UTAMA | PONTIANAK | KRIMINAL | DAERAH

UTAMA

Minggu, 20 Agustus 2017 11:33
Potret Kehidupan Masyarakat Perbatasan Kapuas Hulu
Listrik dari Malaysia, Kerja di Kebun Sawit Dibayar Rp75.800 Sehari
RUSAK BERAT. Kondisi jalan menuju dusun Sebangkang, desa Laja Sandang, kecamatan Empanang yang rusak berat dikala musim hujan. STEPHANUS MULYADI OR RAKYAT KALBAR

PROKAL.CO, Sebagai kabupaten yang berbatasan langsung dengan negara tetangga Malaysia, Kapuas Hulu saat ini menjadi sasaran prioritas pembangunan. Namun, saat ini pembangunan masih jauh dari yang diharapkan. Warga masih bergantung pada negeri sebelah, Malaysia.

Andreas, Putussibau

Menjadi beranda depan NKRI, daerah perbatasan RI – Malaysia Kecamatan Badau, Kabupaten Kapuas Hulu, merupakan kawasan pinggir Indonesia. Sudah memiliki Pos Lintas Batas Negara (PLBN) terpadu Badau yang telah diresmikan langsung oleh presiden pada Maret 2017 lalu. PLBN terpadu Badau ini sekaligus menjadi etalase kebanggaan Indonesia.

Kapuas Hulu sendiri memiliki lima kecamatan lini satu yang berbatasan langsung dengan Malaysia, yakni Kecamatan Badau, Empanang, Puring Kencana, Batang Lupar (Landjak) dan Kecamatan Embaloh Hulu. Pemkab Kapuas Hulu, sesuai kewenangannya, di daerah perbatasan terus berupaya memaksimalkan agar layanan dasar seperti pendidikan, kesehatan, infrastruktur bisa menyentuh hingga ke kampung–kampung terpencil. Jadi bukan hanya berpusat di kecamatan.

Kondisi konkret yang masih dialami masyarakat dusun–dusun daerah perbatasan sampai saat ini memang berkutat pada masalah pelayanan dasar. Yaitu pendidikan, kesehatan, infrastuktur, pemberdayaan perempuan dan anak, pengembangan kesejahteraan keluarga, yang rata–rata belum terfasilitasi dengan baik.

Demikian pula layanan listrik, air bersih, sarana telekomunikasi dan akses jalan penghubung antar dusun/desa. Ini masih menjadi persoalan tersendiri bagi desa–desa di kecamatan perbatasan RI – Malaysia. Kondisinya yang rusak parah menyebabkan masyarakat sulit beraktivitas untuk menunjang perekonomian mereka. Hal itu dialami warga dusun – dusun di sejumlah desa Kecamatan Empanang. Berikut sejumlah dusun di kecamatan perbatasan lainnya.

Kecamatan Empanang memiliki enam desa, diantaranya Keling Panggau, Nanga Kantuk, Tintin Peninjau, Bajau Andai, Kumang Jaya dan Laja Sandang. Dari jumlah tersebut, empat diantaranya butuh perhatian serius pemerintah, seperti Desa Tintin Peninjau, Bajau Andai, Kumang Jaya, dan Laja Sandang. Mereka perlu atensi lebih, terutama dalam peningkatan kesejahteraan warganya.

Mata pencaharian utama sebagian besar penduduk seperti Desa Tintin Peninjau adalah petani karetdan buruh di perkebunan kelapa sawit. Sebagian kecil pergi bekerja ke Malaysia dan sebagian kaum wanita mencari tambahan penghasilan dengan menenun kain sepulang dari bekerja di kebun sawit.

Desa Tintin Peninjau mencakup Dusun Ensanak Hulu dan Hilir, Dusun Martanjung dan Dusun Piyam, dengan total penduduk berjumlah 449 jiwa. Gambaran tentang kondisi kehidupan masyarakat perbatasan tersebut dibenarkan Stephanus Mulyadi, M.Sc. Tenaga Ahli Pelayanan Sosial Dasar P3MD, Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi ini pernah mengunjungi langsung hingga ke dusun – dusun di kecamatan Empanang dan bertatap muka langsung dengan masyarakat setempat.

Lulusan Universitas Tehnik Dresden Jerman ini mengungkap, dari segi ekonomi, penduduk memang sudah ada yang terbangun, seperti di dusun Ensanak Hulu, Ensanak Hilir dan Martanjung desa Tintin Peninjau. Rumah Betang sudah permanen dengan dinding semen dan lantai keramik.

 “Menurut warga dusun Ensanak rumah betang bisa bagus begitu karena sudah banyak dibantu oleh pemerintah. Hampir setiap keluarga memiliki sepeda motor bahkan beberapa keluarga memiliki mobil (plat Malaysia),” tuturnya, Kamis (17/8).

Demikian juga layanan pendidikan dasar sudah meratadi dusun tersebut. Namun PAUD dan SMP belum ada. Setamat SD anak – anak harus melanjutkanpendidikan ke SMP di Nanga Kantuk, Badau dan bahkan Malaysia. “Untuk layanan kesehatan (Polindes) sudah tersedia di pusat desa. Persoalan besar dihadapi warga jika ada keluarga mereka yang mengalami sakit berat yang harus dirujuk ke Rumah Sakit. Puskesmas terdapat di Nanga Kantukdan Rumah Sakit sedang dibangun) terdapat di Badau dan Putussibau, dengan jarak yang cukup jauh,” jelas Stephanus.

Dari segi akses transportasi dan informasi, desa Tintin Peninjau dilewati jalan ngara sehingga bisa dilewati kendaraan dengan roda empat atau lebih, walaupun kondisi jalan rusak berat. “Desa ini juga sudah dialiri aliran listrik 24 jam. Listrik diimpor dari Malaysia. Rata-rata setiap keluarga memiliki televisi (TV) dengan saluran Indovision. Namun komunikasi melalui telepon seluler masih sulit dilakukan. Mata uang rupiah dan ringgit sama—sama berlaku di desa ini,” terang Steph, karib dia disapa.

Dikatakan pria asal Kecamatan Seberuang (Sejiram) Kapuas Hulu ini, dalam situasi demikian, warga desa Tintin Peninjau berupaya keras memperbaiki keadaan ekonomi mereka. Kaum wanita bahkan mencari tambahan penghasilan keluarga dengan menenun kain. “Upaya ini sebenarnya memiliki prospek yang cerah karena pasaran di Malaysia bagus. Dari setiap lembar selendang mereka bisa mendapat keuntungan bersih sebesar 18 Ringgit Malaysia. Namun usaha tersebut terbentur kesulitan warga membeli benang sebagai bahan baku utama karena harganya yang sangat mahal,” ucap Steph.

Berbeda yang terjadi di dusun Piyam. Ini termasuk dusun yang paling sulit secara ekonomi yang ada di desa Tintin Peninjau. Hal itu disebabkan karena rumah panjang (betang) dusun ini pernah terbakar pada tahun 2014, yang menyebabkan harta benda warganya musnah. Pada waktu yang sama, harga karet jatuh sampai mencapai Rp5.000/kg. hal itu membuat kondisi ekonomi penduduk dusun Piyam sangat sulit untuk pulih.

Dalam keadaan demikian, warga dusun Piyam, sama dengan warga desa Tintin Peninjau lainnya menggantungkan hidup sepenuhnya pada upah dari bekerja sebagai buruh harian di kebun Kelapa Sawit yang sudah mengepung kampung mereka. Perhari, kerja mereka dibayar Rp75,800.00 dengan target menyelesaikan pekerjaan 2 hektar/hari.

Dikatakan Steph, akhir – akhir ini warga Tintin Peninjau sangat khawatir karena jumlah hari kerja mereka semakin dikurangi oleh perusahaan sawit, dari 4 (empat) hari seminggu menjadi 3 (tiga) bahkan kadang – kadang hanya 2 (dua) hari/minggu, sehingga penghasilan keluarga pun semakin menurun.

Kondisi kesulitan serupa juga dialami masyarakat desa Kumang Jaya yang mencakup dusun Semirah, dusun Gruguk, dan dusun Upak, dengan total penduduk 528 jiwa. Seperti kondisi dusun Geruguk, sebgian masih tinggal di rumah betang yang dibangun pada tahun 1976. Dulunya Betang Panjang tersebut memiliki 24 pintu. Namun sekarang betang panjang tersebut sudah terputus menjadi dua bagian dan hanya 7 pintu yang ditempati.

“Sebagian keluarga sudah membangun rumah pribadi dan sebagian lagi hijrah ke luar dusun, desa, bahkan luar negeri untuk mencari penghidupan yang lebih baik. Dusun ini bisa dicapai dengan waktu tempuhsekitar satu jam dari Nanga Kantuk denganmenggunakan sepeda motor. Jalan masih jalan tanah dengan kondisi yang sangat buruk yang sangat sulit dilalui pada musim hujan,” ungkap Steph.

Masyarakat dusun Grugguk sangatmengharapkan bantuan jalan dan listrik dan renovasi betang panjang. “Itu sangat prioritas bagi kami,” tutur Langga warga Dusun Gruguk. Air masih melimpah di dusun ini sehingga sektor perikanan (kolam ikan) dan peternakan masih bisa dikembangkan. Demikian juga pertanian palawija dan lada sangat potensial.

Namun, untuk itu perlu dilakukan pendampingan dan pemberdayaan bagi masyarakat karena masalahnya bukan hanya pada skil (keterampilan) melainkan juga pada habit (kebiasaan) bertani, beternak yang masih perlu diarahkan.

Sementara itu, tokoh masyarakat perbatasan, Agus Mulyana berharap langkah konkrit pembangunan wilayah perbatasan bisa menjadi fokus perhatian baik pemerintah kabupaten, provinsi maupun pusat. Sehingga lebih tertata rapi, terutama pembanguan infrastruktur dan ekonomi masyarakat.

 “Terutama pembangunan infrastruktur jalan, untuk mendukung kelancaran akses transportasi masyarakat,” tegas Agus. Mantan wakil bupati Kapuas Hulu ini juga menyampaikan bahwa segenap persoalan yang ada di wilayah perbatasan, seperti kehadiran produk – produk made in Malaysia di sejumlah kecamatan lini satu perbatasan tersebut, harus dicarikan solusi oleh pemerintah antar dua negara. “Pemerintah mesti menyiapkan regulasi untuk hal seperti itu. Katakanlah kalau kita menggunakan produk dalam negeri, ketersediaan barang mesti ada, kemudian harganya mesti terjangkau oleh masyarakat,” tegas Agus Mulyana, putra asli daerah perbatasan, Kecamatan Batang Lupar (Landjak) ini.

Faktanya, selama ini, ketika masyarakat sangat membutuhkan, kemudian harga barang dari negara tetangga sangat murah tentu membuat masyarakat tertarik. Makanya, kata Agus, melalui instansi terkait yang berwenang, ia mendorong agar dibuka pintu ekspor– impor.

 “Kalau sudah terbuka, saya kira tidak ada lagi kita tahu yang ilegal, namun semua harus dilakukan dengan regulasi dan aturan yang benar. Sampai hari ini itu belum berjalan, maka kita dorong ke pemerintah pusat supaya pintu ekspor– impor dibuka,” pintanya. (*)


BACA JUGA

Rabu, 15 November 2017 15:59

KOK BISA..?? Runway Bandara Supadio Tergenang

SUNGAI RAYA- Hujan deras cukup mengakibatkan runway atau landasan pacu Bandar Udara (Bandara) Internasional…

Selasa, 07 November 2017 16:12

Ini Nih Bukti Pembalakan Liar di Kalbar Masih Marak

PONTIANAK- Kata siapa pembalakan hutan di Kalbar sudah tak ada? Buktinya, pihak berwenang kembali mengamankan…

Selasa, 07 November 2017 16:09

Gigit Kaki Bocah, Kepala Anjing yang Diduga Rabies Ini Lepas dari Badannya

SEPONTI- Kasus rabies seakan tak ada habisnya di Kalbar. Kali ini seorang anak di Dusun Sumber Baru,…

Senin, 06 November 2017 12:49

Internet Lelet, Bupati Cantik Ini Kesal

NGABANG- Bukan hanya anak-anak muda atau kalangan pelajar yang seringkali kesal luar biasa ketika mendapati…

Sabtu, 04 November 2017 10:41

Terima Uang Pengurusan Surat Tanah, Kades Disergap Tim Saber Pungli

PONTIANAK- Karena menerima uang tanda terima kasih atas pembuatan surat tanah, tiba-tiba Kepala Desa…

Minggu, 29 Oktober 2017 10:31

Kalbar Belum Bebas Campak, KLB di Lima Kabupaten/Kota

PONTIANAK- Kalimantan Barat belum sepenuhnya bebas penyakit campak. Hingga September 2017 ini saja,…

Minggu, 29 Oktober 2017 10:29

Nenek Itu Setahun Minum Air Rebusan Batu, Ternyata....

PONTIANAK- Jagat Kalbar pernah heboh dengan pemberitaan sejumlah media massa mengenai Niarti minum rebusan…

Jumat, 27 Oktober 2017 11:33

Supaya Aman dari KPK, Ini yang Dilakukan Bupati se-Kalbar

 Wali Kota Singkawang, Awang Ishak juga tak ingin kasus korupsi menjerat dirinya dan bawahannya.…

Jumat, 27 Oktober 2017 11:30

Begini Kiat Kepala Daerah di Kalbar “Cegah” KPK Datang

Mulai dari gubernur dan wakilnya, juga bupati/wali kota di 14 kabupaten/kota se-Kalbar punya trik masing-masing…

Jumat, 27 Oktober 2017 11:27

KPK Tak ke Kalbar, Memangnya Pejabat Kalbar Bersih Semua?

PONTIANAK- Saking besarnya kebocoran anggaran negara, KPK rajin wara-wiri mendatangi sejumlah provinsi…

Ada 4 Jenis Penyu, Warga Masih Ambil Telurnya

KOK BISA..?? Runway Bandara Supadio Tergenang

PETI Marak di Sintang, Sungai Kapuas dan Melawi Semakin Tercemar

PARAH..!! Jalan Nasional Berlubang hingga Berbentuk Kolam

Di Kabupaten Inilah, Surganya Illegal Logging
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .