, langkah penegakan hukum justru berdampak buruk bagi psikis para pelaku dan korban. 

“Penegakan hukum tetap dilakukan agar ada efek jera. Namun karena pelaku masih di bawah umur proses penegakan hukum akan terus didampingi oleh KPPAD Kalbar,” ujarnya usai menjenguk korban, kemarin. (sti/bar/var)


BACA JUGA

Senin, 31 Agustus 2015 00:39

Ini Penyebab Mantan Kadispenda Kalbar Tewas

<p>SAMBAS-RK. Kecelakaan maut di Jalan Raya Parit Baru, Desa Parit Baru, Kecamatan Salatiga, Sambas,…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .
*