UTAMA | PONTIANAK | KRIMINAL | DAERAH

UTAMA

Sabtu, 17 November 2018 13:26
Tak Sadarkan Diri Usai Diberi Makanan, Gadis 14 Tahun ‘Digarap’ Teman FB

Jangan Ada Lagi Oknum Guru Jadi Pelaku Pencabulan

ilustrasi

PROKAL.CO, PONTIANAK- Kasus kekerasan seksual terhadap anak di bawah umur di Kota Pontianak dan Kabupaten Kubu Raya semacam fenomena gunung es. Belum tuntas kasus tiga beradik yang dicabuli pamannya di Pontianak Utara, kini kasus baru kembali terungkap di Kubu Raya.

Adalah bunga (bukan nama sebenarnya), gadis berusia 14 tahun. Siswi kelas tiga Sekolah Menengah Pertama (SMP) itu menjadi korban persetubuhan oleh DE, pada Rabu (7/11). Pemuda 18 tahun itu baru dikenalinya beberapa hari sebelum kejadian. Parahnya, perkenalan itu hanya melalui media sosial facebook.

 “Kami kemarin Selasa 13 November menerima laporan dari seorang bapak yang mengaku bahwa anaknya disetubuhi oleh lelaki berusia 18 tahun. Inisialnya DE. Sedangkan korban baru masuk usia 14 tahun,” terang Ketua Komisi Pengawasan dan Perlindungan Anak Daerah (KPPAD) Kalbar, Eka Nurhayati Ishak ditemui di kantornya, Kamis (15/11).

Dalam keterangan Bunga dan ayahnya, dijelaskan Eka, sebelumnya Bunga diajak teman seumuran berinisial K. Teman Bunga semasa perempuan tersebut mengajaknya secara paksa ke suatu tempat untuk bertemu dengan DE. Awalnya Bunga yang merupakan bungsu dari dua bersaudara ini sempat menolak. Karena dia canggung dan baru kenal dengan DE.  Namun Bunga polos dan menurut saja apa kata teman sekolahnya tersebut. Pertemuan dengan pemuda putus sekolah itu pun terjadi.

 “Nah, saat bertemu di kawasan Sungai Ambawang, korban diberi makanan oleh pelaku. Tidak lama kemudian korban hilang ingatan dan tertidur. Sadar tak sadar, sekitar jam lima subuh (8 November, red), leher korban penuh dengan tanda merah. Perutnya juga sakit dan mau buang air kecil, terasa pedih,” jelas Eka menerangkan pengakuan Bunga.

Menurut cerita Bunga, kata Eka, dia keluar dari rumahnya diajak oleh K sekitar pukul 18.00 Wib. Pada 7 November itu. Bunga sempat izin ke orangtuanya untuk ke warnet yang tak jauh dari rumahnya. Seingat Bunga, lanjut Eka, dia memakan makanan itu sekitar pukul 01.00 Wib. Selepas itulah dia tak ingat apapun yang terjadi.

Dalam kondisi tak stabil, Bunga hendak dibawa DE ke suatu tempat. Sekitar pukul 11.00 Wib, Bunga terlihat oleh ibunya berbonceng dengan DE di di simpang empat Parit Mayor-Desa Kapur. Ibunya, saat itu juga langsung membawa Bunga pulang ke rumah. "Korban kemudian dibiarkan beberapa jam untuk beristirahat di rumah," terang Eka.

Ketika terbangun, Bunga kemudian menceritakan kepada orangtuanya mengenai cap merah di leher dan tubuhnya serta rasa sakit perut dan perih ketika mau buang air kecil. “Reaksi orang tuanya langsung memeriksa korban dan melaporkan ke kepolisian, Unit PPA Polresta Pontianak, pada 8 November,” beber Eka.

Saat ini, menurut Eka, Polresta Pontianak masih melakukan penyelidikan lebih lanjut. Pihak KPPAD pun masih menunggu hasil visum. “Untuk pelaku, belum ditangkap,” katanya.

Kondisi Bunga pun disebut Eka, masih belum stabil. Dia menduga, hal itu akibat zat yang terkandung dari makanan yang diberi oleh pelaku. “Jadi korban ini, kalau bahasa kita, suka meracau. Tapi soal kejadian dan siapa saja, dia masih ingat. Korban pun masih malu untuk ke sekolah dan keluar rumah,” terangnya.

Hal yang masih diingat betul oleh Bunga adalah, bahwa dia kenalan dengan DE di FB, dua hari sebelum kejadian. Itu pun dipaksa oleh temannya, K. Pengakuan Bunga, DE masih sering melakukan pengintaian terhadapnya dan berusaha menghubungi lewat messenger.

 “Setelah kejadian itu korban mengalami traumatik. Dia menceritakan semua kejadian dengan mata yang berkaca-kaca. Kami juga memberikan pendampingan dengan menghadirkan psikolog untuk memulihkan traumatik korban,” ujarnya.

Eka meminta, kepolisian cepat mengungkap kasus ini. Selain DE, K juga harus diamankan. Karena, K lah yang memaksa Bunga untuk bertemu dengan DE. Sesuai pengakuan Bunga.  “Namun, kami menyerahkan sepenuhnya ke kepolisian. Apakah ini bisa dikembangkan mengarah ke K atau tidak. Ini tugas kepolisian. Tugas kami hanya melindungi dan mendampingi serta pengawasan,” ujarnya.

Dalam kesempatan ini, Eka juga memaparkan, KPPAD telah menerima 60 laporan kasus kejahatan terhadap anak. “Ini bukan dalam setahun. Ini sejak April. Kasus yang paling berat asusila dan cabul. Hampir seluruh kabupaten,” paparnya.

Jika dikaji, kasus asusila dan kejahatan seksual yang menimpa anak ini terus saja terjadi. Untuk itu, menurut Eka, perlu ada kerja sama antara orangtua, pihak sekolah dan lembaga terkait dalam hal pengawasan terhadap anak. Karena, anak-anak ini kan dilepas dari rumah sekian jam untuk berada dalam pengawasan pihak sekolah. "Pengawasan yang paling penting itu dari pihak sekolah. Kalau pihak sekolah tidak ada hubungan komunikasi yang baik, juga tidak bisa. Nah, setelah pulang sekolah, orangtua juga harus fokus melakukan pengawasan,” imbaunya.

Karena, sambung Eka, rata-rata para korban ini adalah dari keluarga yang ekonominya kelas menengah ke bawah. Dimana, orang tuanya sibuk mencari rezeki. Sehingga anak-anaknya tidak terkontrol dan termonitor.

 “Sebagai contoh, ya kasus ini. Anaknya, jam enam sore pergi dengan temannya, ke warnet. Seharusnya jam segitukan si anak, bagi yang Muslim, ya salah Magrib. Lalu, jam wajib belajarkan ada sampai jam delapan malam. Tapi ini anak masih keluruyan. Meski dia ke warnet dekat dengan rumahnya, tapi selepas itu siapa yang tahu,” tutupnya.

Sementara itu, kasus kekerasan seksual di Kabupaten Sambas dinilai cukup tinggi. Sampai saat ini sudah ada 20 kasus yang dilaporkan.  “Dalam kasus ini, ada anak yang menjadi pelaku dan ada juga anak yang menjadi korban. Ini harus menjadi perhatian serius kita bersama,” kata Bupati Sambas Hj Hairiah saat acara rembuk pendidikan di Kecamatan Selakau, Kamis (15/11).

Tidak sedikit kasus kekerasan dan pelecehan seksual dilakukan oknum guru kepada muridnya. Fenomena ini tentu saja memprihatinkan dan membuat dunia pendidikan tercoreng. Hairiah tidak mau lagi mendengar ada kasus oknum guru di kabupaten tersebut berbuat cabul kepada muridnya. “Saya dan Bupati tidak mau mendengar lagi pelakunya adalah oknum guru,” tegasnya.

Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Sambas kata dia, meski turut memberikan perhatian pada pelecehan dan kekerasan seksual. Forum rembuk pendidikan harus bisa melahirkan ide dan konsep agar anak-anak didik terhindar dari kasus kekerasan dan pelecehan seksual. Ini menjadi penting karena anak didik adalah generasi penerus bangsa. Mereka harus dibentuk menjadi SDM berkualitas dan berkarakter.

 “Lingkungan sekolah dan keluarga mempunyai peranan penting menghadirkan generasi penerus yang berkualitas dan berkarakter ini,” serunya.

Hal lain yang menjadi perhatian Hairiah adalah angka putus sekolah. Dirinya meminta semua peduli pada anak-anak yang putus sekolah. Dari rembuk pendidikan ini bisa ajukan masukan dan saran kedepannya dalam Musrenbang. Bagaimana membuat kerangka program agar bisa mengurangi atau mengatasi masalah anak putus sekolah.

 “Bagaimana kita bersama-sama bisa mensupport generasi muda kita untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi lagi,” gugahnya. Hairiah juga meminta forum rembuk pendidikan mendukung visi misi pembangunan Pemkab Sambas. Yakni membangun kabupaten sambas berakhlakul karimah, unggul dan sejahtera. (oxa/sai/rk)


BACA JUGA

Senin, 31 Agustus 2015 00:39

Ini Penyebab Mantan Kadispenda Kalbar Tewas

<p>SAMBAS-RK. Kecelakaan maut di Jalan Raya Parit Baru, Desa Parit Baru, Kecamatan Salatiga, Sambas,…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .