UTAMA | PONTIANAK | KRIMINAL | DAERAH

DAERAH

Senin, 12 Juni 2017 13:35
DUHAIII DERITANYA…!! Warga Sakit Harus Digotong Puluhan Kilometer
TANDU ORANG SAKIT. Sejumlah warga Desa Bahenap, Kecamatan Kalis, Kabupaten Kapuas Hulu, menggotong warga bernama Nuryana yang telah sakit sekitar dua minggu untuk dirujuk ke RSUD Putussibau, Kamis (8/6). FACEBOOK SELVIANUS SALUDAN FOR RAKYAT KALBAR

PROKAL.CO, Luasnya teritori Kapuas Hulu membuat kabupaten paling ujung timur Kalbar itu sulit tersentuh pelayanan sosial dasar yang optimal. Terutama layanan kesehatan. Dari total luas wilayah Kabupaten Kapuas Hulu yang mencapai 3,1 juta hektar, sedikitnya 51,6 persen wilayah Kapuas Hulu masuk kawasan hutan, baik hutan lindung maupun konservasi.

Kemudian, sekitar 816.693.40 hektar merupakan kawasan Taman Nasional Betung Kerihun (TNBK) dan 127.393.4 hektar masuk kawasan Taman Nasional Danau Sentarum (TNDS). Belum hutan dan danau lindung lainnya. Jadi, lebih separuh dari total luas Kabupaten Kapuas Hulu masuk dalam kawasan hutan konservasi yang mekanisme pemanfaatannya harus melalui proses panjang ke pemerintah pusat melalui kementerian terkait. Termasuk lah hal pembangunan infrastruktur jalan, pendidikan, dan kesehatan.

Khusus problem melayani kesehatan masyarakat, pemerintah daerah (Pemda) Kapuas Hulu telah menempatkan petugas di setiap desa. Baik itu di Pustu maupun Poskesdes. Problem menghampiri ketika masyarakat mengalami gangguan kesehatan cukup serius yang mesti dirujuk ke tingkat pelayanan yang lebih tinggi seperti Puskesmas ataupun rumah sakit.

Di sisi lain, akses penghubung dari dusun dan desa menuju kecamatan terkendala infrastruktur rusak. Seperti ditulis Selvianus Saludan di akun Facebook-nya, Sabtu (10/5) pukul 16.12, yang diberi tajuk “Fenomena Sekitar”.

Selvianus menceritakan sulitnya warga Desa Bahenap, Kecamatan Kalis, mendapatkan pelayanan kesehatan ke level Puskesmas ataupun Rumah Sakit. Warga harus menempuh jarak puluhan kilometer dengan medan yang cukup berat.  “Ini bukan hoax apa lagi sekedar pencitraan, ini terjadi disekitar kita, dalam dua minggu terakhir saya sudah menjumpai dua kasus, dimana warga yang sakit harus digotong oleh warga untuk menuju desa terdekat dan selanjutnya baru dibawa menggunakan pickup maupun mobil,” tulisnya.

Kejadian tersebut, menurut dia, dialami warga Desa Bahenap. Masalah utama yang dihadapi masyarakat setempat adalah akses jalan menuju desa yang rusak.  “Secara jarak tempuh sebenarnya untuk menuju desa ini tidak terlalu jauh, jarak dari desa terdekat yaitu desa Kensuray hanya berkisar 12 kilometer, namun jalan yang berbukit dan rusak menjadi kendala utama. Kemudian jarak tempuh ke kota kecamatan sekitar 39 km, dan menuju Kota Kabupaten sekitar 57 kilometer,” terang Selvianus.

Masalah kedua adalah tidak tersedianya fasilitas Polindes di desa. Selain itu, hanya ada satu bidan di Desa Bahenap. Apabila warga yang sakit tidak mampu ditangani oleh bidan setempat, maka mesti dibawa ke RSUD Putussibau.

Lanjut Selvianus, keberadaan Desa Bahenap secara wilayah berada dalam kawasan hutan lindung, sehingga semakin mempersulit pembangunan di sana. Ia berharap pemerintah membuka mata terhadap pembangunan di wilayah tertinggal dan terpencil. Pembangunan pun dimintanya tidak hanya terfokus pada daerah–daerah tertentu. Seharusnya sampai ke pedalaman.

ANGGARAN TERBATAS

Dikonfirmasi, Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kapuas Hulu, dr. Harisson, Mkes. Ia menerangkan, Kementerian Kesehatan bersama Dinas Kesehatan Kapuas Hulu telah memiliki kebijakan Satu Desa Satu Fasilitas Pelayanan Kesehatan. Bentuknya bisa Puskesmas pembantu atau Poskesdes.

Untuk Desa Bahenap, lanjut dia, saat ini sudah ada Poskesdes dan petugas kesehatannya berupa seorang bidan. “Desa Bahenap terdiri dari tiga dusun yaitu Dusun Baberuk, Dusun Bahenap, dan Dusun Sepan Padang. Jarak dari Baberuk ke Bahenap sekitar 30 menit tetapi memang kondisi jalan penghubung belum bagitu baik,” ungkapnya, Minggu (11/6).

Diakui Harisson, tenaga kesehatan di Poskesdes atau Pustu memiliki keterbatasan dalam menangani kasus–kasus pasien yang berat, sehingga harus dirujuk ke Puskesmas di Ibukota kecamatan atau ke RSUD Putussibau. “Jadi tidak betul di sana tidak ada fasilitas pelayanan kesehatan. Kita sudah menyiapkan Poskesdes di tingkat desa,” terangnya.

Pasien saat itu, menurut dia, memang dibawa ke Desa Kensuray. Karena Desa Kensuray sudah ada jalan raya yang bisa diakses mobil. Selain itu, di Kensuray juga sudah ada Poskesdes dan tenaga bidan.

 “Puskesmas induk biasanya melakukan pelayanan kesehatan berupa kegiatan puskesmas keliling ke daerah–daerah sulit dan bidan selalu melakukan kegiatan Posyandu setiap bulannya ke daerah-daerah tersebut,” ujar Harisson.

Terkait penempatan tenaga kesehatan di setiap dusun, ia menyatakan, pihaknya belum mampu. Untuk memenuhi tenaga kesehatan perdesa saja masih kesulitan sehubungan dengan moratorium penerimaan tenaga CPNS. 

 “Saya harapkan agar Kepala Desa bisa mengalokasikan Dana Desa-nya untuk membangun Poskesdes atau Pustu di setiap dusun sesuai kebutuhan masyarakat. Dan memberikan dana operasional untuk membiayai tenaga kesehatan yang ditempatkan di desa atau dusunnya masing–masing. Jadi semacam tenaga kesehatan kontrak/magang yang dibiayai oleh desa,” saran dia.

Sebagai Kadis Kesehatan, ia prihatin dengan kondisi masyarakat yang masih sulit untuk mengakses pelayanan kesehatan. Yang bisa dilakukannya sekarang adalah terus berupaya agar kesulitan seperti itu bisa secara bertahap dihilangkan.

Hal tesebut, dikatakannya, tanggung jawab semua pihak. Dinas Kesehatan tidak bisa bekerja sendiri.

“Saya juga sangat menghargai dan berterima kasih kepada masyarakat di sana yang dengan semangat bergotong–royong membantu keluarga atau tetangganya yang sakit,” demikian Harisson. (Andreas, Rizka Nanda, Kapuas Hulu-Pontianak/rk)


BACA JUGA

Sabtu, 05 Agustus 2017 11:09

Banyak Lahan Gambut, Potensi Kebakaran Hutan dan Lahan Sangat Tinggi

 KUBU RAYA- Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan di Kalbar mulai merepotkan. Dari timur…

Selasa, 01 Agustus 2017 12:33

Cegah Wabah Rabies, Indonesia Kerja Sama dengan Malaysia

PONTIANAK- Dinas Pangan Peternakan dan Kesehatan Hewan Kalimantan Barat sudah menetapkan status tanggap…

Selasa, 01 Agustus 2017 12:26

Sudah 9 Nyawa Melayang Gara-Gara Rabies

SANGGAU- Kasus rabies sudah bikin khawatir. Di Kalbar sudah 620 kejadian selama 2017. Ketua Komisi D…

Minggu, 30 Juli 2017 12:59

KEJI..!! Usai Kabur dari Rutan Langsung Membunuh, Kepala Korban Diinjak-Injak sampai Tewas

BENGKAYANG- Masih ingat dengan kasus pembunuhan bos ayam bernama Desi Yuliana? Ya, pekan lalu Polres…

Minggu, 30 Juli 2017 12:51

UNIK NIH..!! Cabai Rawit Kok Rasanya Manis

MANDOR- Yang namanya cabai pasti rasanya pedas. Meskipun dengan level yang berbeda-beda. Namun ini aneh…

Sabtu, 29 Juli 2017 12:24

Operasi PETI, Bukan Hanya Pekerja yang Ditangkap

SANGGAU- Polres Sanggau meringkus tujuh pelaku Pertambangan Emas Tanpa Izin (PETI) di Kecamatan Sekayam,…

Sabtu, 29 Juli 2017 12:11

Speedboat yang Terbakar Itu Sejatinya Digunakan untuk Ini....

Dalam kebakaran speedboat yang parkir di Dermaga Sukadana itu, dua diantara 4 speedboat itu milik pengelola…

Sabtu, 29 Juli 2017 12:01

Tugboat Karam, Kemanakah Dua ABK-nya?

SAMBAS-  Tugboat Karya Baru terbalik dan tenggelam di muara Pemangkat, Senin (24/7). Dalam peristiwa…

Senin, 24 Juli 2017 10:48

Bawa Puluhan Drum Bensin, DUUARRR...!! Ucup Terkapar

MELAWI- Jumat (21/7) malam itu Sungai Melawi geger. Ledakan besar membuat warga terkaget-kaget. Ternyata,…

Rabu, 19 Juli 2017 12:00

Bengkayang Marak Aktivitas PETI, Alat Tambang Disita

BENGKAYANG-  Tak hanya menjadi pintu masuk barang ilegal dari Malaysia, Bengkayang juga menjadi…

LIHATLAH..!! Kota Sanggau Membara Dua Setengah Jam

Masih Ada Hotspot di Sintang, Ini Permintaan Bupati
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .