UTAMA | PONTIANAK | KRIMINAL | DAERAH

DAERAH

Sabtu, 05 Agustus 2017 11:09
Banyak Lahan Gambut, Potensi Kebakaran Hutan dan Lahan Sangat Tinggi
ilustrasi

PROKAL.CO,  KUBU RAYA- Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan di Kalbar mulai merepotkan. Dari timur Kalbar, Ketua Umum Dewan Adat Dayak (DAD) Kabupaten Sekadau, Welbertus Willy mendukung penegakan hukum terhadap pembakar lahan. “Tapi kita berharap penegakan hukum itu harus didahului dengan sosialisasi,” tutur Willy.

Ia juga meminta kepada masyarakat yang hendak membuka lahan untuk melapor kepada aparatur desa, Bhabinkamtibmas serta Babinsa di wilayahnya masing-masing. Sebab, untuk pembakaran lahan, ada aturannya bagi masyarakat ladang berpindah. Masyarakat hanya dibolehkan membakar di bawah 2 hektar.

 “Sistemnya harus melapor terlebih dahulu. Kalau membakar dilihat juga pengaruh angin, kalau melihat kearifan lokal biasanya membakar itu sekitar pukul 16.00,” ungkapnya. Laporan dimaksud juga agar pembukaan lahan dengan membakar bisa terjadwal. “Tolong kalau dibakar jangan langsung ditinggal, harus tanggung jawab, kalau ada yang tidak sengaja terbakar, seperti karena puntung rokok masyarakat agar segera melapor, untuk segera dipadamkan,” pinta Willy.

Ia menilai, kearifan lokal ladang berpindah tersebut sudah dilakukan secara turun temurun. Willy menambahkan, hanya saja sosialisasi kepada masyarakat sangat kurang.  “Sosialisasinya harus intensif, sehingga masyarakat tahu. Masyarakat kalau membakar ladang itu pinggir lahan dibersihkan agar api tidak menjalar karena api mengumpul di tengah dan itu dilakukan bergotong royong, tidak butuh waktu lama ladang sudah terbakar,” paparnya.

“Apalagi kalau hanya 0,5 hektar. Kalau untuk kebutuhan masyarakat ladang berpindah saya yakin tidak ada di atas 1 hektar, paling kuat 0,5 hektar,” sambung Willy. Jumlah titik api di Sekadau memang kembali bertambah.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah dan Pemadam Kebakaran (BPBD-PK) Sekadau, Akhmad Suryadi mengatakan, dua hotspot kembali terdeteksi di Kabupaten Sekadau. Kemunculan titik api tersebut, langsung direspons Tim Satgas Siaga Darurat Penanganan Bencana Asap Akibat Karhutla. Tim yang diketuai Wakil Bupati Sekadau ini segera menggelar rapat koordinasi (Rakor) Karhutla.

Rakor itu nantinya juga akan melibatkan berbagai unsur masyarakat dalam menyikapi kemunculan titik api tersebut. “Kita akan cari formulasi bagaimana menyikapi keluhan masyarakat, dengan kebijakan pemerintah daerah tetapi tidak melanggar aturan yang ada diatasnya,” pungkasnya.

Dan, Bupati Sekadau, Rupinus setuju dengan hal ini. Ia mengatakan, harus ada solusi menyikapi keluhan masyarakat untuk berladang. Di Kabupaten Bengkayang, BPBD setempat memantau setidaknya sepuluh desa  di lima kecamatan yang berpotensi rawan Karhutla. Antara lain di Desa Sungai Pangkalan II, Desa Sungai Raya, Desa Sungai Jaga A, Desa Sungai Duri (Kecamatan Sungai Raya).

Kemudian, Desa Rukmajaya, Desa Karimunting di Kecamatan Sungai Raya Kepulauan. Juga Desa Monterado dan Desa Rantau (Kecamatan Monterado), Desa Sahan Kecamatan Seluas, dan Desa Jagoi Babang Kecamatan Jagoi Babang.

Sekretaris BPBD, Raden Mas Hadi Putra Harno mengatakan, antisipasi Karhutla dilakukan dengan mendirikan beberapa Posko di bawah koordinasi camat dan BPBD sebagai koordinator di desa. “Disebut Destana (Desa Tanggap Bencana), dengan harapan masyarakat paham bencana Karhutla,” tuturnya.

Menurut dia, penyebab Karhutla khusus di daerah pantai Kecamatan Sungai Raya dan Sungai Raya Kepulauan karena banyaknya lahan gambut. Sedangkan di Desa Sahan karena lahan pertanian warga. “Tidak dapat dipungkiri juga, umumnya permasalahan terjadi karena warga di perkampungan masih tergantung dengan pola pertanian tradisional, karena sejauh ini belum ada pengganti dari kebiasaan berladang, sehingga harus ada solusi dari pemerintah,” jelas Hadi.

Pihaknya akan mengajukan ke pemerintah pusat solusinya. Salah satunya dengan membangun pabrik sawit.  “Karena selama ini dengan potensi sawit tinggi seharusnya dibarengi juga dengan dibangunnya pabrik minyak goreng, sehingga dapat menyerap tenaga kerja, dan kebiasaan berladang dapat ditinggalkan. Tergantikan,” paparnya. “Penyebab utama kebakaran pastinya tentunya karena ada faktor ekonomi,” sambung Hadi.

Di selatan Kalbar, sulitnya akses dan sumber air yang terbatas menjadi kendala utama dalam upaya menanggulangi persoalan Karhutla di seantero Kabupaten Kayong Utara. "Sumber air memang menjadi kendala kita saat akan melakukan pemadaman. Karena pada lokasi tertentu saat terjadi kebakaran lahan, kita kesulitan mencari sumber air untuk mengisi ulang tangki mobil," ujar Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kayong Utara, Drs Triyanto, Selasa (1/8).

Sedangkan persoalan lainnya, banyak lokasi yang terjadi karhutla sulit diakses oleh mobil pemadam kebakaran sehingga tak jarang upaya pemadaman terpaksa dilakukan secara manual. Sekadar diketahui ihwal sejumlah lokasi rawan karhutla di Kayong Utara. Di antaranya tersebar di Kecamatan Sukadana, Kecamatan Seponti Jaya, Kecamatan Simpang Hilir dan Kecamatan Pulau Maya Karimata.

"Yang rawan terbakar pasti lahan gambut. Karena apabila ada satu lokasi yang terbakar dan tertiup angin maka api akan cepat menyebar dan meluas. Bahkan, bisa membuat lokasi kebakaran baru," ulasnya. Sementara itu, untuk mengantisipasi lokasi karhutla yang sulit dijangkau, Tri melanjutkan, Pemerintah Kayong Utara melalui BPBD telah mengusulkan ke BNPB. Agar disiagakan satu helikopter water boombing yang nantinya bisa bergerak cepat ketika terjadi karhutla.

"Sesuai hasil rapat koordinasi kami kemarin di Kantor Bupati Ketapang memang sudah disiagakan satu unit helikopter. Ada wacana akan ditambah satu unit lagi helikopter milik Kementerian Lingkungan Hidup. Kemarin saya usulkan untuk standby di Kayong Utara," tuturnya. (Syamsul Arifin, Deska Irnansyafara, Abdu Syukri, Kurnadi, Kamiriluddin/rk)


BACA JUGA

Sabtu, 05 Agustus 2017 11:09

Banyak Lahan Gambut, Potensi Kebakaran Hutan dan Lahan Sangat Tinggi

 KUBU RAYA- Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan di Kalbar mulai merepotkan. Dari timur…

Selasa, 01 Agustus 2017 12:33

Cegah Wabah Rabies, Indonesia Kerja Sama dengan Malaysia

PONTIANAK- Dinas Pangan Peternakan dan Kesehatan Hewan Kalimantan Barat sudah menetapkan status tanggap…

Selasa, 01 Agustus 2017 12:26

Sudah 9 Nyawa Melayang Gara-Gara Rabies

SANGGAU- Kasus rabies sudah bikin khawatir. Di Kalbar sudah 620 kejadian selama 2017. Ketua Komisi D…

Minggu, 30 Juli 2017 12:59

KEJI..!! Usai Kabur dari Rutan Langsung Membunuh, Kepala Korban Diinjak-Injak sampai Tewas

BENGKAYANG- Masih ingat dengan kasus pembunuhan bos ayam bernama Desi Yuliana? Ya, pekan lalu Polres…

Minggu, 30 Juli 2017 12:51

UNIK NIH..!! Cabai Rawit Kok Rasanya Manis

MANDOR- Yang namanya cabai pasti rasanya pedas. Meskipun dengan level yang berbeda-beda. Namun ini aneh…

Sabtu, 29 Juli 2017 12:24

Operasi PETI, Bukan Hanya Pekerja yang Ditangkap

SANGGAU- Polres Sanggau meringkus tujuh pelaku Pertambangan Emas Tanpa Izin (PETI) di Kecamatan Sekayam,…

Sabtu, 29 Juli 2017 12:11

Speedboat yang Terbakar Itu Sejatinya Digunakan untuk Ini....

Dalam kebakaran speedboat yang parkir di Dermaga Sukadana itu, dua diantara 4 speedboat itu milik pengelola…

Sabtu, 29 Juli 2017 12:01

Tugboat Karam, Kemanakah Dua ABK-nya?

SAMBAS-  Tugboat Karya Baru terbalik dan tenggelam di muara Pemangkat, Senin (24/7). Dalam peristiwa…

Senin, 24 Juli 2017 10:48

Bawa Puluhan Drum Bensin, DUUARRR...!! Ucup Terkapar

MELAWI- Jumat (21/7) malam itu Sungai Melawi geger. Ledakan besar membuat warga terkaget-kaget. Ternyata,…

Rabu, 19 Juli 2017 12:00

Bengkayang Marak Aktivitas PETI, Alat Tambang Disita

BENGKAYANG-  Tak hanya menjadi pintu masuk barang ilegal dari Malaysia, Bengkayang juga menjadi…

LIHATLAH..!! Kota Sanggau Membara Dua Setengah Jam

Masih Ada Hotspot di Sintang, Ini Permintaan Bupati
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .