UTAMA | PONTIANAK | KRIMINAL | DAERAH

UTAMA

Minggu, 29 Oktober 2017 10:31
Kalbar Belum Bebas Campak, KLB di Lima Kabupaten/Kota
ilustrasi

PROKAL.CO, PONTIANAK- Kalimantan Barat belum sepenuhnya bebas penyakit campak. Hingga September 2017 ini saja, ada enam Kejadian Luar Biasa (KLB) campak yang tersebar di lima kabupaten/kota se Kalbar. Diberitakan Rakyat Kalbar, KLB itu terjadi lima kabupaten/kota, terdiri dari Singkawang, Sekadau, dan Kubu Raya dengan masing-masing satu KLB campak. Sedangkan di Bengkayang terdapat dua KLB.

“Standar penetapan KLB campak ini pada tingkat desa atau kelurahan,” ujar Kepala Bidang Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Kalbar, Marsalena, ketika ditemui di ruang kerjanya, Sabtu (28/10).  “Semua kabupaten/kota ada kasus campak. Tapi yang KLB hanya di lima kabupaten/kota,” tuturnya.

Penetapan status KLB ini berdasarkan lima kasus campak terhadap satu RT dalam satu minggu untuk periode yang sama. KLB campak ini berbeda dengan kasus penyakit lain. Penetapan KLB agar cepat dilakukan penanganan.   “Seperti pemberian vitamin A pada pasien yang menderita penyakit campak,” jelas Marsalena.

Lantaran Kalbar belum sepenuhnya bebas campak, pada 2018, Kementerian Kesehatan akan melakukan vaksinasi terhadap penyakit yang sangat menular ini. Termasuk akan memberikan vaksinasi Measles Rubella (MR).  “Sudah dilakukan di tahun ini, tapi hanya untuk Pulau Jawa,” ungkapnya.

Sejatinya, dia menjelaskan, campak dan MR bisa dinyatakan sama. Tapi beda tingkat keganasan. Rubella bisa menyerang ibu hamil pada kehamilan semester pertama.  “Dampaknya janin bisa mengalami kecacatan, seperti cacat jantung yang lainnya,” beber Marsalena.

Ia menyatakan, Dinkes Kalbar tidak diam saja melihat kasus ini. Upaya yang telah dilakukan adalah menggencarkan sosialisasi kepada masyarakat. Informasi ini disampaikan melalui Posyandu maupun kegiatan PKK.

 “Campak itu ada hubungannya dengan pemberian vitamin A. Kenapa? Karena saat terserang campak, perlu ada pemberian vitamin A,” paparnya.  Imbuh Marsalena, “Virus campak rakus dan kuat menyedot vitamin A. Takutnya penyakit lain muncul dan membahayakan penderita campak”.

Sedangkan untuk pemberian vaksin lanjut dilakukan dalam tiga tahap. Dimulai dari usia sembilan bulan. Kemudian umur dua tahun, hingga anak duduk di kelas satu Sekolah Dasar.   “Usia sembilan bulan itu punya batas waktu perlindungannya sekian tahun, sehingga ada penurunan. Jadi pada usia dua tahun diberikan vaksin agar perlindungan tubuh semakin kuat. Lalu dilanjutkan kembali saat kelas satu SD,” terangnya.

Adapun ciri-ciri penderita suspect campak yakni demam, panas, mata merah, beringus, dan bercak merah. Untuk memastikan seseorang positif menderita campak dengan mengambil sampel darah guna dilakukan uji laboratorium. Ini dilakukan karena banyak gejala virus yang hampir sama.

Begitu pula untuk memastikan penderita mengidap virus rubella, harus melalui uji laboratorium dengan menggunakan sampel darah. Tujuannya untuk membedakan apakah penderita terkena virus campak atau rubella.

Sebelumnya, Kepala Dinkes, Andy Jap mengatakan, masyarakat provinsi ini akan mendapat imunisasi Measles Rubella (MR) tahun depan. Vaksinasi itu sangat dibutuhkan untuk mencegah campak dan virus Rubella menghinggapi ibu hamil dan anak-anak. Menyambut program dari pemerintah pusat tersebut, Dinkes Kalbar menggencarkan sosialisasi dan komunikasi pentingnya pemberian vaksin itu ke publik. “Untuk luar Pulau Jawa pelaksanaannya tahun depan,” tuturnya belum lama ini.

Komunikasi dilakukan ke pemuka agama dan tokoh masyarakat. Pun, tentu saja, kepada warga Kalbar secara langsung. Terutama untuk menjelaskan manfaat dari vaksinasi yang bisa mengatasi penyakit rubella dan campak ini.

Menyusul penolakan dari sejumlah kelompok terkait vaksin MR, sosialisasi nantinya juga menjelaskan sudut pandang agama terhadap vaksin yang digunakan. “Kami akan memberikan penjelasan sejelas-jelasnya manfaat dari vaksin ini. Begitu pula soal kehalalannya,” jelas Andy. Ia mengingatkan, vaksin MR bermanfaat melindungi bayi. Kekebalan tubuh dari penyakit tertentu didapat dengan melakukan imunisasi. “Jika tidak memberikan perlindungan kepada bayi, maka ada pelanggaran hak asasi manusia, hak yang melekat pada bayi untuk mendapat perlindungan kesehatan,” paparnya.

Vaksinasi MR ini, lanjut dia, tidak hanya untuk anak usia sekolah. Vaksinasi juga dilakukan pada wanita dengan usia kehamilan triwulan pertama. “Jadi berbahaya jika ibu hamil terinfeksi Rubella. Takutnya menyerang ke janin, menyebabkan cacat,” pungkas Andy.

Sebelumnya, pada awal Agustus, Presiden Joko Widodo menjawab kekhawatiran sebagian pihak yang meragukan kehalalan vaksin MR ini. Ia menegaskan, bahan baku vaksin halal dan tidak mengandung minyak babi. Karena itu, Jokowi meminta semua pihak mendukung gerakan nasional imunisasi MR demi mencegah anak dari ancaman campak dan virus Rubella.

Dikatakannya, seperti dinukil dari Jawa Pos Radar Jogja, Majelis Ulama Indonesia (MUI) telah memfatwakan bahwa imunisasi lebih besar manfaatnya dibanding mudaratnya. “Nanti akan dijelaskan secara gamblang oleh menteri agama, menteri pendidikan, dan menteri kesehatan apakah MR itu,” paparnya di sela pencanangan kampanye nasional dan introduksi imunisasi campak dan Rubella di Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN) 10, Sleman, Yogyakarta.

Bahkan, untuk memastikan vaksin tersebut aman dan tidak memiliki efek samping, Jokowi memanggil dua siswa yang telah divaksin untuk naik ke panggung. Keduanya, Ichsanudin Nur Rosyid dan Naraya Nindiah Hastiwi, ditanyai efeknya setelah disuntik. Meski sempat ragu dan malu- malu, Naraya mengaku tidak merasakan sakit setelah disuntik di bagian lengan kirinya. “Apakah setelah disuntik merasakan pusing, mual, dan muntah- muntah?” tanya Jokowi. Dengan mantap bocah perempuan itu menjawab tidak merasakan efek apapun. “Imunisasi tidak sakit, tapi memang disuntik. Tidak ada efek apa-apa, kami perlu pastikan. Jadi jangan takut,” sambung mantan Wali Kota Solo itu disambut aplaus hadirin.

Lebih lanjut, presiden menuturkan, menjaga dan membuat anak tetap sehat adalah tugas setiap orangtua dan negara. Anak-anak dititipkan Tuhan untuk disayangi, dididik, dijaga, dan diayomi. Termasuk mencegah penyakit berbahaya nan mematikan menghinggapi mereka.

Campak dan Rubella termasuk penyakit berbahaya di dunia yang mengancam anak-anak saat ini. Sedangkan di Indonesia masih sangat sedikit anak-anak usia 9 bulan-15 tahun yang mendapatkan imunisasi MR. “Kurang dari satu persen. Yang sudah mendapat imunisasi Measless Rubella baru sekitar 0,05 persen,” ungkap Jokowi.

Idealnya, menurut dia, lebih dari 95 persen anak-anak Indonesia harus sudah diimunisasi MR. Bahkan seluruhnya, tanpa kecuali. Presiden meminta masyarakat tidak meremehkan virus campak dan rubella. Jokowi menargetkan pada 2020 Indonesia bebas campak dan Rubella. Target itu bisa tercapai jika dimulai sekarang.

Sementara itu, seorang siswi di Demak, Jawa Tengah, dikabarkan mengalami kelumpuhan setelah dia mendapatkan vaksin MR di sekolahnya. Siswi SMPN 4 Demak bernama Niken Angelia itu pun langsung mendapatkan perawatan di RSUD Kariadi Semarang.

Kabar tentang Niken ini kemudian menjadi perbincangan hangat di media sosial. Akibat kabar ini juga, banyak orangtua khawatir anaknya akan mendapatkan efek serupa jika diimunisasi.  Menanggapi hal tersebut, Menteri Kesehatan Nila Moeloek mengatakan, bahwa Niken sudah punya penyakit sebelum imunisasi itu dilakukan. “Mesti dicek benar ini karena suntik atau bukan. Sebelumnya, dia sudah punya penyakit. Dia juga sudah dibawa ke RS Kariadi sekarang,” tutur Nila kepada Jawa Pos, Senin (14/8).

Nila menegaskan, bahwa pemberian vaksin MR bukan merupakan penyebab kelumpuhan yang dialami Niken. Dia juga mengimbau agar orangtua tidak perlu khawatir tentang hal tersebut. “Kalau kita enggak suntik, nanti ada kejadian luar biasa. Berapa ruginya? Anak kita mau buta? enggak mau saya,” kata Nila.

Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Kemenkes Muhammad Subuh menuturkan, Komnas PP-KIPI (Pengkajian dan Penanggulanan Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi) sudah mengonfirmasi terkait hal tersebut. “Komda Jateng sudah klarifikasi bahwa (kelumpuhan) itu bukan disebabkan oleh vaksin MR. melainkan koinsiden,” tutur dia.

Subuh menjelaskan, sebelum disuntik, sudah ditemukan gejala-gejala yang akhirnya menimbulkan kelumpuhan. ”Kelumpuhan itu juga, katanya tidak permanen,” jelas dia.  (Rizka Nanda/rk)

 


BACA JUGA

Selasa, 09 Oktober 2018 10:52
Rasau Jaya Heboh, Ramai-ramai Berendam di Sungai

Dihargai Mahal, Warga berburu Ringau

Sudah sepekan, hampir di setiap sungai di kawasan Kecamatan Rasau Jaya Kabupaten Kubu Raya mendadak…

Selasa, 09 Oktober 2018 10:49

Aksi Damai Minta Gubernur Tidak Diskriminatif, Midji: Lihat Nanti APBD 2019

PONTIANAK-  Puluhan massa mengatasnamakan Aliansi Rakyat Penegak Demokrasi Kalimantan Barat menggelar…

Senin, 08 Oktober 2018 12:25
Buka Milad ke 106 Muhammadiyah Kalbar

Midji: Pemprov akan Lakukan Program Dongrak IPM

PONTIANAK- Muhammadiyah merupakan salah satu organisasi yang bergerak dalam bidang pendidikan dan kesehatan.…

Sabtu, 06 Oktober 2018 12:47
Peringati HUT ke 73 TNI di Kodam XII/Tpr

Berikan yang Terbaik untuk Rakyat

SUNGAI RAYA- Diusia ke 73, personel TNI yang yang bertugas di Kalbar diharapkan lebih profesional lagi.…

Sabtu, 06 Oktober 2018 12:42

ILEGAL..!! Ribuan Telur dan Ayam Malaysia Dimusnahkan

ENTIKONG- Stasiun Karantina Pertanian (SKP) Entikong, Kabupaten Sanggau memusnahkan lebih dari 1.200…

Kamis, 04 Oktober 2018 10:19

NGERI..!! Supinah Dibunuh Secara Sadis

SEKADAU- Wanita yang ditemukan tewas mengenaskan di rumahnya Desa Peniti, Kecamatan Sekadau Hilir, Sekadau,…

Kamis, 04 Oktober 2018 10:16

Khawatir Penjarahan Massal di Sulteng, Relawan Kalbar Tunda Berangkat

PONTIANAK- Bencana gempa bumi dan tsunami Sulawesi Tengah (Sulteng) menggerakkan hati banyak pihak.…

Selasa, 02 Oktober 2018 09:38

Wanita di Peniti Tewas Bersimbah Darah

SEKADAU- Masyarakat Desa Peniti Kecamatan Sekadau Hilir Kabupaten Sekadau dikejutkan dengan penemuan…

Selasa, 02 Oktober 2018 09:37
Operasi Tibtor Polda Kalbar

126 Penjahat dan 92 Kendaraan Diamankan

PONTIANAK- Selama sebulan ini, Polda Kalbar menggelar Operasi Tertib Kendaraan Bermotor (Tibtor) Kapuas…

Kamis, 27 September 2018 12:04

Indeks Kerawanan Pemilu Kalbar Kategori Sedang

PONTIANAK- Indeks Kerawanan Pemilu, Kalimantan Barat masuk dalam kategori sedang. Penilaian itu tidak…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .