UTAMA | PONTIANAK | KRIMINAL | DAERAH

UTAMA

Senin, 26 November 2018 12:11
Ini Alasan Supardi Hingga Tega Banting Anaknya hingga Tewas

Diduga Depresi

Jenazah korban saat disemayamkan.

PROKAL.CO, PONTIANAK- Kepolisian masih melakukan pemeriksaan terhadap Supardi Supriyatman, pelaku penganiayaan yang mengakibatkan hilangnya nyawa anak kandungnya sendiri berusia setahun empat bulan, Putri Aisyah, Sabtu (24/11) pagi. Dugaan sementara, pria 36 tahun itu mengalami depresi.  "Sampai sekarang proses penyelidikan terus berjalan, dimana beberapa barang bukti juga sudah kita sita," kata Wakasat Reskrim Polresta Pontianak, Iptu M. Resky Rizal, Minggu (25/11) seperti dilansir Rakyat Kalbar.

Dijelaskannya, Reskrim Polresta Pontianak telah berkoordinasi dengan pihak psikologi Polda Kalbar. Hasilnya menyebutkan, tersangka mengalami depresi. Karena pelaku yang pernah terlibat kasus pembunuhan di Kabupaten Sanggau ini telah melewati suatu pase atau peristiwa yang membuat dirinya syok dan stres.  "Ini bukan gangguan jiwa dalam artian gila. Tim Psikologi juga menyatakan kondisi tersangka normal, hanya saja mengalami depresi," paparnya.

Kendati demikian dirinya menjelaskan, pihaknya akan tetap berkoordinasi dengan tim psikologi. Mengingat untuk menentukan kejiwaan seseorang, diperlukan ahlinya. “Dalam hal ini ahli psikologi," jelasnya.  Intinya kata dia, untuk sementara proses penyelidikan akan terus dilakukan kepolisian. "Tersangka juga sebelumnya pernah berbuat tindak pidana dan divonis," tutup Resky.

Diberitakan sebelumnya, Sabtu, (24/11) sekira pukul 08.30 WIB, Supardi membanting anak bungsunya hingga tewas di kediamannya Jalan Usaha Baru, Parit Langgar, Sungai Renggas, Kubu Raya. Menurut istri pelaku, Hamisah, sebelum peristiwa nahas merenggut nyawa anaknya itu terjadi, sang suami sempat mengaji di ruang tamu. Ia sempat memperhatikan bahwa saat mengaji kondisi fisik Supardi kurang baik. Raut wajahnya terlihat pucat. Seperti kelelahan dan tak bertenaga.

Lantas, Supardi berbaring di ruang tamu. "Saya suruh pindah ke dalam, dia pun pindah," cerita Hamisah yang tersandar lemas ditemani seorang perempuan paruh baya, di dalam kamarnya. Saat pindah berbaring di ruang tengah, sang anak sempat bermain dengan ayahnya tersebut. "Anak itu dipeluknya, dicium, saat itu tidak ada gelagat aneh, biasa saja," ucapnya.

Usai mengeloni sang buah hati, Supardi memaksa si anak untuk tidur. Lalu, anak tersebut ia gendong dan dibawa ke teras rumah sebentar.  "Sempat keluar dan menegur tetangga sebelah, sepupu saya juga," tukas Hamisah. Setelah itu, si anak dimasukkan ke dalam ayunan untuk disuruh tidur. Namun, rupanya tidak mau tidur dan menangis.

"Saya mau ambil untuk disusukan, namun katanya  biar jak, tak usah nyusu, biar dinyanyikan katanya," terangnya. Saat itu, Hamisah merasakan gelagat tak biasa dari perilaku suaminya. Sebab, sang suami yang ia kenal tak pernah berlaku kasar kepadanya.  "Saya mulai merasa aneh, kok begini, dia itu tak pernah kasar," bebernya.

Karena sang anak tak berhenti menangis, maka Hamisah pun mengambilnya dari dalam ayunan. Dan membawanya ke kamar untuk disusui.

 “Saat saya susukan sambil baring, diambil die (suaminya), dibawak keluar rumah, saya pun mengejarnya dan menarik anak itu, mamak mertua saya juga teriak," sebutnya.

Sambung Hamisah, "Akhirnya berebutan, saya takut Putri diapa-apakan, karena dia (Supardi/suami Hamisah) tidak pernah kasar begitu”. Ketika itulah, peristiwa nahas tersebut terjadi. Sang suami tiba-tiba memuncak emosinya. "Dia marah-marah dan membanting  kepala anak saya, habis itu saya tidak mampu mengingat kejadian lagi," pungkasnya, sembari terus mengusap air matanya. (and)


BACA JUGA

Senin, 31 Agustus 2015 00:39

Ini Penyebab Mantan Kadispenda Kalbar Tewas

<p>SAMBAS-RK. Kecelakaan maut di Jalan Raya Parit Baru, Desa Parit Baru, Kecamatan Salatiga, Sambas,…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .
*