UTAMA | PONTIANAK | KRIMINAL | DAERAH

UTAMA

Sabtu, 12 Mei 2018 11:44
Nelayan Menderita, Minta Presiden Selesaikan Konflik
SURAT KE PRESIDEN. Tokoh masyarakat Kecamatan Tangaran, Lamsah memperlihatkan surat yang dikirimkan kepada Presiden Joko Widodo, agar segera menyelesaikan konflik antar nelayan di Kabupaten Sambas, Selasa (8/5). Sairi-RK

PROKAL.CO, SAMBAS- Himpunan Nelayan Kecamatan Jawai, Jawai Selatan dan Tangaran tidak puas hanya mendatangi Kapolda Kalbar dan Ombudsman Perwakilan Kalbar. Mereka mendesak Presiden Joko Widodo turun tangan mencegah konflik berkelanjutan antara nelayan tradisional dengan nelayan pukat trawl.

Diberitakan Rakyat Kalbar, salah satu tokoh masyarakat Kecamatan Tangaran yang juga ikut melapor ke Polda dan Ombudsman Perwakilan Kalbar, Lamsah mengatakan, laporan telah mereka sampaikan Senin (30/4) lalu. Kedatangan nelayan ke dua lembaga tersebut, berawal dari masih ditemukannya nelayan tangkap yang menggunakan motor-motor besar menggunakan pukat trawl, serta ditemukannya motor air atau kapal yang menyerobot ke wilayah tangkap nelayan tradisional. “Seberangnya sudah jelas di Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2004 Pasal 84 Ayat 1 dan 2, dan diubah menjadi Undang-Undang Nomor 45 Tahun 2009 yang sanksi pidananya sudah jelas. Supaya aparat bisa menegakkan peraturan ini, kami nelayan berkonsultasi dengan Polda Kalbar dan Ombudsman mengenai kejelasan pukat trawl yang digunakan nelayan pendatang,” ungkapnya, Selasa (8/5).

Untuk meminta kejelasan ini, nelayan rela mengumpulkan dana dari sesama nelayan tradisional untuk berkonsultasi ke Polda dan Ombudsman Kalbar. Nelayan tradisional selama ini merasa seperti kucing-kucingan dengan nelayan pendatang. “Ketika laporan masyarakat tentang pukat trawl yang masih beroperasi di laut dan menyerobot wilayah tangkap nelayan tradisional, mereka hanya berhenti seminggu. Kemudian mulai lagi. Yang membuat kami tambah gerah, mereka beroperasi hanya kedalaman 150 meter dari jarak bibir pantai, bukankah itu masih masuk wilayah penangkapan nelayan tradisional,” katanya.

Lamsah mengaku, selama ada nelayan yang menggunakan pukat trawl, hasil yang diperoleh nelayan tradisional menurun. “Selama ini kami hanya mencari nafkah untuk keperluan sehari-hari. Nelayan tradisional bukankah yang menggunakan motor-motor besar atau kapal-kapal besar, itu sudah diatur area penangkapannya. Kami juga butuh pengaturan yang pasti dan tegas terkait pukat trawl yang masih beroperasi, dan area pembagian penangkapan antara nelayan tradisional dan nelayan motor atau kapal-kapal besar,” ungkapnya.

Selain itu, kehadiran nelayan dengan motor besar dan pukat trawl juga merugikan nelayan tradisional bisa merusak alat tangkap ikan toga milik nelayan tradisional. “Dengan pukat trawl yang digunakan nelayan pendatang, bisa merusak alat tangkap kami seperti togo, sehingga kami bisa kerugian mencapai puluhan juta rupiah,” terangnya.

Sementara itu, Ketua HNSI Kecamatan Jawai Selatan Hamdi mengatakan, sudah hampir tujuh tahun pihaknya mencari kepastian namun belum mendapatkan titik terang untuk nelayan tradisional. Koordinator Nelayan Jawai, Jawai Selatan dan Tangaran ini menuturkan,  mereka akhirnya berinisiatif mencari kebenaran dengan menemui Polda Kalbar dan Ombudsman Kalbar. “Meski masih terkatung-katung dengan masalah, akhirnya kami memutuskan  untuk berkonsultasi ke Polda Kalbar Ombudsman. Hasil konsultasi ini kami berinisiatif untuk mengirim surat ke Presiden dengan tembusan ke Kementerian Kelautan dan Perikanan,” jelasnya.

Surat yang dilayangkan kepada pemerintah berisi sejumlah tuntutan. Yakni, menindak tegas para pelaku pukat trawl sesuai Undang-Undang Nomor 45 Tahun 2009 Pasal 85, memberikan pengawasan yang intensif dan menangani masalah penjagaan laut, terutama di laut Kabupaten Sambas karena sering mengalami konflik. “Kami meminta pemerintah untuk menegakkan hukum seadil-adilnya terutama di wilayah perairan Kalimantan Barat dan Kabupaten Sambas,” pungkasnya. (sai/rk)

 


BACA JUGA

Minggu, 12 Agustus 2018 21:24
Kalbar Bisa Jadi Jalur Perdagangan Dunia

Investasi Awal Pelabuhan Kijing Rp4,7 Triliun

PONTIANAK- Pengelolaan Pelabuhan Internasional Kijing di Kabupaten Mempawah tidak lama lagi. Pasalnya,…

Rabu, 08 Agustus 2018 22:33
Pelaku Penganiaya Anak Jalani Tes Kejiwaan

KEJAM..!! Anak Disiksa, Dadanya Diinjak-Injak

PONTIANAK- Ibrahim Taufik, pria 30 tahun yang menganiaya anak angkatnya Ainun Maya hingga meninggal…

Sabtu, 04 Agustus 2018 20:15
2.225 Jemaah Kalbar Telah Diterbangkan ke Tanah Suci

Ombudsman Ajak Pantau Penyelenggaraan Haji

PONTIANAK- Ombudsman RI Perwakilan Kalbar memantau penyelenggaran ibadah haji tahun 2018. Masyarakat…

Sabtu, 04 Agustus 2018 11:38
Pembangunan PLTU Kalbar-1

MANTAP..!! Kini Tak Lagi ‘Minta’ Listrik Malaysia

PONTIANAK- PT. GCL Indo Tenaga menggelar media gathering di Hotel Gajahmada, Pontianak, Rabu (1/8).…

Sabtu, 04 Agustus 2018 11:16
Pelecehan dan Kekerasan Seksual Terhadap Anak

MENGGILA..!! Kasus di Kalbar kian Parah, Pelakunya Orang Terdekat

PONTIANAK- Kasus kekerasan seksual terhadap anak di bawah umur di Kalimantan Barat terparah dalam sepuluh…

Sabtu, 04 Agustus 2018 11:14
Potensi Defisit APBD Kalbar 2018

Kalau Ada Penyimpangan Harus Ditangkap

PONTIANAK- Potensi defisit APBD Kalbar Tahun Anggaran 2018 berdampak terhadap pencairan dana pengerjaan…

Sabtu, 04 Agustus 2018 11:13

Ini Dia Kasdam Tanjungpura yang Baru

SUNGAI RAYA- Jabatan Kepala Staf Kodam (Kasdam) XII/Tanjungpura berganti. Dulunya dijabat Brigjen TNI…

Minggu, 29 Juli 2018 21:45

Waduh, Wadir Reserse Narkoba Polda Kalbar Bawa Sabu

JAKARTA- Kapolres Bandara Soekarno-Hatta Kombes Viktor Yogi Tambunan membenarkan kabar penangkapan anggota…

Sabtu, 28 Juli 2018 21:00

KEREN..!! Kapuas Hulu Jadi Cagar Biosfer Baru

PUTUSSIBAU-  Betung Kerihun Danau Sentarum (BKDS) Kapuas Hulu resmi dikukuhkan menjadi cagar biosfer…

Kamis, 26 Juli 2018 20:47
Jamaah Asal Kalbar Mulai Diberangkatkan Minggu

7 CJH Sanggau Berpotensi Gunakan Kursi Roda

PONTIANAK- Sebanyak 109 calon jemaah haji (CJH) dari kuota 110 asal Kabupaten Sanggau siap menunaikan…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .