UTAMA | PONTIANAK | KRIMINAL | DAERAH

PONTIANAK

Rabu, 14 Maret 2018 11:41
Sidang Pemeriksaan Saksi Korupsi Alkes Pontianak 2012
AKHIRNYA TERUNGKAP..!! Ternyata Faktur Fiktif Tembus Rp 6 Miliar

Pengacara: Penyidikan Kepolisian Jauh dari Kata Sempurna

KETERANGAN SAKSI. Tiga terdakwa korupsi pengadaan Alkes Pontianak Tahun 2012 mendengarkan keterangan saksi dalam persidangan di Pengadilan Tipikor Pontianak, Selasa (13/3). Achmad Mundzirin-Rakyat Kalbar

PROKAL.CO, PONTIANAK - Sidang lanjutan dugaan korupsi pengadaan alat kesehatan (Alkes) Kota Pontianak tahun 2012 dengan kerugian negara Rp13 miliar lebih masih dengan agenda pemeriksaan saksi-saksi, Selasa (13/3). Sidang di Pengadilan Tipikor Pontianak tersebut dihadiri empat orang saksi. Sedangkan rencananya agenda saat itu akan mendengarkan keterangan enam orang saksi atas terdakwa Yekti, Sugito dan Suhadi.

Empat orang saksi yang dilakukan pemeriksaan yakni Adi Nugroho, Haryanto, Supriyatno dan Adrian. Keempat orang saksi ini merupakan pihak-pihak perusahaan yang memberikan surat dukungan kepada PT Kharisma, PT Bina Karya Sarana, dan PT Mitra Bina Medika. Dalam persidangan terungkap, ada pembuatan surat dukungan untuk tiga perusahaan dari PT Cahaya Mandiri.

Menariknya, kendati ada dibuatkan, namun tidak diberikan kepada ketiga perusahaan yang meminta surat dukungan. Surat dukungan itu hanya diberikan ke PT Kharisma. Tentu saja ini menjadi aneh bagi Majelis Hakim.

PT Cahaya Mandiri menjual empat unit Alkes kepada PT Kharisma. Namun PT Cahaya Mandiri tidak mengetahui berapa harga jual PT Kharisma kepada PT Bina Karya Sarana untuk pengadaan Alkes di Kota Pontianak. Pihak PT Cahaya Mandiri yang pasti telah memberikan diskon sebesar Rp62,5 persen. Fakta persidangan ini dipaparkan Adi Nugraha, selaku sales menager PT Cahaya Mandiri Medika.

Fakta lain yang menarik dipaparkan saksi Haryanto, selaku Direktur PT Chioda Altima Semesta. Sama dengan PT Cahaya Mandiri, perusahaan ini juga menjual Alkes untuk pengadaan di Kota Pontianak 2012. Haryanto mengungkapkan, terjadi pembuatan faktur fiktif senilai Rp6 miliar. Faktur tersebut dibuat komisaris perusahaannya, Agus Triono atas permintaan oleh PT. Mitra Bina Medika.

Haryanto mengetahui itu merupakan perbuatan Agus Triono, karena sebelumnya ia sempat marah, lantaran tidak sesuai dengan kenyataannya. Sementara untuk pembelian Alkes dari tempatnya hanya senilai Rp85 juta. Bahkan Jaksa membeberkan harga Rp85 juta itu dibuat dalam HPS menjadi Rp236 juta. Dalam sidang terbongkar juga dalam pengadaan Alkes ada harga Rp1 juta yang di-markup menjadi Rp18 juta.

Sebelumnya, dalam persidangan tersebut, Majelis Hakim sempat berbicara tegas kepada sejumlah saksi yang hendak memberikan keterangan secara jujur. Tidak memberikan keterangan palsu. Sebab, para saksi telah diambil sumpah, jika memberikan keterangan palsu dalam persidangan, ada ganjaran hukumannya.

Para saksi itu pun menganggukkan kepala. Mereka memastikan kepada Majelis Hakim bahwa keterangan yang disampaikan adalah sebenarnya. “Ancaman hukuman tinggi, jika berbohong. Jangan mengada-ada dalam memberikan keterangan di persidangan,” tegas salah seorang Hakim.

Sementara itu, sebelumnya dalam dakwaan Tim Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejati yang ketuai Mindaryu membeberkan sejumlah nama untuk kasus ini. Bahkan di dalam dakwaan jelas siapa-siapa penerima aliran dana tersebut. Beberapa di antaranya sudah dilakukan pemeriksaan dalam persidangan, namun hanya sebagai saksi.

Dewi Purnawatingsih, selaku Penasehat Hukum Yekti yang merupakan PPK dalam kasus dugaan korupsi ini menegaskan, bahwa dirinya akan mengungkap aliran dana yang mengalir tersebut. “Insha Allah kita tetap komitmen,” tegasnya saat dijumpai usai persidangan.

Dirinya menyatakan, bahwa penyidikan kepolisian (Polda Kalbar) jauh dari kata sempurna. Dirinya mengatakan demikian bukan tanpa alasan. Pasalnya, dakwaan yang dibuat JPU begitu jelas. “Kita semua tahu dalam dakwaan siapa-siapa yang terlibat, kemudian kepada siapa saja dana itu mengalir,” ucapnya.

Dikatakannya, kepolisian tentunya sudah paham dan tahu. Sebab dakwaan JPU diambilnya dari BAP yang dibuat kepolisian. “Jadi polisi sudah paham siapa yang bisa diangkat dan dijadikan tersangka, selain tiga terdakwa saat ini,” katanya.

 “Kalau saya bicara, polisi belum sempurna. Mestinya sudah ada action dari kepolisian, jelas petunjuk sudah ada. Tapi belum dilakukan. Dalam penyidikan atau penegakan yang dilakukan sangat tidak memenuhi unsur keadilan,” sambung Dewi.

Senada disampaikan Muhammad Mauludin, selaku penasehat hukum terdakwa Sugito dan Suhadi. Dia juga sepakat bahwa memang ada nama-nama lain di dalam dakwaan JPU. “Keterlibatan dalam proses persidangan sudah muncul, jelas dan terang,” lugasnya.

Sidang kasus korupsi pengadaan Alkes Pontianak 2012 ini dipantau Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) melalui perwakilannya di Kalbar. Maulidin berharap dengan adanya monitoring ini, nantinya dapat membuat KPK mengambil sikap dan tindakan. “Kasus korupsi ini kerugiannya begitu besar, siapa-siapa yang terlibat harus bertanggung jawab. Karena kasus ini sangat menyakiti masyarakat,” tukasnya.

Dirinya menunggu janji Kabid Humas Polda Kalbar yang menyatakan bahwa pihaknya akan menindaklanjuti kasus ini, sepanjang ada petunjuk. “Tinggal masyarakat yang menilai soal kesempurnaan penyidikan yang dilakukan kawan-kawan kepolisian, sempurna atau tidak,” sebut Maulidin. (Achmad Mundzirin/rk)

 


BACA JUGA

Senin, 10 Desember 2018 10:50
Edukasi Pasar Modal untuk Mengubah Paradigma

Masyarakat Penabung Jadi Masyarakat Investor

 PONTIANAK-  Di jaman now ini, anak muda merupakan pilar peradaban.…

Senin, 10 Desember 2018 10:38

Jelang Natal dan Tahun Baru, Polisi Antisipasi Kejahatan Jalanan

PONTIANAK- Jelang Natal dan tahun baru, Kapolresta meminta anggotanya agar…

Senin, 10 Desember 2018 10:36

HATI-HATI..!! Ada Ratusan Jenis Kosmetik Ilegal Beredar di Pontianak

PONTIANAK- Sebanyak 148 jenis produk kosmetik tanpa izin edar diamankan…

Senin, 10 Desember 2018 06:00
Pelantikan Pengurus DPP dan Deklarasi Pemilu Damai

TEGAS..!! Sikap Politik Pemuda Dayak Independen

PONTIANAK- Kepengurusan Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Pemuda Dayak Kalbar periode…

Jumat, 07 Desember 2018 08:27

Terkendala Hal Ini, Penertiban APK Belum Maksimal

PONTIANAK- Diberitakan Rakyat Kalbar, satu persatu Alat Peraga Kampanye (APK)…

Kamis, 06 Desember 2018 11:02

Penjual Arak Dibekuk, Cuma Dibina

PONTIANAK- HRS, hanya bisa pasrah saat kediamannya di geledah oleh…

Sabtu, 01 Desember 2018 12:57

MUSIBAH..!! Gudang Barang Bekas di Pal 5 Hangus

PONTIANAK- Rakyat Kalbar memberitakan, gudang penampungan barang bekas di Jalan…

Sabtu, 01 Desember 2018 12:55

Pomdam Bekuk Prajurit Pemberontak

PONTIANAK-  Seorang oknum prajurit yang bergabung dengan pemberontak, diamankan Polisi…

Sabtu, 01 Desember 2018 12:52

Tiga Hari Dicari, Rudi Ditemukan di Sungai Kapuas, Begini Kondisinya…

PONTIANAK- Rudi, warga Desa Arang Limbung, Kecamatan Sungai Raya, Kubu…

Sabtu, 01 Desember 2018 12:50

ASTAGA..!! Tunjangan Khusus Guru Tidak Sesuai Kenyataan

PONTIANAK-  Tunjangan khusus guru terus menjadi polemik. Pasalnya, ada guru…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .