UTAMA | PONTIANAK | KRIMINAL | DAERAH

PONTIANAK

Selasa, 12 Juni 2018 14:53
Jajanan Legenda Sejak Zaman Nenek Datok
Sotong Pangkong, Selalu Ramai di Malam Suci Ramadan
TRADISI RAMADAN. Sumi menyajikan sotong pangkong untuk pelanggannya di Jalan Merdeka Barat Kecamatan Pontianak Kota, Jumat (8/6). Rizka Nanda-RK

PROKAL.CO, Ramadan memang bulan berkah. Banyak tradisi yang lahir di bulan suci umat Muslim ini. Di antaranya kuliner.

Rizka Nanda, Pontianak

RATUSAN gerobak berjejer di sepanjang trotoar Jalan Merdeka Barat, Kecamatan Pontianak Kota, Jumat (8/6) malam. Meja-meja kecil lesehan berhamparan beralaskan tikar disamping atau belakang gerobak. Kerlap kerlip lampu tumblr dan neon menerangi sekitarnya.

Di sana banyak menjual sotong pangkong. Jajanan musiman yang selalu ditemukan tiap malam selama bulan suci Ramadan. Cita rasa asin sotong yang dibakar lalu dipangkong (dipukuli) hingga tipis. Terasa menggigit di lidah.

Belum lagi dipadukan dengan racikan bumbu cabai dan saus kacang. Berliur-liur lah bagi tiap orang yang menikmatinya. “Setiap tahun jualan. Mulainya tiga hari mau puasa sampai tiga hari mau Lebaran,” ujar Sumi, salah seorang penjual sotong pangkong kepada Rakyat Kalbar, Jumat (8/6) malam.

Wanita berusia 44 tahun ini menuturkan, menyajikan satu porsi sotong pangkong tidak diperlukan waktu yang lama. Hanya sekitar 30 detik saja. Sedangkan untuk saosnya sudah disiapkan dari rumah. Ada dua jenis saos. Pertama, terbuat dari campuran udang ebi dan cabai untuk menciptakan rasa pedas. Kemudian, saos kacang sebagai pelengkap rasa. Selanjutnya, Sotong Pangkong siap disajikan diatas piring dengan dua mangkuk kecil berisikan saos dua rasa.

Harganya pun bervariasi. Tergantung ukuran sotong yang dipilih oleh pembeli. Saat ini, harga yang ditawarkan mulai dari Rp15 ribu hingga Rp50 ribu. “Harganya memang tinggi. Karena harga sotong sekarang di pasar sudah mahal. Sekilonya paling murah Rp400.000 malah kemarin ada Rp600.000,” terang ibu beranak empat ini.

Berjualan sotong pangkong tiap malam di Bulan Suci Ramadan, kata Sumi, sudah menjadi tradisi dari zaman dahulu. Bagaimana tidak, dia sudah berjualan sejak kecil dan berlanjut hingga saat ini. Bahkan, sebagian besar penjual sotong pangkong memang penduduk asli Jalan Merdeka Barat. Seperti dirinya yang tinggal di Gang Kaswari. “Dari nenek datok kite dulu memang setiap bulan puasa itu jualan sotong pangkong. Kalau sejarahnya tidak tahu. Hanya saja sudah jadi kebiasaan gitu. Saya jualan itu dari harga Rp300 sampai sekarang ratusan ribu rupiah. Pendapatannya pun tergantung rezeki,” papar Sumi sembari menotok sotong yang dipesan pelanggan.

Ayu, salah seorang penikmat sotong pangkong mengaku, setiap tahun selalu menyempatkan diri untuk menikmati jajanan ini. Ia mengaku menikmati sotong pangkong bersama teman bagai sebuah tradisi tahunan. “Biasanya habis bukber (buka bersama) dengan teman. Habis makan singgah kesini. Kebiasaan aja gitu,” tuturnya.

Padahal, harga yang ditawarkan cukup mahal. Kendati begitu, menurut Ayu, banyak solusi untuk tetap dapat menikmati jajanan musiman ini. Seperti patungan dengan teman untuk seporsi sotong pangkong. Kemudian dinikmati beramai-ramai. “Asyik aja gitu. Rasanya pun asin gitu, enak aja buat ngemil. Dan suasana ngumpul di emperan gini bakal jadi momen yang buat kangen saat kita kembali sibuk masing-masing setelah Lebaran nanti,” ungkap Ayu.(Rizka Nanda/rk)


BACA JUGA

Minggu, 06 September 2015 11:14

Pegawai Bank Kalbar Diduga Gelapkan Uang Nasabah Rp1,6 M

<p style="line-height: 1.38; margin-top: 0pt; margin-bottom: 0pt;" dir="ltr"><span…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .
*