UTAMA | PONTIANAK | KRIMINAL | DAERAH

UTAMA

Sabtu, 18 Agustus 2018 10:23
Ternyata, Larangan Bakar Lahan Sudah Ada Sejak Zaman Belanda
INGAT..!! Kabut Asap Berpengaruh Besar Terhadap Perekonomian
AKSI DAMAI. HMI Pontianak mengggelar aksi damai menyikapi maraknya Karhutla di di Digulis Untan, Rabu sore (15/8). Ambrosius Junius-RK

PROKAL.CO, PONTIANAK- Bank Indonesia Kalbar belum ada melakukan kajian ekonomi dampak kebakaran dan lahan (Karhutla). Namun dipastikan berpengaruh besar terhadap perekonomian Kalbar. “Sejauh ini untuk kajian BI terhadap Karhutla belum ada,” kata Kepala Kantor BI Kalbar, Rabu (15/8).

Diberitakan Rakyat Kalbar, Karhutla kata dia, tidak hanya menjadi isu daerah. Melainkan nasional. “Pengaruhnya sangat besar, seperti dari segi distribusi logistik,” ucapnya. Karhutla yang menyebabkan asap pekat tentu menghalangi jarak pandang pengemudi yang mengangkut logistik. Misalnya kapal laut atau pesawat yang mengangkut logistik. “Ini juga berpengaruh terjadinya inflasi,” jelasnya.

Persoalan kabut asap di Kalbar bukan baru kali ini saja terjadi. Namun berulang.  Upaya yang dipersiapkan BI menghadapi dampak Karhutla memitigasi risiko. “Dalam kajian BI kita ada namanya risiko, dimana faktor-faktor yang bisa mempengaruhi,” ungkapnya. “Artinya bisa tidak terjadi dan bisa terjadi terkait ekonomi kedepan, salah satu risiko seperti Karhutla,” timpal Prijono.

Karhutla masuk dalam kategori risiko, sebab pengaruhnya terhadap inflasi. Untuk risiko ini tidak semua daerah memiliki problem yang sama. Seperti Kalbar yang memiliki tanah gambut, sehingga memiliki potensi besar terbakar.

“Kita melihat dampak yang sangat besar berpengaruh pada penyisihan harga. Utamanya komoditas yang sudah ditetapkan oleh pemerintah,” papar Prijono. Senada disampaikan Pengamat Ekonomi dari Universitas Tanjungpura (Untan) Pontianak, Ali Nasrun, Karhutla bukan persoalan baru di Kalbar. Walau terus berulang terjadi, pemerintah masih belum menemukan solusi tepat mengantisipasinya. Padahal kabut asap akibat Karhutla berdampak besar. “Salah satunya menghambat transportasi,” ujarnya.

Kabut asap mengakibatkan jarak pandang berkurang. Sehingga beberapa usaha tranportasi memutuskan tidak beroperasi. “Kabut asap juga berakibat terhadap biaya produksi semakin tinggi, tentu hal tersebut juga menjadi pertimbangan mereka,” katanya.

Karhutla kerap dihubungkan dengan perusahaan nakal. Ada pula tudingan terhadap cara petani membersihkan lahan. “Pertanyaan ini sudah seperti lingkaran setan. Artinya apabila kita tidak bisa menyediaan lapangan pekerjaan yang baik, tentu salah satu dampak yang terjadi adalah seperti ini,” tuturnya.

Salah satu solusi yang dapat dilakukan untuk jangka panjang adalah dengan melakukan perubahan dari sisi pola kerjanya. Baik di perkampungan maupun perusahaan skala besar. “Sehingga dengan demikian mereka tidak membakar, atau usaha lain yang tidak ada urusan bakar lahan,” sebutnya.

Sebenarnya sambung dia, larangan membakar lahan sudah diberlakukan sejak zaman Belanda. “Dulu tidak boleh lahan dibakar,” jelasnya. Kalaupun boleh sambung Nasrun, namun dilakukan secara bertahap. Tidak boleh serentak. “Apalagi dulu orang yang bertani sedikit, tidak seperti sekarang,” tuturnya.

Dia menilai, teknik teknologi pengolahan lahan harus diubah. Akan tetapi, perubahan itu harus memiliki dampak yang dapat dimanfaatkan oleh petani. Misalnya kayu yang ditebang, dipotong-potong dijadikan serbuk dan kertas. Sehingga memiliki nilai ekonomi. “Pada akhirnya tidak perlu membakar, tebang kayu bisa jadi duit,” sarannya.

Sejauh ini, pemerintah sudah berupaya menanggulangi Karhutla yang kerap terjadi di lahan gambut. Salah satunya dengan menggelontorkan dana setengah miliar untuk bibit nanas. Bahkan membangun pabrik nanas di kawasan Rasau Jaya. “Namun setelah bibit diberikan, sampai saat ini nanasnya tidak berbuah-buah, hanya sebiji-sebiji, bahkan pabrik yang dibangunpun terbengkalai menjadi besi tua. Artinya program yang dibuat tidak tuntas,” jelasnya

Pemilihan tanaman nanas, lantaran dapat hidup di lahan gambut. Tidak hanya sekali, bahkan dapat tumbuh berkali-kali ditempat yang sama dengan mudah. Hal ini dilakukan sebagai upaya pemerintah menanggulangi pengolahan lahan dengan cara membakar. “Jangan bilang bakar lahan karena kearifan lokal, sebab yang namanya kearifan tidak harus merusak,” demikian Nasrun.

Terpisah, Wakil Bupati Sambas Hj. Hairiah mengungkapkan, di wilayahnya sudah dijumpai hotspot. Untuk itu, dia mengimbau masyarakat tidak membuka lahan dengan cara dibakar. Karena musim kemarau seperti ini sangat mudah terbakar, apalagi lahan gambut. "Karena bisa saja menyebabkan kebakaran yang luas," ujarnya, Rabu (15/8).

Ditegaskan Hairiah, sanksi pidana menanti pelaku yang menyebabkan kebakaran lahan cukup berat. Masyarakat diimbau bersama-sama Pemda, TNI dan Polri turut serta dalam penanggulangan Karhutla. "Kita selalu menegakkan hukum bagi masyarakat atau pelaku yang sengaja membakar lahan. Aturannya sudah jelas dan akan dikenakan pidana," tuturnya.

Karhutla mengakibatkan kabut asap di Kota Pontianak kian tebal. Kualitas udara pun menjadi buruk. Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Kota Pontianak menggelar aksi damai di Digulis Universitas Tanjungpura (Untan), Rabu sore (15/8).

Kaum intelektual muda ini turun kejalan sebagai bentuk solideritas terkait keadaan udara yang memburuk di Kota Pontianak dampak Karhutla beberapa hari terakhir. Sebelum berorasi, mereka menyanyi lagu Indonesia Raya. Aksi dikawal kepolisian. Lalulintas tetap ramai lancar.

"Aksi ini Sebagai bentuk solidaritas kita. Karhutla ini menyebabkan kerugian-kerugian besar," kata sang orator dengan lantang. Selain kepada puluhan peserta aksi damai, orator juga menyampaikan kepada pengendara yang melintas. Mereka turun ke jalan karena harus kritis terhadap segala persoalan. Menjadi garda terdepan menyuarakan rintihan masyarakat.

Selain kerusakan lingkungan, Karhutla berdampak ke berbagai sektor. Seperti perekonomian, perhubungan (transportasi) serta kesehatan. "Masyarakat sangat dirugikan," ujarnya. Secara bergantian mereka menyampaikan orasinya. Mereka juga menuntut pemerintah berbuat banyak terkait masalah ini. Menangkap pelaku Karhutla dan ditindakan tegas. Berbagai poster berisikan tuntutan mereka bentangkan. Salah satu tuntutan, ‘Tangkap Oknum Yang Segaja Bakar Hutan’.

Selain tuntutan, mereka juga mengajak masyarakat menjaga hutan. Tidak membakar hutan dan lahan. "Kepada pemerintah dan institusi terkait untuk menindaklanjuti pelaku pembakar," tuntut pendemo. Koordinator aksi, Muhammad Hakiki menuturkan, HMI Kota Pontianak turun ke jalan memenuhi panggilan, seruan dan rintihan masyarakat yang saat ini dilanda kabut asap. Kabut asap telah dampaknya sangat besar. Dapat menganggu hubungan internasional dengan negara jiran. “Seperti Malaysia dan Singapura, sangat dirugikan,” ujarnya kepada wartawan di sela-sela aksi.

Belum lagi ditinjau dari segi ekonomi. Berapa anggaran yang dikeluarkan pemerintah untuk menanggulangi Karhutla ini. "Seandaainya kabut asap ini semakin menjadi, bisa mengganggu proses belajar mengajar," ujarnya.

Karhutla pasti ada pelakunya, baik dilakukan secara individu maupun kelompok. Secara individual, masyarakat membakar lahan hanya untuk mencari nafkah, namun dapat merugikan orang banyak. “Yang kelompok meskipun dia mendapat izin, tapi harus melihat yang merasakan dampaknya," tutup Hakiki. (Nova Sari, Sairi, Ambrosius Junius/rk)


BACA JUGA

Sabtu, 06 Oktober 2018 12:47
Peringati HUT ke 73 TNI di Kodam XII/Tpr

Berikan yang Terbaik untuk Rakyat

SUNGAI RAYA- Diusia ke 73, personel TNI yang yang bertugas di Kalbar diharapkan lebih profesional lagi.…

Sabtu, 06 Oktober 2018 12:42

ILEGAL..!! Ribuan Telur dan Ayam Malaysia Dimusnahkan

ENTIKONG- Stasiun Karantina Pertanian (SKP) Entikong, Kabupaten Sanggau memusnahkan lebih dari 1.200…

Kamis, 04 Oktober 2018 10:19

NGERI..!! Supinah Dibunuh Secara Sadis

SEKADAU- Wanita yang ditemukan tewas mengenaskan di rumahnya Desa Peniti, Kecamatan Sekadau Hilir, Sekadau,…

Kamis, 04 Oktober 2018 10:16

Khawatir Penjarahan Massal di Sulteng, Relawan Kalbar Tunda Berangkat

PONTIANAK- Bencana gempa bumi dan tsunami Sulawesi Tengah (Sulteng) menggerakkan hati banyak pihak.…

Selasa, 02 Oktober 2018 09:38

Wanita di Peniti Tewas Bersimbah Darah

SEKADAU- Masyarakat Desa Peniti Kecamatan Sekadau Hilir Kabupaten Sekadau dikejutkan dengan penemuan…

Selasa, 02 Oktober 2018 09:37
Operasi Tibtor Polda Kalbar

126 Penjahat dan 92 Kendaraan Diamankan

PONTIANAK- Selama sebulan ini, Polda Kalbar menggelar Operasi Tertib Kendaraan Bermotor (Tibtor) Kapuas…

Kamis, 27 September 2018 12:04

Indeks Kerawanan Pemilu Kalbar Kategori Sedang

PONTIANAK- Indeks Kerawanan Pemilu, Kalimantan Barat masuk dalam kategori sedang. Penilaian itu tidak…

Selasa, 25 September 2018 11:00

Sultan Berang, Laporkan Akun Facebook Intan Sekar Sari

PONTIANAK- Sultan Pontianak Syarif Machmud Melvin Alkadrie dalam waktu dekat ini akan melaporkan akun…

Selasa, 25 September 2018 10:57

PLTBm Pertama di Kalbar, Berkapasitas 15 MW

MEMPAWAH-  Menteri PPN/Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro bersama Gubernur Kalbar Sutarmdiji…

Selasa, 25 September 2018 10:55
Sah! Secara Defacto Gambar Garuda Pancasila Karya Sultan Pontianak ke VII

Tinggal Menunggu Penetapan Sultan Hamid II sebagai Pahlawan Nasional

PONTIANAK- Gambar rancangan asli lambang negara Republik Indonesia, Elang Rajawali - Garuda Pancasila…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .