UTAMA | PONTIANAK | KRIMINAL | DAERAH

UTAMA

Kamis, 24 Agustus 2017 13:53
Melihat Dari Dekat Sekolah Orangutan di Sintang
Dikenalkan Lagi Panjat Pohon, Ada yang Lebih Suka Makan Mi Instan
SEKOLAH ORANGUTAN. Bayi Orangutan ketika diberikan susu sebagai tambahan asupan protein, kalsium, dan mineral, di Sekolah Orangutan Dusun Tem’bak, Desa Gurung Mali, Kecamatan Tempunak, Kabupaten Sintang, belum lama ini. SOC FOR RAKYAT KALBAR

PROKAL.CO, Dusun Tem’bak, Desa Gurung Mali, Kecamatan Tempunak, Sintang ini terasa istimewa. Ya, Gurung Mali merupakan pusat pendidikan Orangutan di Sintang. Wilayah itu masih berhutan primer dan layak untuk habitat Orangutan.

Dusun Tem’bak berada sekitar 68  kilometer dari Kota Sintang. Secara administratif terletak di Desa Gurung Mali, Kecamatan Tempunak, Kabupaten Sintang.Sekitar 90 persen infrastruktur menuju wilayah itu berstruktur tanah. Tak heran jika musim penghujan, kondisi jalan licin. Kala musin panas, jalan berdebu luar biasa.

Tem’bak merupakan tempat reintroduksi bagi Orangutan yang akan dilepasliarkan ke hutan. Pusat rehabilitasi Sekolah Orangutan Tem’bak ini pun terletak di dalam kawasan hutan primer yang berjarak kurang lebih 800 kilometer dari pemukiman masyarakat Tem’bak. Letaknya, persis di atas pegunungan.

Sekolah Orangutan Tem’bak ini dikelola Sintang Orangutan Center (SOC) yang bekerja sama dengan Yayasan Kobus. Begitu masuk ke dalam pusat rehabilitasi, pengunjung akan disajikan kondisi hutan yang masih fresh. Belum tersentuh tangan-tangan manusia. Udaranya begitu nyaman dihirup, di sisi kanan dan kiri terlihat pohon-pohon tua yang berdiri tegap dan tinggi.

Tak sedikit Orangutan di dalamnya. Ada 13 Orangutan yang sedang menjalani pendidikan. Mereka diajarkan belajar dan bermain. Di sekolah ini, Orangutan diajarkan untuk dapat memanjat pohon, mengenali beberapa jenis makanan alami, serta mengenali lawan dan kawan. Mereka semua dilatih dan diajarkan beberapa hal untuk dilepas secara liar. Pengunjung tidak diperkenankan mendekati satwa-satwa langka tersebut.

Staf SOC, Nurdiana, yangmengelola pusat rehabilitasi ini mengatakan, pelatihan 13 Orangutan itu dilakukannya bersama enam petugas SOC lain. Sekolah Orangutan ini hanya mengajarkan tentang bagaimana mencari makan, membuat rumah sendiri, serta cara memanjat dan melompat.

Dibangun sejak 2011, sekolah baru beroperasional pada 2013 dengan murid lima individu Orangutan. Dari 13 individu yang tengah belajar, lima masih bayi. Orangutan-Orangutan ini akan terus dilatih hingga bisa hidup mandiri ketika dilepasliarkan. Ada lima kriteria Orangutan layak untuk dilepasliarkan.

Pertama, sudah bisa membuat sarang. Kedua, sudah bisa bergerak dan memanjat dengan baik, ada 11 gerakan yang harus mereka kuasai. Ketiga, sudah mengenal makanan alami dan liar di hutan, minimal setengah dari 25 jenis makanan harus dikenal. Keempat, sudah mengalami satu putaran ketersediaan makanan dan tidak ketersediaan makanan. Kelima, sudah lebih menyukai habitatnya.

“80 persen orangutan ini mengkonsumsi buah. Selain itu, mereka juga makan tanah,“ jelas Nurdiana.

Kemudian, ada dua aspek rehabilitasi yang dilakukan SOC terhadap Orangutan. Pertama, rehabilitasi kesehatan dan rehabilitasi tingkah laku. Sebab, dari 13 orangutan yang dilatihnya ini kebanyakan tidak memenuhi syarat. Contoh, ada orangutan yang datang ke Sekolah Orangutan Tem’bak lebih senang makan mi instan dan minum Coca-Cola.

“Pola makan dan minum itulah yang kita rubah di pusat rehabilitasi ini,” bebernya. Hampir rata, Orangutan yang datang ke tempatnya berperilaku seperti manusia. Memang, tidak dipungkiri DNA orangutan dan DNA manusia hanya selisih 3 persen.

 “97 persen DNA orangutan sama dengan DNA manusia,” jelas Nurdiana. Ia menyatakan, banyaknya spesies Orangutan yang ditangkap dan dipelihara oleh warga merupakan dampak pembalakan liar.

Dedi Hendri Santoso, Sub Edukasi dan Penyadartahuan SOC Sintang mengatakan, lembaganya memiliki 2 pusat rehabilitasi Orangutan. Pertama di pusat kantor SOC di Jalan Hutan Wisata Kecamatan Sintang. Kedua, di Dusun Tem’bak Desa Gurung Mali, Kecamatan Tempunak.  Di SOC hanya sebatas pemeliharaan kesehatan secara fisik orangutan. Sementara, di Tem’bak dilakukan pendidikan orangutan agar mental mereka kuat ketika dilepasliarkan nantinya.

Sebanyak, 35 orangutan yang direhabilitasi di SOC. Dari 35 individu orangutan itu terbagi dua kelompok. Kelompok pertama ada 23 individu yang menjalani proses rehabilitasi kesehatan. Kelompok kedua, ada 13 individu yang menjalani proses pelepasliaran di Sekolah Orangutan Tem’bak.

“Sebelum dilepasliarkan, semua individu orangutan harus dalam keadaan fit. Begitu juga kondisi fisik dan mental mereka,” kata Dedi Hendri Santoso, Jumat (18/8), ketika berbincang dengan Rakyat Kalbar di Kantor SOC Sintang.

Dedi mengaku 35 orangutan yang ada saat ini merupakan hasil sitaan BKSDA. Kemudian, dititipkan kepada SOC untuk dilakukan rehabilitasi secara fisik dan mental.  Populasi orangutan saat ini sangat terancam punah. Untuk perkembangbiakan atau proses kawin orangutan, kata Dedi, tidak dilakukan oleh SOC. Sebab, peran SOC hanya sebatas rehabilitasi kesehatan dan tingkah laku saja. 

 “Proses perkembangbiakan diluar kewenangan kita. Namun, pada umumnya prosesnya kurang lebih yang dilakukan oleh manusia ketika memasuki musim kawin,” tuturnya. Tak lama lagi pihaknya akan merilis tujuh orangutan yang sudah siap secara kesehatan dan mental untuk dilepasliarkan. Lokasi pelepasliaran orangutan pun telah disurvei dengan melihat ketersediaan bahan makanan dan kondisi hutan apakah layak atau tidaknya orangutan berada disana. Hasilnya, SOC dan BKSDA memilih Taman Nasional Betung Kerihun Kabupaten Kapuas Hulu sebagai tempat pelepasliaran.

“Beberapa makanan alami seperti, buah-buahan, daun muda umbut-umbutan, kulit kayu, serangga dan rayap juga tersedia di sana,” paparnya. Tokoh Masyarakat Dusun Tem’bak Desa Gurung Mali, Kecamatan Tempunak, Nayau menyatakan, bahwa masyarakat dusun tidak merasa keberatan akan keberadaan Orangutan di wilayahnya. Bahkan, sangat menyambut baik.

Menurutnya, Orangutan adalah spesies yang termasuk langka dan hanya ada di Sumatera dan Kalimantan. Kata Nayau, di Tem’bak terdapat beberapa habitat langka yang hidup secara bebas. Namun, keberadaanya saat ini sudah terancam punah. Contohnya binatang Landak.

“Dulu sering kami jumpai. Bahkan menjadi ajang berburu. Tetapi untuk saat ini sudah susah melihatnya. Kita dulu tidak tahu kalau itu spesies yang langka dan dilindungi. Tapi, setelah kita tahu maka saya dan masyarakat di Dusun Tem’bak ini komitmen untuk menjaga kelestarian binatang yang hidup di hutan secara bebas,”paparnya.

Terkait dua hektar lahan di Sekolah Orangutan Tem’bak, Nayau mengakui, itu merupakan lahannya. Yang dengan sengaja diperuntukkan untuk kehidupan Orangutan agar kembali mengenal tempat tinggalnya. Nayau menyatakan, masyarakat Tem’bak cinta terhadap Orangutan. Karena cintanya dengan Orangutan dan untuk menjaga kelestariannya, tidak satupun kegiatan yang mengancam kelestarian tersebut diizinkan untuk beroperasional di Tem’bak.

Terpisah, Wakil Bupati Askiman menyatakan, pemerintah Sintang sangat mendukung aktivitas Orangutan di Dusun Tem'bak itu. “Untuk saat ini, Pemerintah Kabupaten Sintang sedang fokus memperbaiki infrastruktur jalan menuju ke Tem'bak. Sehingga, di sana bisa mendapat perhatian lebih baik lagi, sebab di sana merupakan wilayah terpencil dan tertinggal,” terangnya. (Maulidi Murni, Achmad Munandar)


BACA JUGA

Rabu, 15 November 2017 16:04

Di Kabupaten Inilah, Surganya Illegal Logging

Pembalakan hutan secara liar di Kalbar terus berlangsung. Mungkin, kalau pepohonan menjulang yang merupakan…

Rabu, 15 November 2017 15:59

KOK BISA..?? Runway Bandara Supadio Tergenang

SUNGAI RAYA- Hujan deras cukup mengakibatkan runway atau landasan pacu Bandar Udara (Bandara) Internasional…

Sabtu, 11 November 2017 11:22
Kekayaan yang Tersisa di Batas Negeri

Ada 4 Jenis Penyu, Warga Masih Ambil Telurnya

Semua jenis penyu laut di Indonesia telah dilindungi Peraturan Pemerintah (PP) 7/1999 tentang Pengawetan…

Selasa, 07 November 2017 16:12

Ini Nih Bukti Pembalakan Liar di Kalbar Masih Marak

PONTIANAK- Kata siapa pembalakan hutan di Kalbar sudah tak ada? Buktinya, pihak berwenang kembali mengamankan…

Selasa, 07 November 2017 16:09

Gigit Kaki Bocah, Kepala Anjing yang Diduga Rabies Ini Lepas dari Badannya

SEPONTI- Kasus rabies seakan tak ada habisnya di Kalbar. Kali ini seorang anak di Dusun Sumber Baru,…

Senin, 06 November 2017 12:49

Internet Lelet, Bupati Cantik Ini Kesal

NGABANG- Bukan hanya anak-anak muda atau kalangan pelajar yang seringkali kesal luar biasa ketika mendapati…

Sabtu, 04 November 2017 10:41

Terima Uang Pengurusan Surat Tanah, Kades Disergap Tim Saber Pungli

PONTIANAK- Karena menerima uang tanda terima kasih atas pembuatan surat tanah, tiba-tiba Kepala Desa…

Minggu, 29 Oktober 2017 10:31

Kalbar Belum Bebas Campak, KLB di Lima Kabupaten/Kota

PONTIANAK- Kalimantan Barat belum sepenuhnya bebas penyakit campak. Hingga September 2017 ini saja,…

Minggu, 29 Oktober 2017 10:29

Nenek Itu Setahun Minum Air Rebusan Batu, Ternyata....

PONTIANAK- Jagat Kalbar pernah heboh dengan pemberitaan sejumlah media massa mengenai Niarti minum rebusan…

Jumat, 27 Oktober 2017 11:33

Supaya Aman dari KPK, Ini yang Dilakukan Bupati se-Kalbar

 Wali Kota Singkawang, Awang Ishak juga tak ingin kasus korupsi menjerat dirinya dan bawahannya.…

Vijay, Lisa, Mama Laila dan Lili Kembali ke Hutan

ADUH..!! Perburuan Hewan Dilindungi Masih Marak
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .