UTAMA | PONTIANAK | KRIMINAL | DAERAH

DAERAH

Kamis, 15 Juni 2017 13:20
Ambil Buah Aren , Tak Hati-Hati Bisa Gatal-Gatal
KOLANG-KALING. Petani aren Kampung Baong, Kelurahan Kedamin Hulu, Putussibau Selatan memasak buah aren di halaman rumahnya untuk dijadikan kolang-kaling, Rabu (14/5). ANDREAS

PROKAL.CO, Ramadan benar-benar bulan yang penuh berkah bagi umatnya. Sebagaimana dirasakan warga RT 008/RW 003 Kampung Baong, Kelurahan Kedamin Hulu, Putussibau Selatan, Kapuas Hulu. Mereka memetik hasil yang memuaskan, hanya dengan mengolah buah aren yang banyak di daerahnya menjadi kolang-kaling.

 

Andreas, Kapuas Hulu

Kolang-kaling terbuat dari daging buah aren yang berbentuk bulat lonjong putih bening. Kenyalnya daging buah aren memiliki rasa yang khas. Lebih enak apabila dimakan dengan campuran santan, susu dan gula merah dalam kondisi dingin. Kolang-kaling biasanya menjadi menu untuk berbuka puasa. Selain untuk memulihkan kesegaran dikala dahaga, kolang-kaling memiliki manfaat kesehatan, salah satunya untuk penguatan tulang.

“Memang sudah kerjaan hari-hari,” kata Kubay, petani aren. Ditemui Rakyat Kalbar di halaman rumahnya yang tak jauh dari pantai Sungai Kapuas, warga Kampung Baong itu tengah sibuk mensortir buah aren yang sudah dimasak dalam kuwali atau wajan besar.  Dia tak bekerja sendiri. Dibantu warga lainnya yang rata-rata ibu rumah tangga. Masing-masing memiliki tugas tersendiri. Ada yang mengupas dan membersihkan kulit buah aren. Sedangkan Kubay bertugas memasaknya.

Kendati hanya musiman, Kubay mengaku pendapatan mereka sangat membantu memenuhi kebutuhan hari raya Idul Fitri nanti. “Ya, lumayan (keuntungannya) setahun sekali, buat lebaran keluarga,” tutur Kubay sambil merendam buah aren yang sudah dimasak di halaman rumahnya, Rabu (14/6).

Ternyata untuk mendapatkan buah aren sebagai kolang-kaling ini tak segampang yang dilihat. Selain harus dipilih, mana yang layak dijadikan kolang-kaling, memetik buahnya juga butuh perjuangan keras.  “Tak sembarangan orang bisa mengambil buah aren ini dipokoknya. Jika tidak hati-hati memetik buah ini dari tandannya, maka orang mengalami gatal-gatal di sekujur tubuhnya, karena terkena getahnya,” tuturnya.

Selain itu, buah aren ini tidak sembarangan dipetik. Harus dilihat terlebih dahulu apakah buah tersebut benar-benar matang atau tidak. Karena akan mempengaruhi kualitas buah tersebut ketika dimasak menjadi kolang-kaling.

Begitu juga cara mengolahnya. Buah aren yang baru dipetik dari tandannya, tidak langsung dikupas. Harus melalui proses penggodokan atau rebus di atas tungku.

 “Kalau tidak digodok, kalau dimakan buahnya, tenggorokan terasa gatal. Setelah digodok dalam wajan, barulah bisa dikupas untuk mengeluarkan biji kolang-kaling yang berwarna putih bening dan berbentuk lonjong itu,” jelas Kubay.

Bahkan jika penggodokannya kurang matang, biasanya buah aren tersebut berwarna merah dan bisa menyababkan gagal sehingga tidak bisa dijual. Maka perlu teknik dan keterampilan khusus bagi pengolah kolang-kaling itu.  “Buah kolang-kaling yang telah dikupas, selanjutnya direndam dalam air selama tiga hari untuk mendapatkan kandungan air yang cukup. Baru setelah itu ditumbuk untuk mendapatkan bentuk yang ideal,” ucapnya.

Petani kolang-kaling lainnya, Amisah mengatakan, selama Ramadan, dia bersama petani lainnya mampu menghasilkan puluhan kilo buah kolang-kaling yang siap dijual ke pasar. “Namun sayangnya harga satu canting buah kolang-kaling harganya masih murah, hanya Rp4000 per canting, tak sesuai dengan pengolahan dan mendapatkan buahnya,” ucap Amisah.

Amisah mengatakan, buah kolang-kaling yang mereka olah itu sudah menjadi pesanan untuk dijual. Di bulan Ramadan seperti ini, kata dia, pesanan buah kolang-kaling meningkat. Bahkan kata Amisah, dirinya bersama petani lainnya tidak mampu melayani pembeli.

Mereka merasa bersyukur bahwa bulan Ramadan kali ini, buah kolang-kaling produksi mereka laris terjual. Hanya saja buah khas tersebut mulai terancam kelestariannya, karena sering ditebang warga untuk mengambil umbut pohon aren dijadikan sayur. “Ke depan, kami tidak tahu, apakah buah kolang-kaling ini masih akan tetap ada atau tidak,” tuturnya.

Kata Amisah, pengolahan buah aren menjadi kolang-kaling hanya di bulan Ramadan. Makanya dia dan warga lainnya menjadi petani kolang-kaling dadakan.  Seperti diketahui, pohon aren yang buahnya dijadikan bahan baku kolang-kaleng ini dapat ditemukan di setiap kecamatan di Kapuas Hulu. Tanahnya sangat cocok ditumbuhi pohon jenis palma ini.

Tinggi pohon aren dapat mencapai 25 meter, dengan diameter hingga 65 Cm. Batang pohonnya kokoh dan pada bagian atas diselimuti serabut berwarna hitam yang dikenal sebagai ijuk, injuk, juk atau duk. Ijuk sebenarnya adalah bagian dari pelepah daun yang menyelubungi batang.

Daunnya majemuk menyirip, seperti daun kelapa, panjang hingga lima meter dengan tangkai daun hingga 1,5 meter. Anak daun seperti pita bergelombang, hingga 7 x 145 Cm, berwarna hijau gelap di atas dan keputih-putihan, karena ada lapisan lilin di sisi bawahnya. Sehingga aren (Arenga Pinnata, suku Arecaceae) menjadi palma terpenting setelah kelapa (nyiur). Karena merupakan tanaman serba guna. (*)


BACA JUGA

Sabtu, 02 Desember 2017 11:42

JEDERR…!! Diduga Akibat Rokok, Speedboat Meledak

KUBU RAYA- Seunit speedboat 40 PK tiba-tiba meledak dan terbakar di perairan Kecamatan Kubu, Kabupaten…

Sabtu, 02 Desember 2017 11:30

Ancaman Banjir, BPBD Imbau Warga Waspada

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kalbar TTA Nyarong menilai banjir yang terjadi saat…

Sabtu, 02 Desember 2017 11:29

Tiga Dusun di Mempawah Terendam

MEMPAWAH- Tiga dusun di Kecamatan Mempawah Hilir, Kabupaten Mempawah diterjang banjir. Bencana alam…

Sabtu, 02 Desember 2017 11:27

RAYUAN MAUT..!! Janji Dinikahi, Melati Rela Disetubuhi

BENGKAYANG- Diiming-imingi akan dinikahi, Melati (bukan nama sebenarnya) rela disetubuhi Manin, warga…

Rabu, 29 November 2017 12:54

Terancam 6 Tahun Penjara Gara-Gara Racuni Ikan dengan Sianida

SAMBAS- Belum lama ini, Polsek Sejangkung menciduk seorang pria berinisial AP, karena menangkap ikan…

Rabu, 29 November 2017 12:53

Merasa Dizalimi Pemkab Ketapang, Pedagang Berontak

KETAPANG- Ratusan warga Kabupaten Ketapang merasa dizalimi karena tempatnya mencari nafkah sehari-hari…

Rabu, 29 November 2017 12:49

TEGA..!! Digenjot 4 Tahun oleh Ayah Tiri, Perut Melati Gembung

SINGKAWANG- Bapak berinisial Iw ini sungguh tega. Dia mencabuli anak tirinya berulang kali hingga hamil.…

Sabtu, 25 November 2017 11:33

Diteror Orang Gila, Keluarga Wakil Ketua DPRD Sekadau Gemetar

SEKADAU- Wakil Ketua DPRD Sekadau, Jefray Raja Tugam bersama keluarga besarnya dibuat ketakutan di kediamannya …

Sabtu, 25 November 2017 11:07

Polda Gerebek Sawmil di Balai Bekuak Ketapang

PONTIANAK- Investigasi FRKP Pontianak yang dipimpin Bruder Stephanus Paiman dua minggu lalu di Kabupaten…

Sabtu, 25 November 2017 11:04

Berantas Ilegal Logging, Polisi Harus Konsisten

Ketua FRKP Bruder Stephanus Paiman meminta kepada pihak kepolisian yang ada di Kalbar untuk konsisten…

HAYO NGAPAIN...!! Ada di Penginapan, 12 Cabe-cabean Diamankan

Dicekoki Miras, Lalu Gadis 14 Tahun Itu “Ditunggangi”

TEGA..!! Disetubuhi Ayah Selama 3 Tahun

Gunakan Dana Desa, Sukses Bangun Jembatan Gantung

WADUH..!! Taksi Malaysia Bawa Senjata Tajam dan Peluru

Usai Pesta Miras, Bukannya Mabuk, Yosep Malah Gantung Diri

Terganggu Pengeras Suara Pemanggil Burung dan Buruk Bagi Kesehatan

Nasir: Kita Upayakan Dongkrak Wisman Masuk Lewat Border

Menengah-Atas, Relakanlah Si Melon untuk yang Bawah

Sebelas Muda-mudi di Sintang Positif Konsumsi Narkotika
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .