UTAMA | PONTIANAK | KRIMINAL | DAERAH

UTAMA

Senin, 04 September 2017 11:41
MENARIK..!! Istri Bupati Sambas Bertutur A sampai Z tentang Kehidupannya

Dampingi Atbah, Lusyanah Sepaham Alquran sebagai Benteng Keluarga

LANTIK ISTRI. Bupati Sambas Atbah Romin Suhaili bersama istri, Lusyanah Kosasih, saat pelantikan TP-PKK beberapa waktu lalu di aula kantor Bupati Sambas. SAIRI

PROKAL.CO, Di balik kesuksesan laki-laki ada perempuan hebat di belakangnya. Seperti di Sambas, ada Lusyanah Kosasih yang setia mendampingi Atbah Romin Suhaili hingga Atbah jadi bupati.

Sairi, Sambas

Lusy, karib Lusyanah Kosasih disapa, sosok yang saleh, ramah, periang, dan tentu saja elok rupanya. Ibu lima anak ini pun cerdas. Sebelum aktif dalam beberapa kegiatan kemasyarakatan di Sambas, Lusy kerap diminta menjadi narasumber di sejumlah kegiatan.  

“Mengisi kegiatan menjadi pembicara penyuluhan di Dinkes (dinas kesehatan), Dharma Wanita, maupun kajian keagamaan," tutur Lusy ditemui Rakyat Kalbar di rumah dinas Bupati Sambas, Selasa (29/8). Sebagai pendamping orang nomor satu di Pemerintahan Kabupaten Sambas, beberapa tugas baru kini otomatis diemban Lusy. Diantaranya Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) dan Ketua TP-PKK Sambas.

"Aktivitas sekarang lebih pada kegiatan di masyarakat. Selain di PKK dan Dekranasda, juga penasehat di BKMP, ikut kegiatan di SKPD, dan lain-lain,” ujarnya. Ia tumbuh besar di Jakarta. Menempuh pendidikan dasar di MI At Taqwa Cakung, pendidikan menengah di SMPN 124 Kemang, lanjut SMA 28 Pasar Minggu. Dan berkuliah IKIP Jakarta jurusan Bahasa Asing (Arab).

"Setelah berbisnis bersama teman di apotek, saya kuliah lagi jurusan farmasi di lembaga farmasi Angkatan Laut, tetapi tidak melanjutkan sampai kepada profesi," ungkap Lusy. Dengan gelar akademis di bidang kefarmasian dan bahasa asing, tepatnya bahasa Arab, ia kemudian aktif sebagai dosen. Lusy pun memiliki banyak usaha. Dari apotek hingga minimarket. Kegiatan sosialnya diisi dengan mengelola panti asuhan yang didirikannya.

Di luar aktivitas seabrek tersebut, Lusy tetap konsen dengan urusan rumah tangganya. Sebagai ibu rumah tangga, bagi dia, harus selalu setia dan memberikan yang terbaik bagi keluarga.  “Khususnya kepada suami tercinta, agar selama menjalankan tugasnya suami selalu dalam keadaan fresh, dapat berpikir jernih sebelum mengambil sebuah keputusan," paparnya.

Bagaimana kiatnya mengurusi lima orang anak? Ia mengatakan, seorang ibu, memiliki anak sedikit maupun banyak, pasti ada sedikit hal.  “Alhamdulillah anak-anak sudah dewasa, bisa mengatur dirinya sendiri dan menjaga dirinya. Membesarkan anak merupakan tanggung jawab yang diamanahkan oleh Allah SWT kepada kita,” tegas Lusy. Anak pertamanya setakat ini sedang berkuliah di Universitas Indonesia Jakarta.

Lanjut Lusy, setiap anaknya wajib menghapal Alquran dan mengerti isinya. Sebab, dengan memahami isi Alquran, dapat membentengi diri dari perbuatan yang tidak baik. "Saya sama Abi (Atbah) sepakat bahwa anak-anak kami harus hapal Quran dulu, Quran yang akan menjaga mereka," jelasnya.

Lantas, bagaimana bisa bertemu dengan Atbah? Ternyata, ia dijodohkan pamannya. Selang sepuluh hari perjodohan itu, mereka langsung menikah. "Tetapi tidak dipaksa ya, saya bertanya kepada bapak (ayahnya) apakah bapak setuju, kalau iya saya juga setuju akhirnya menikah," beber Lusy.

Perjodohan Atbah-Lusy memang tak seperti kisah Siti Nurbaya. Toh Lusy tetap tertarik magnet Atbah dan mencintainya setengah mati. Kata dia, suaminya itu berkarakter. "Abi itu becandaannya lucu, tidak pernah susah. Bisa menghidupkan suasana, di rumah kalau udah ada Abi, seru lah bersama anak-anak," terangnya.

Ngomong-ngomong apa makanan favorit Atbah? Lusy menjawab, menentukan menu untuk suaminya sangat mudah. Yang penting pedas, sama dengan selera anak-anak mereka. "Favorit Abi yang pedas-pedas, seperti cabe pranggi, ada juga peda', tempoyak sambel, juga suka yang berbau kambing itu suka," ujarnya.

Saking humorisnya Atbah, ketika dia mengatakan akan maju dalam pemilihan kepala daerah Sambas, Lusy setengah tidak percaya. Ia pernah mendengar sebelumnya bahwa Atbah akan terjun ke dunia politik tetapi tak ditanggapinya serius.  "Sempat syok sedikit lah pas beneran mencalonkan. Apa iya tentang ini, saya juga heran anaknya setuju semua,” tukasnya.

 “Abi juga bilang pilihan politik cuman dua, menang atau kalah. Kalau menang alhamdulillah, kalau kalah resikonya bakalan kere. Kalau kere, selagi kita beriman, tidak masalah kata Abi". Ketika masih di Jakarta, tentu Lusy sudah terbiasa dengan segala fasilitas, kemudahan, serta faktor lain yang sangat mendukung. Jelas sangat jauh berbeda dengan Kabupaten Sambas dengan segala keterbatasannya. Meski begitu, ia bertekad setia menemani dimanapun Atbah berada.

"Keberadaan saya di sini (Sambas) juga harus bermanfaat untuk orang banyak, walau berat sebenarnya untuk meninggalkan orangtua yang  sudah mulai berumur (di Jakarta),” ucapnya. Ia prihatin dengan kesenjangan pembangunan antara daerah dengan pusat. Di Jakarta banyak sekali jembatan dibangun meskipun sungai di sana jumlahnya sedikit.

"Terus terang, pada saat belum pindah, masih menerka seperti apa kondisi di daerah. Ternyata baru tau saat tiba di sini, dimana ketimpangannya jauh sekali dari pusat. Di sana (pusat), pembangunan itu seperti dipaksakan, jembatan banyak meski tidak ada sungainya,” jelas Lusy.

Selain itu, ia menilai energi seperti listrik di Jakarta digunakan bukan untuk hal-hal yang urgen. Misalnya untuk sekedar menghidupkan lampu taman. Sedangkan di Sambas banyak sekali lampu jalan yang mati sehingga membuat jalan menjadi gelap dan menyeramkan. "Kalau inget di Jakarta, listrik sepertinya sudah jadi hiasan untuk faktor keindahan, di sini sering mati lampu dan jalannya gelap-gelap, jauh sekali bedanya," ucapnya.

Ketertinggalan Sambas di bidang pendidikan pun disadari Lusy. Secara psikologi, metodologi, serta fasilitas penelitian jauh tertinggal. Ia mendukung penuh tekad Atbah mengirim generasi muda Sambas sekolah di luar negeri dengan program “1.000 Anak Sambas Hebat”-nya

"Kebutuhan-kebutuhan dasar inilah yang harus kita benahi bersama-sama, karena hal ini faktor utama untuk kemakmuran dan kemajuan daerah ini. Jika ini dibenahi, insya Allah akan membawa dampak positif," yakin dia. Sebenarnya, yang paling bikin ia mengelus dada adalah permasalahan sosial yang kini kerap terjadi. "Kabupaten Sambas sendiri akar budayanya bagus, Islam, cinta kebaikan. Tapi kenapa kasus tertingginya pelecehan seksual, perceraian. Kedepannya kita berharap bisa menghidupkan akar budaya itu," tutur Lusy.

Ia berharap Kabupaten Sambas lebih maju kedepan. Kata Lusy, dengan pengelolaan yang baik, akan terjadi pemerataan. Baik secara infrastruktur maupun kapasitas dari masyarakatnya. Bisa lebih cerdas, lebih baik lagi dalam menyaring informasi.

Untuk maju, ia berpandangan, masyarakat harus berubah. Meningkatkan produktivitas dan merubah etos kerja. Lusy menganalisa hal ini, bisa jadi karena kekayaan alam Sambas sendiri.  “Sehingga etos kerjanya rendah, berpuas diri dengan hasil yang segitu saja,” ungkapnya. Ia berpesan, “Jangan kebanyakan ngopi, mari kita mengolah tanah kita semaksimal mungkin. Mari kita lebih bersemangat, lebih serius dalam bekerja, dan menghargai waktu”.

Di balik semua kekurangan itu, ia menyebut lebih betah tinggal di Sambas. Masyarakat Sambas, kata Lusy, lebih ramah, sangat berbeda dengan kultur Jakarta. "Saya sangat senang berada di Sambas, dengan keramahan penduduknya dan tutur bahasa yang lebih halus. Orang-orangnya welcome. Saya suka bahasanya, logat Sambas lembut yang saya senang. Kalau di Jakarta kan orangnya to the point, pakai gue-elo," tandasnya. (*)


BACA JUGA

Rabu, 15 November 2017 16:04

Di Kabupaten Inilah, Surganya Illegal Logging

Pembalakan hutan secara liar di Kalbar terus berlangsung. Mungkin, kalau pepohonan menjulang yang merupakan…

Rabu, 15 November 2017 15:59

KOK BISA..?? Runway Bandara Supadio Tergenang

SUNGAI RAYA- Hujan deras cukup mengakibatkan runway atau landasan pacu Bandar Udara (Bandara) Internasional…

Sabtu, 11 November 2017 11:22
Kekayaan yang Tersisa di Batas Negeri

Ada 4 Jenis Penyu, Warga Masih Ambil Telurnya

Semua jenis penyu laut di Indonesia telah dilindungi Peraturan Pemerintah (PP) 7/1999 tentang Pengawetan…

Selasa, 07 November 2017 16:12

Ini Nih Bukti Pembalakan Liar di Kalbar Masih Marak

PONTIANAK- Kata siapa pembalakan hutan di Kalbar sudah tak ada? Buktinya, pihak berwenang kembali mengamankan…

Selasa, 07 November 2017 16:09

Gigit Kaki Bocah, Kepala Anjing yang Diduga Rabies Ini Lepas dari Badannya

SEPONTI- Kasus rabies seakan tak ada habisnya di Kalbar. Kali ini seorang anak di Dusun Sumber Baru,…

Senin, 06 November 2017 12:49

Internet Lelet, Bupati Cantik Ini Kesal

NGABANG- Bukan hanya anak-anak muda atau kalangan pelajar yang seringkali kesal luar biasa ketika mendapati…

Sabtu, 04 November 2017 10:41

Terima Uang Pengurusan Surat Tanah, Kades Disergap Tim Saber Pungli

PONTIANAK- Karena menerima uang tanda terima kasih atas pembuatan surat tanah, tiba-tiba Kepala Desa…

Minggu, 29 Oktober 2017 10:31

Kalbar Belum Bebas Campak, KLB di Lima Kabupaten/Kota

PONTIANAK- Kalimantan Barat belum sepenuhnya bebas penyakit campak. Hingga September 2017 ini saja,…

Minggu, 29 Oktober 2017 10:29

Nenek Itu Setahun Minum Air Rebusan Batu, Ternyata....

PONTIANAK- Jagat Kalbar pernah heboh dengan pemberitaan sejumlah media massa mengenai Niarti minum rebusan…

Jumat, 27 Oktober 2017 11:33

Supaya Aman dari KPK, Ini yang Dilakukan Bupati se-Kalbar

 Wali Kota Singkawang, Awang Ishak juga tak ingin kasus korupsi menjerat dirinya dan bawahannya.…

Vijay, Lisa, Mama Laila dan Lili Kembali ke Hutan

ADUH..!! Perburuan Hewan Dilindungi Masih Marak
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .