UTAMA | PONTIANAK | KRIMINAL | DAERAH
Selasa, 13 Oktober 2015 05:46
Saprahan, Festival Penuh Makna di Pontianak

PROKAL.CO, Saprahan merupakan tradisi Melayu. Cara makan, menghidang, dan menu ada aturannya. Tidak tertulis, tetapi sudah membudaya. Di Pontianak saprahan dijadikan sebuah festival.


Hendy Erwindi, Pontianak


RATUSAN menu makanan terhampar di bagian tengah Pontianak Convention Center, Kamis pekan waktu lalu. Ratusan orang berpakaian telok belanga mengelilinginya. Mereka menanti keputusan dewan juri yang menentukan siapa juara.

Dalam pada itu, ratusan orang bertelok belanga tersebut dihibur oleh pantun berdendang (tundang) dari MTS Ma’arif. Mereka bergoyang mengikuti irama gendang, tertawa mendengar tutur pantun.

Sekitar setengah jam menunggu juri merekap nilai, juara diumumkan. Pontianak Timur dianggap paling baik. Dua perwakilan dari kecamatan itu merajai, juara satu dan juara dua. Juara tiga dari Pontianak Barat. “Semua yang kami sajikan khas saprahan Pontianak. Ada semur daging, opor ayam, sambal aji dolah, paceri nanas, nasi kebuli,” ujar Salbiah, peserta dari Sungai Jawi Dalam, Pontianak Barat.

Ada lagi yang menjadi ciri saprahan, dua jenis minuman. Air putih dan serbat. Air putih diminum ketika makan dan sesuadah makan. Air serbat merupakan hidangan penutup. “Setiap ada saprahan air serbat tidak boleh ketinggalan. Kalau tidak serbat rasanya tidak lengkap,” Salbiah menjelaskan.

Sejatinya saprahan tidak sekadar digelar pada hajatan seperti hidangan bagi undangan ijabkabul. Saprahan adalah makan bersama, melantai. Di Pontianak saprahan mulai ditinggalkan seiring dengan tingginya aktivitas masyarakat. Orang tua jarang makan bersama anak karena kesibukan. Waktu makan pun tidak bersamaan. Makan bersama di dalam keluarga memberi ruang komunikasi antara anggotanya. “Jika di dalam hajatan, saprahan itu bermakna manusia itu sesungguhnya sederajat. Entah pejabat atau warga biasa, makannya bersama,” ungkap Syarif Selamat Yusuf Alqadri, budayaan Melayu Pontianak.

Pada abad ke-18 di Pontianak mulai dikenal istilah seperahan yang kemudian disebut saprahan. Pontianak pada abad 18 sudah heterogen, banyak orang datang untuk mencari pekerjaan maupun berdagang. Mereka dari Bangka, Belitung, Banjar, Bugis, dan daerah termasuk Gujarat. Pendatang itu membawa banyak kebudayaan, kesenian, pun saprahan. “Bagaimana bisa masuk Istana Kadriah? Ketika ada kawin campur antarkerabat istana dan pendatang itu,” tutur Om Simon sapaan karibnya.

Saprahan tidak hanya di Pontianak. Di setiap daerah di Kalbar budaya itu juga hadir di tengah-tengah masyarakat. Di Sambas misalnya, saprahan juga masih dilakukan masyarakat di pesisir utara Kalbar itu. “Saprahan Pontianak dengan Sambas berbeda. Kalau di Sambas dikenal saprahan segi empat, sedangkan di Pontianak dengan membentangkan kain panjang berwarna kuning,” jelasnya.

Ketua TP-PKK Kota Pontianak, Lismaryani Sutarmidji mengatakan banyak keistimewaan makna yang terkandung dalam makan bersaprah. Melalui makan bersaprah ini terlihat sebuah kesederhanaan yang tercipta dengan duduk secara bersama-sama di lantai dengan lauk dan pauk yang menarik. “Setiap orang dengan berbagai macam latar belakang, dengan makanan yang sama. Tidak ada perbedaan antara satu dengan lainnya,” ungkapnya.

Makan dengan cara bersaprah ini juga bisa menjalin kebersamaan dan kekeluargaan yang merupakan modal penting untuk menjaga tetap saling mengenal satu dengan lainnya. “Silaturrahmi semakin baik akan membangun rasa persatuan dan kesatuan.”

Ketua Panitia Penyelenggara, Yanieta Arbiastutie Kamtono menjelaskan festival saprahan ini merupakan kedua kalinya digelar TP-PKK bekerja sama dengan Pemkot Pontianak. Dia berharap kegiatan ini rutin digelar dan dengan unsur masyarakat yang lebih banyak lagi. “Peserta Festival Saprahan tahun ini berjumlah 18 kelompok mewakili enam kecamatan se-Kota Pontianak,” dia mengatakan.

Wali Kota Pontianak, Sutarmidji menilai festival saprahan ini sebagai wadah dalam melestarikan budaya Melayu. Dalam budaya makan saprahan terkandung nilai-nilai filosofi yakni adanya kebersamaan dan rasa kekeluargaan. Penyajian makanan dengan  cara saprahan juga sebagai salah satu pendidikan etika. “Sehingga anak-anak sejak dini bisa belajar sopan santun yang ada pada adat saprahan,” katanya.(*)


BACA JUGA

Kamis, 03 Maret 2016 21:14

Tak Suka Anaknya Didekati, Pemilik Warkop Tusuk Keluarga Sendiri

PONTIANAK- Kepolisian Resort Pontianak terus mendalami motif kasus penganiayaan terhadap Yenny, warga…

Kamis, 03 Maret 2016 20:56

Eks Gafatar Sudah Pulang, Menteri Agama Baru Datang

PONTIANAK- Akhirnya, Menteri Agama (Menag), Lukman Hakim Saifuddin merapat ke Kalimantan Barat, Rabu…

Kamis, 03 Maret 2016 09:14

Usai Mutilasi Anak, Petrus Sempat Minta Dimandikan dan Dipakaikan Jubah

NANGA PINOH- Ustaz Ali Murtado sempat ngobrol dengan pelaku pembunuhan anak-anak kandungnya sendiri,…

Senin, 29 Februari 2016 11:57

Lulus Pendidikan Satpam, Pria Ini Malah Jadi Pencuri Kabel

PONTIANAK- Lulusan pendidikan Satpam angkatan 54, Angga, 24, tak berdaya setelah kaki kanannya ditembak…

Kamis, 11 Februari 2016 08:52

Jambret Diringkus Pas Lagi Asyik Karaoke sambil Meluk Ladies

PONTIANAK- Sedang asyik karaoke sambil memeluk ladies penghibur di karaoke, Delon, 19, diciduk jajaran…

Rabu, 10 Februari 2016 14:40

Belum Sempat Dijual, Si Pencuri Sandal dan Kerudung Ini Keburu Dibekuk

PONTIANAK- Wahyu (24) harus berurusan dengan polisi. Ia ketahuan memanjat pagar dan mendobrak pintu…

Selasa, 09 Februari 2016 15:54

Beegh..Bikin Malu!! Oknum Anggota DPRD Jadi Tersangka Pungli

SEKADAU- Kejaksaan Negeri (Kejari) Sekadau menetapkan status tersangka terhadap FN, oknum anggota DPRD…

Senin, 01 Februari 2016 09:04

Siap-Siap, Hujan Lebat dan Puting Beliung Intai Warga Kalbar

PONTIANAK- Hujan lebat dan deras disertai angin kencang masih mengguyur sejumlah daerah di Kalimantan…

Jumat, 29 Januari 2016 15:47

Payah Ah! Penanganan Korupsi IAIN Stagnan

PONTIANAK- Penanganan kasus korupsi pengadaan meubeler rumah susun mahasiswa Institut Agama Islam Negeri…

Rabu, 27 Januari 2016 14:35

Main Sepeda Dekat Sungai, Bocah Ini Ditemukan Tewas Tersangkut di Tiang Jembatan

PUTUSSIBAU– Keasyikan bermain bersama temannya, bocah laki-laki berusia 13 tahun ditemukan tewas…

Kalbar Ekspor 25 ton Beras ke Malaysia, Sarawak ‘Ekspor’ Balik 36 ton ke Kalbar

Vijay, Lisa, Mama Laila dan Lili Kembali ke Hutan

WANTED..!! Ini Dia Napi Rutan Sanggau yang Kabur

ADUH..!! Perburuan Hewan Dilindungi Masih Marak

Akses Darat ke Malaysia Berpotensi Terputus

Produk Dalam Negeri Ditinggalkan Warga Perbatasan

Diduga Hasil Pembalakan Liar, Mabes Polri Amankan Ratusan Kubik Kayu

MAMPUS..!! Jual Sabu-sabu 3 Kg, Warga Malaysia Mati Ditembak
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .