UTAMA | PONTIANAK | KRIMINAL | DAERAH
Minggu, 06 September 2015 11:14
Pegawai Bank Kalbar Diduga Gelapkan Uang Nasabah Rp1,6 M

PROKAL.CO, style="line-height: 1.38; margin-top: 0pt; margin-bottom: 0pt;" dir="ltr">PONTIANAK - Direktorat Reserse Kriminal Khusus Kepolisian Daerah Kalimantan Barat masih melakukan penyelidikan terkait kasus kejahatan perbankan yang menyeret IM, seorang pegawai Bank Kalbar Cabang Pembantu Entikong Kabupaten Sanggau. IM diduga menggelapkan uang nasabah sebesar Rp1,6 miliar.

Direktur Reserse Kriminal Khusus Polda Kalbar Kombes Agus Nugroho menyatakan, kasus penggelapan uang nasabah oleh customer service (CS) Bank Kalbar Cabang Pembantu Entikong ini berawal dari laporan seorang nasabah yang komplain tentang saldo rekeningnya ke Bank Kalbar.

Kemudian oleh Bank Kalbar, laporan itu ditindaklanjuti dengan menurunkan tim investigasi dan auditor ke Bank Kalbar Cabang Pembantu Entikong. Dari hasil audit tersebut diperoleh adanya dugaan penyimpangan yang dilakukan oleh tersangka IM.

“Dugaan penyimpangan ini merupakan temuan dari tim auditor Bank Kalbar yang kemudian dilaporkan ke Polda Kalbar sekaligus menyerahkan tersangkanya ke Polda Kalbar,” kata Agus saat memberikan keterangan pers bersama para direktur Bank Kalbar di aula Graha Khatulistiwa Polda Kalbar, kemarin.

Dijelaskan Agus, terhadap tersangka telah dilakukan penahanan sejak 26 Agustus 2015. Selain itu, pihaknya juga memeriksa 10 saksi, baik internal Bank Kalbar maupun nasabah. Dari pemeriksaan tersangka maupun saksi diperoleh beberapa fakta, diantaranya, modus operandi dengan cara membuat ATM tanpa persetujuan nasabah pada saat pembukaan rekening oleh nasabah.

“Dengan menggunakan ATM inilah, tersangka mengambil uang nasabah baik tunai maupun via transfer ke rekening pribadi,” jelasnya.

Dilanjutkan Agus, dari hasil pemeriksaan, pihaknya telah berhasil menyita barang bukti dokumen, antaranya, 24 ATM, satu lembar hasil audit, satu buah ATM Bank Mandiri milik tersangka, satu buah ATM Bank Mandiri milik MM (istri tersangka), satu buah buku tabungan, dua buah register permohonan, satu unit HP, formulir pembukaan tabungan, dua buah tabungan Bank Kalbar, dan tiga lembar slip setoran.

Dari hasil pemeriksaan terhadap tersangka, kata Agus, uang nasabah yang digelapkan tersangka digunakan untuk bermain judi online. Namun demikian pihaknya tetap fokus pada kasus yang menimpa Bank Kalbar.

Dilanjutkannya, akibat perbuatan tersangka tersebut setidaknya 54 nasabah Bank Kalbar dirugikan. Perbuatan ini telah dilakukannya sejak Februari 2015. “Jadi korbannya tidak hanya satu nasabah, melainkan ada 54 nasabah. Ini secara berulang-ulang, sejak Februari 2015,” lanjutnya. Saat ini, pihaknya terus menyelidiki aset yang dimiliki tersangka.

Direktur Kepatuhan Bank Kalbar Musafir menyatakan, penyelesaian kasus yang menyeret pegawainya diserahkan sepenuhnya kepada Polda Kalbar.

Musafir juga membeberkan kronologis terungkapnya indikasi penyimpangan yang dilakukan salah saorang customer service Bank Kalbar Cabang Pembantu Entikong atas inisial IM. Menurutnya, pada 14 Agustus 2015, saat tim audit Bank Kalbar melakukan pemeriksaan di Kantor Cabang Pembantu Entikong ditemukan indikasi penyimpangan.

Dari hasil pemeriksaan tim audit Bank Kalbar, kemudian Bank Kalbar langsung membentuk tim untuk melakukan audit di Bank Kalbar Cabang Pembantu Entikong tersebut. “Hasilnya ditemukan adanya perbuatan melawan hukum yang dilakukan oleh IM, selanjutnya setelah diperoleh data-data yang akurat, maka pada tanggal 25 Agustus 2015, pelaku bersama alat bukti diserahkan ke Polda Kalbar guna diproses dan dilakukan penyelidikan lebih lanjut,” bebernya.

Dalam perkara ini, kata Musafir, pihaknya tidak pernah menutup-nutupi. Bahkan terkesan proaktif.

Menurutnya, seluruh dana nasabah dijamin keamanan. Terkait dengan uang nasabah yang digelapkan oleh tersangka, telah diganti 100 persen oleh Bank Kalbar.

Mengenai pengawasan, lanjutnya, pengawasan operasional Bank Kalbar selalu dilakukan berdasarkan ketentuan yang terapkan regulator dan buku pedomanan perusahaan mengenai sistem pengendalian, tim audit selalu melakukan pengawasan secara periodik.

Akibat perbuatannya, tersangka dijerat dengan pasal 81,82, 85 Undang Undang No.3 tahun 2011 tentang Transfer Dana dengan ancaman penjara 5 tahun dan denda Rp5 miliar. Selain itu, tersangka juga dijerat dengan pasal 49 ayat 1 huruf a dan pasal 49 ayat 2 huruf b Undang Undang No. 10 tahun 1998 tentang Perbankan dengan ancaman sekurang-kurangnya 3 tahun dan paling lama 8 tahun serta denda sekurang-kurangnya Rp5 miliar dan paling banyak Rp100 miliar serta pasal 374 KUHP tentang penggelapan dalam jabatan. (arf)

loading...

BACA JUGA

Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia.
*