UTAMA | PONTIANAK | KRIMINAL | DAERAH

UTAMA

Sabtu, 11 November 2017 11:22
Kekayaan yang Tersisa di Batas Negeri
Ada 4 Jenis Penyu, Warga Masih Ambil Telurnya
USAI BEREGENERASI. Sejumlah remaja Kecamatan Paloh, Kabupaten Sambas, mengantarkan seekor Penyu Hijau yang baru saja selesai menjalankan ritual bertelurnya ke bibir pantai, Minggu (5/11) malam. Rizka Nanda-RK

PROKAL.CO, Semua jenis penyu laut di Indonesia telah dilindungi Peraturan Pemerintah (PP) 7/1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa. Namun, baru sepuluh tahun kemudian larangan tersebut dijalankan di pesisir pantai Kecamatan Paloh, Kabupaten Sambas. Akibatnya populasi penyu di kawasan tapal batas Indonesia-Malaysia tersebut menipis.

Rizka Nanda, Paloh

Semburat cahaya purnama baru saja menembus sela-sela lapisan udara di bibir pantai Sungai Belacan, Desa Sebubus, Kecamatan Paloh, Kabupaten Sambas, Minggu (5/11), ketika tiga unit sepeda motor melintas. Iring-iringan kendaraan roda dua ini berjalan pelan sejauh 2,5 kilometer di atas pasir pantai dalam kegelapan. Menyusuri tanpa menyalakan satupun lampunya.

Tiba-tiba, pengemudi terdepan, Petugas Monitoring Penyu Paloh, Hermanto mematikan mesin motornya. Tepat di depan sebuah garis tak lurus berbentuk seperti roda rantai tank dengan lebar lebih kurang 93 centimeter. “Nah, ini jejak penyu yang baru saja naik ke tepi pantai untuk bertelur,” ujar Hermanto bersemangat. Telunjuknya mengarah ke jejak itu.

Diberitakan Rakyat Kalbar, sejurus kemudian, pria yang akrab disapa Pak Itam itu memarkirkan motornya. Memberi pengarahan kepada rombongan yang dipimpinnya. Anggota rombongan merupakan jurnalis berbagai media Pontianak. “Penyu sangat sensitif dengan cahaya. Jadi, kalau mau foto kita harus tunggu dia selesai bertelur supaya tidak terganggu. Cahaya kamera juga hanya boleh lewat belakang penyu,“ ujarnya.

Selanjutnya, tim kecil ini menyusuri jejak itu. Tidak sulit untuk menemukan penyu yang akan bertelur di sana. Tim mengendap-endap ke arah semak-semak di ujung jejaknya. Ketika didatangi, satwa purba itu tampak sedang melakukan ritual bertelur. Ia menggali sebuah lubang menggunakan tungkainya.  “Ini dimaksudkan untuk melindungi telur dari ancaman predator,” terang Pak Itam.

Ketika lubang selesai digalinya, si penyu bertelur sekitar sejam. Berharap penerus-penerus kelangsungan speciesnya itu tak ditemukan predator, ia menutup lubang tersebut. Setelah itu, si penyu memutar tubuh ke arah laut, merayap pelan-pelan, dan hilang dalam gulungan ombak.

Pak Itam mencatat, penyu jantan menghabiskan seluruh hidupnya di laut. Sedangkan betina sesekali mampir ke daratan untuk bertelur. Penyu betina bertelur ratusan butir, ia menyukai pantai berpasir yang sepi dari gangguan kebisingan dan cahaya.  Penyu akan bertelur sepanjang tahun. Musim puncaknya di awal tahun. Seekor penyu jamak bolak-balik laut-pantai tujuh kali untuk bertelur. Setelah itu, ia akan kembali dua hingga tiga tahun lagi ke daratan tapi tidak di pantai yang sama. Seekor penyu paling tidak menghasilkan tiga sarang dalam semalam.

Penyu susah beregenerasi. Dari ratusan butir telurnya, paling tidak hanya belasan tukik (bayi penyu) yang berhasil sampai ke laut untuk tumbuh dewasa. “Karena faktor perburuan manusia dan predator alam seperti kepiting, burung, serta ikan-ikan besar begitu tukik mulai berenang ke perairan dalam,“ tutur Pak Itam.

Ia menjelaskan, di sepanjang garis pantai yang dia jaga –19,3 kilometer— dari Sungai Ubah hingga Sungai Mutusan merupakan wilayah yang dijaga WWF (World Wildlife Fund) Indonesia Program Kalbar. Pada tahun 2016, Pak Itam pernah menemukan 160 ekor penyu yang bertelur dalam semalam. Sedangkan pada 2017, berdasarkan data terakhirnya, hanya ditemukan 63 ekor penyu yang bertelur dalam semalam.

“Ada empat jenis penyu yang pernah bertelur di sini. Penyu Hijau, Penyu Sisik, Penyu Lekang, dan Penyu Belimbing. Yang sangat sering naik itu Penyu Hijau, yang lain sekali-sekali jak (saja),“ terangnya. Selain mengontrol prosesi penyu bertelur, lanjut dia, petugas monitoring juga harus mengontrol masyarakat. Mengatur pencahayaan nelayan yang melaut. Pun menjaga agar telur penyu tidak diambil tangan-tangan jahil.

 “Kalau habitat diganggu dan telur penyu rawan diambil orang, petugas akan merelokasi telur-telur tersebut ke tempat penetasan di camp WWF,“ jelas pria berjanggut itu. Ia tak memungkiri setiap malam tindak pencurian telur terjadi. Terutama di jalan-jalan tikus menuju pantai. Hal ini, dikatakan Pak Itam, disebabkan masih banyak warga yang tidak bisa menerima larangan mengonsumsi telur penyu.

Warga setempat memang masih nekat berburu telur penyu, baik untuk dikonsumsi sendiri maupun dijual. Dan uniknya, sebelum 2009, masyarakat di sana punya tradisi perang-perangan telur penyu di pantai pada musim puncak. Yang bikin miris, kejahatan terhadap penyu tak hanya sebatas pencurian telur. Pada September 2017, ditemukan dua kasus penyu mati dengan kondisi perut terbelah. Hasil nekropsi dokter hewan, ditemukan bagian tubuh penyu yang dekat dengan indung telur sudah dalam kondisi terbelah. Diduga pembelahan itu untuk mengambil telur yang masih berada di dalam perut penyu.

 “Pertama pada 14 September, waktu merekam kondisi pantai Paloh, kami menemukan penyu mati dengan kondisi terbelah dan indung telurnya kosong,” ujar Albertus Tjiu, Manager WWF Indonesia Program Kalbar.

Mayat penyu yang satunya, ditemukan pada tanggal 22 September. “Kondisinya kurang lebih sama, tapi diduga penyu ini terkena mata pancing yang tidak disengaja, penyu tidak dikonsumsi,“ sambungnya. Selain sengaja diburu manusia dan dimangsa predator laut, penyebab kematian penyu terkadang akibat tersangkut di pukat dan mata pancing nelayan. Untuk menghindari itu, solusinya adalah memberi lampu warna hijau pada jala-jala nelayan.

 “Ikan bawal itu suka warna hijau, sedangkan penyu tidak, akhirnya penyu akan menjauh,“ jelas Albert. Sementara itu, Koordinator Site Paloh WWF Indonesia Program Kalbar, Hendro Susanto menuturkan, sejumlah data yang dipegang pihaknya terkait populasi penyu di Paloh. Larangan mengeksploitasi dimulai pada 2009. Rentang dua tahun, hingga 2010, 99 persen telur penyu di 2.500 sarang lenyap.

Akhirnya, pada 2011 dilakukan pembentukan Kelompok Masyarakat Pengawas (Pokmaswas) Kambau Borneo. Mereka menetapkan pantai-pantai intensif disertai sosialisasi dan pendekatan kepada masyarakat setempat.  “Dari situ mulai bisa ditekan angka kehilangan sarang,“ ungkap Hendro.

Melihat malangnya nasib hewan kelompok Vertebrata kelas Reptilia ini, Pemerintah Kabupaten Sambas tergugah menjaga keberadaan penyu di batas negeri tersebut. Bupati Sambas, Atbah Rohim Suhaili berjanji berupaya semaksimal mungkin. Ia akan menurunkan para petugas dan aparat keamanan yang bisa mengontrol serta mengawasi semua aktivitas berkaitan dengan kondisi pantai tersebut.

 “Dengan demikian, insya Allah apa yang tidak kita inginkan terhadap penyu yang ada itu bisa dihindari. Kita akan komunikasikan lagi, agar Kabupaten terlibat langsung untuk menjaga penyu yang ada khususnya di Paloh,“ tutur Atbah pada pembukaan Festival Pesisir Paloh 2017 di Desa Temajuk.

Orang nomor satu di Kabupaten Sambas ini juga berharap masyarakat semakin sadar bahwa penyu adalah satwa yang harus dilindungi dan dijaga agar tak punah. “Jangan diambil atau dicuri atau apapun telur-telur mereka,“ pungkasnya. (*)


BACA JUGA

Sabtu, 06 Oktober 2018 12:47
Peringati HUT ke 73 TNI di Kodam XII/Tpr

Berikan yang Terbaik untuk Rakyat

SUNGAI RAYA- Diusia ke 73, personel TNI yang yang bertugas di Kalbar diharapkan lebih profesional lagi.…

Sabtu, 06 Oktober 2018 12:42

ILEGAL..!! Ribuan Telur dan Ayam Malaysia Dimusnahkan

ENTIKONG- Stasiun Karantina Pertanian (SKP) Entikong, Kabupaten Sanggau memusnahkan lebih dari 1.200…

Kamis, 04 Oktober 2018 10:19

NGERI..!! Supinah Dibunuh Secara Sadis

SEKADAU- Wanita yang ditemukan tewas mengenaskan di rumahnya Desa Peniti, Kecamatan Sekadau Hilir, Sekadau,…

Kamis, 04 Oktober 2018 10:16

Khawatir Penjarahan Massal di Sulteng, Relawan Kalbar Tunda Berangkat

PONTIANAK- Bencana gempa bumi dan tsunami Sulawesi Tengah (Sulteng) menggerakkan hati banyak pihak.…

Selasa, 02 Oktober 2018 09:38

Wanita di Peniti Tewas Bersimbah Darah

SEKADAU- Masyarakat Desa Peniti Kecamatan Sekadau Hilir Kabupaten Sekadau dikejutkan dengan penemuan…

Selasa, 02 Oktober 2018 09:37
Operasi Tibtor Polda Kalbar

126 Penjahat dan 92 Kendaraan Diamankan

PONTIANAK- Selama sebulan ini, Polda Kalbar menggelar Operasi Tertib Kendaraan Bermotor (Tibtor) Kapuas…

Kamis, 27 September 2018 12:04

Indeks Kerawanan Pemilu Kalbar Kategori Sedang

PONTIANAK- Indeks Kerawanan Pemilu, Kalimantan Barat masuk dalam kategori sedang. Penilaian itu tidak…

Selasa, 25 September 2018 11:00

Sultan Berang, Laporkan Akun Facebook Intan Sekar Sari

PONTIANAK- Sultan Pontianak Syarif Machmud Melvin Alkadrie dalam waktu dekat ini akan melaporkan akun…

Selasa, 25 September 2018 10:57

PLTBm Pertama di Kalbar, Berkapasitas 15 MW

MEMPAWAH-  Menteri PPN/Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro bersama Gubernur Kalbar Sutarmdiji…

Selasa, 25 September 2018 10:55
Sah! Secara Defacto Gambar Garuda Pancasila Karya Sultan Pontianak ke VII

Tinggal Menunggu Penetapan Sultan Hamid II sebagai Pahlawan Nasional

PONTIANAK- Gambar rancangan asli lambang negara Republik Indonesia, Elang Rajawali - Garuda Pancasila…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .