UTAMA | PONTIANAK | KRIMINAL | DAERAH

UTAMA

Selasa, 12 September 2017 10:09
Oknum Hakim, dari Suap Hingga Selingkuh

PROKAL.CO, PONTIANAK- Penangkapan oknum Hakim Pengadilan Negeri Tindak Pidana Korupsi (PN Tipikor) Bengkulu, Dewi Suryana oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Rabu (6/9) lalu, disikapi alumni dan dosen Fakultas Hukum Universitas Tanjungpura (Untan) Pontianak.

Khususnya mengenai pemberitaan di beberapa media cetak lokal yang menulis hakim terkena Operasi Tangkap Tangan (OTT) itu merupakan alumni Untan. “Kita sangat menyayangkan adanya oknum penegak hukum yang terjerat hukum. Namun kita tidak terima kalau nama Untan di bawa-bawa, khususnya nama Fakultas Hukum Untan,” tegas Raden H. Kusuma Dilaga, SH, MH kepada Rakyat Kalbar, Senin (11/9).

Tak dipungkuri, hakim Dewi Suryana merupakan alumni Fakultas Hukum Untan. Namun bukan berarti nama Untan harus tercoreng dengan ditangkapnya oknum hakim yang terlibat kasus suap dalam penanganan kasus korupsi di Bengkulu itu. “Banyak juga kita tonton di media elektronik, kita baca di media cetak nasional maupun media online, adanya oknum penegak hukum yang terjerat kasus serupa atau kasus pidana umum lainnya. Namun bukan berarti media harus fokus memberitakan latarbelakang pendidikan atau lembaga pendidikan tempatnya mengemban ilmu sebelum terjun ke dunia kerja,” jelas pria yang akrab disapa Bobby Chrisnawan itu.      

Dia mengatakan, dalam mengemban pendidikan di fakultas hukum di universitas manapun di Indonesia, mahasiswa dan mahasiswinya diajarkan kebaikan. Mendidik calon penegak hukum yang baik. Bersikap jujur, adil dan profesional dalam dunia kerja maupun di lingkungan tempat tinggalnya. “Jadi bukan seperti yang diberitakan di media-media itu,” kesal Bobby yang juga alumni S1 dan S2 Hukum Untan tersebut.

Owner Kusuma Dilaga Law Firm & Partners tersebut sangat menyayangkan pemeberitaan media massa beberapa waktu lalu yang lebih menyoroti alumni dan lembaga pendidikan tempat hakim Dewi Suryana menempa ilmu hukum. “Kasus ini merupakan masalah individu bukan lembaga pendidikan, maupun alumninya. Tidak etis dan bisa dituntut, kalau media menyoroti lembaga pendidikan atau almamater tempatnya menuntut ilmu. Apalagi menyebutkan nama lembaga pendidikannya,” ucapnya.

Bobby meminta semua pihak bersikap dewasa dalam menyikapi suatu masalah. Harus bisa memilah, mana yang menjadi masalah individu maupun lembaga. Apalagi tidak sedikit sarjana hukum, baik S1 maupun S2 yang ditelorkan Fakultas Hukum Untan. Mereka juga bergelut dalam dunia kerja di lembaga hukum negara (kepolisian, kejaksaan maupun pengadilan), menjadi aparatur pemerintah daerah maupun dibidang profesi (pengacara dan notaris). Bukan berarti ketika mereka terjerat hukum, lembaga pendidikan tempatnya menuntut ilmu juga terseret kejelekannya. “Ini hal yang sangat konyol. Kita menuntut media yang memberitakan itu melakukan permintaan maaf, khususnya kepada alumni Fakultas Hukum Untan dan kepada Untan pada umumnya,” tegas Bobby.

Sementara Guru Besar Fakultas Hukum Untan Dr. Hermansyah mengaku kurang enak, ketika banyak masyarakat yang mengedepankan sisi alumni atau almamater dalam kasus penangkapan hakim Dewi Suryana. Dia menegaskan, oknum hakim yang korupsi tidak hanya satu orang di Indonesia. Mereka juga berasal dari berbagai alumni perguruan tinggi di Indonesia. Harusnya pihak-pihak tertentu maupun media tidak menyoroti atau mengedepankan alumi suatu institusi pendidikan.

 “Ini tidak ada urusannya dengan alumni. Orang jahat atau baik, kembali kepada dirinya masing-masing,” tegas Dr. Hermansyah. Dosen S1 dan S2 Fakultas Hukum Untan itu mengaku tidak terlalu mengenal Dewi Suryana ketika mengenyam pendidikan di Fakultas Hukum Untan. Dia menegaskan, faktanya Untan sudah sangat bagus. Masyarakat jangan menggeneralisasikan sesuatu dengan memvonis salah seorang jelek, maka seluruh alumni ikutan jelek. Kasus Dewi Suryana hanya persoalan mental seseorang ketika menduduki dan menjabat sebagai posisi hakim. Padahal saat ini banyak juga alumni Untan yang baik.

 “Saya pikir ini seperti pepatah, rusak nila setitik, rusak susu sebelanga. Tetapi filosofi ini jangan juga kita salah kaprah dalam menilainya,” tuturnya. Menurut Dr. Hermasnyah, jika terjerat OTT, berarti kasus Dewi Suryana sudah lama menjadi perhatian KPK. Tidak mungkin OTT dilakukan, apabila informasinya tidak lengkap. OTT juga tidak mungin dilakukan, jika fakta-faktanya mengarah ke kasus tersebut belum jelas.

 “Karena itu, saya melihat tertangkapnya Dewi  Suryana sebenarnya mungkin saja secara teoritik sudah menjadi perhatian dari KPK sejak lama,” ucapnya. Dia membeberkan, suatu kasus bisa saja dikapitalisasi dengan nilai uang, ketika sudah masuk ke ranah pengadilan atau persidangan. Menurutnya, hal tersebut sering terjadi pada kasus tertentu yang memiliki nilai materi atau nilai ekonomi. Kasus itu biasanya dijadikan objek perdagangan kasus oleh oknum tertentu. Selain itu alasan yang sering menjerat oknum penegak hukum melakukan tindakan pidana, terkait seller yang diterima.

 “Kasus itu memiliki nilai kapitalisasi yang sangat luar biasa. Sangat tergantung daripada anatomi kasusnya, apakah dia besar atau kecil,” papar Dr. Hermansyah. Menurut Dr. Hermansyah, mental dari seorang hakim perlu ditata kembali. Dia mengusulkan agar hakim ditatar, seperti diasesman kembali. Secara psikologis layak atau tidak seseorang menjadi seorang aparat penegak hukum. Apalagi menduduki posisi sebagai hakim. Setidak-tidaknya dilakukan prospektif psikologi. “Dia (hakim) ini juga harus mempunya psikologi yang baik. Baik dalam pengertian menerima tawaran dan sebagainya,” tegas Dr. Hermansyah.

Trend Kasus Hakim

Tidak sedikit kasus hukum yang menjerat oknum hakim di Indonesia. Mulai dari menerima suap hingga perselingkuhan, termasuk di Kalbar. Karena itulah, Komisi Yudisial (KY) Perwakilan Kalbar terus mengingatkan hakim yang bertugas di wilayah kerjanya (Kalbar) agar tidak menyimpang.

Berdasarkan catatan atau data yang dipegang KY Perwakilan Kalbar, trend kasus hakim sebelumnya, yakni tahun 2014 ke bawah, pelanggaran atau perbuatan menyimpang cenderung pada perbuatan suap-menyuap. Tentunya ini berkaitan dengan perkara. Walaupun tidak semua hakim melakukannya, namun itu trend kasusnya.

 “Kemungkinan penerimaan suap terjadi, disebabkan oleh kurang sejahteranya hakim, tentunya dalam hal financial,” kata Koordinator KY Perwakilan Kalbar, Budi Darmawan, SH, Senin (4/9) lalu. Namun ada perubahan trend menjelang 2014 hingga 2017 ini. Bahkan Budi mengaku, jajaran KY begitu terkejut atas perubahan trend kasus yang dilakukan oleh oknum hakim, yakni bermain asmara alias perselingkuhan. “Perubahan trend ini membuat kita terkejut. Yakni dari penerimaan suap berubah menjadi kasus perselingkuhan,” ujar Budi.

Dia mengatakan, hakim yang melakukan perselingkuhan atau bermain asmara melalui hubungan gelap itu, tak hanya dilakukan oleh oknum hakim pria, melainkan oknum hakim wanita juga melakukan hal serupa. “Ini sudah ada kasusnya, dan itulah trend perubahan kasus hakim saat ini,” jelas Budi yang mantan wartawan itu.

Modus yang digunakan oknum hakim-hakim terhormat itu, berawal dari nongkrong, kemudian kenalan, tukar kontak handphone maupun media sosial (Medsos). “Hingga berakhir ke check in hotel dan hubungan gelap itu terjadi,” bebernya.

Bagaimana dengan tabiat oknum hakim di Kalbar? Kata Budi, di Kalbar belum ada laporan berkaitan dengan kasus asmara yang dilakukan oknum hakim. Namun terjadi pada oknum hakim yang berasal dari Kalbar, namun tugas di luar. “Oknum hakim yang asal Kalbar tugas di luar Kalbar ada dilaporkan,” ungkap Budi tanpa menyebutkan nama hakim dan bertugas dimana hakim tersebut.

Budi mengambil kesimpulan, semua itu dapat terjadi, lantaran oknum hakim yang tugas bukan di daerah tempat tinggalnya, rata-rata tidak membawa keluarga. “Faktor berikutnya itu, apa mungkin karena hakim sudah sejahtera saat ini, sehingga dapat melakukan perselingkuhan,” tuturnya.

 “Terlagi kebanyakan hakim itu kalau tidak tinggal di rumah dinas, mereka itu ngekost (indekos, red). Misalkan saja di Pontianak ini, hakim itu rata-rata ngekost,” sambungnya. Maka dari itu, Budi mengaku, pihaknya sedang gencar melakukan sosialisasi berkaitan dengan kasus-kasus hakim yang ada di Indonesia. Guna mengingatkan hakim untuk tidak melakukan penyimpangan saat bertugas maupun di luar persidangan. “Ya kita berharap hakim-hakim yang bertugas di Kalimantan Barat tidak melakukan perbuatan-perbuatan menyimpang itu. Kemudian bagi masyarakat yang mengetahuinya, segera laporkan ke KY Penghubung Perwakilan Kalbar,” tegas Budi.  (Ambrosius Junius, Riko Saputra, Achmad Mundzirin/rk)


BACA JUGA

Selasa, 26 September 2017 12:41

PUBLIK GEGER..!! Remaja Pontianak Pakai Kaos Bergambar Adegan Seronok

PONTIANAK- Warganet Pontianak digegerkan sebuah postingan di media sosial Facebook. Unggahan tersebut…

Senin, 25 September 2017 11:36

BAHAYA..!! Sudah 8 Anak Digigit Anjing Rabies

BENGKAYANG- Anjing penular rabies kembali menyerang warga Kabupaten Bengkayang. Kasus ini mengulang…

Minggu, 24 September 2017 11:29
Kapolda Soroti Pintu Resmi dan Jalan Tikus di Lima Perbatasan

TEGAS..!! Kapolda Bilang, Jangan Ada Anggota yang Berkhianat..!!

PONTIANAK – Polda Kalbar menaruh atensi besar terhadap perbatasan. Untuk diketahui, lima Kabupaten…

Minggu, 24 September 2017 11:26

Acara Puncak Kulminasi Matahari, Bikin Pontianak Mendunia

PONTIANAK- Kota Pontianak tidak hanya kaya akan budaya. Selain itu memiliki ciri khas fenomena alam…

Minggu, 24 September 2017 11:21

JANGAN SETRUM IKAN..!! Nekat, Begini Nih Akibatnya

PONTIANAK- Jangan coba-coba menyetrum ikan di sungai. Polisi khususnya di Pontianak bakal bertindak…

Rabu, 20 September 2017 13:22

Dua Sungai Meluap, Melawi Dikepung Banjir

NANGA PINOH- Meluapnya Sungai Melawi dan Sungai Pinoh mengakibatkan banjir di ibu kota Kabupaten Melawi,…

Rabu, 20 September 2017 11:52

SEREM..!! Puluhan Pelajar SMAN Tebas Kerasukan

SAMBAS- Puluhan pelajar SMAN 2 Tebas kerasukan massal. Dalam dua hari, setidaknya hampir 60 pelajar…

Rabu, 20 September 2017 11:48

Cornelis Pulang ke Rumahnya, Ada Apa?

PONTIANAK- Hampir genap 10 tahun menjabat sebagai Gubernur Kalbar, diakhir masa jabatannya yang tinggal…

Rabu, 20 September 2017 11:47

BANJIR PARAH..!! Sepeda Motor pun Digotong

SEKADAU- Selain pemukiman warga, banjir juga menggenangi sejumlah titik ruas jalan yang menghubungkan…

Rabu, 20 September 2017 11:40
Tewasnya Anak 11 Tahun Akibat Dibully

Polisi Minta Jenazah Nice Diotopsi

PONTIANAK- Polresta Pontianak telah melakukan gelar perkara tewasnya korban bully yang baru berusia…

SEREM..!! Puluhan Pelajar SMAN Tebas Kerasukan

Cornelis Pulang ke Rumahnya, Ada Apa?

Ada 4 Pelaku Penganiayaan Nice, Keluarga Ingin Tetap Diproses

BANJIR PARAH..!! Sepeda Motor pun Digotong

TEGAS..!! Kapolda Bilang, Jangan Ada Anggota yang Berkhianat..!!

JANGAN SETRUM IKAN..!! Nekat, Begini Nih Akibatnya

Polisi Minta Jenazah Nice Diotopsi

Acara Puncak Kulminasi Matahari, Bikin Pontianak Mendunia

BAHAYA..!! Sudah 8 Anak Digigit Anjing Rabies

Masuk Konten Porno? Polisi Masih Selidiki
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .